Menyangkal Kecewa Dengan Kata Ikhlas


Kecewa merupakan sifat alami manusia jika apa yang diterima tidak seperti yang diharapkan.
Kata mereka yang bijak, itu hal biasa jika masih dalam batas kewajaran dan tidak berlarut-larut.
Semua itu mudah diucapkan, tapi perlu tekad baja dalam pelaksanaannya.

Membunuh Kekecewaan Dengan Belajar Ikhlas dari Embun

Embun aja ikhlas muncul setiap pagi walau harus habis tak bersisa oleh panas dan goncangan.

Bagi seorang yang terbiasa jadi pendengar yang baik, tapi terbata-bata saat harus menceritakan perasaan terdalamnya, sangat mudah baginya menyangkal rasa kecewa dengan berbalut kata ikhlas dan ketaatan.

Tapi,, sampai kapan?

Tak ada tepi dan batasannya.

Rasa kecewa mendadak muncul ketika seseorang yang begitu dekat dan sangat diharapkan bisa menganalisa dengan baik tanpa perlu diceritakan, malah tak memahami apapun.

Dia tak mengetahui sosok yang diaku-aku sebagai gadis kecilnya dulu.

Sudah puluhan tahun ia tidak juga pernah mengerti secuil pun karakter si gadis.

Tidakkah dia paham, bahwa gadis kecilnya itu dari dulu tidak pernah mengucap kata tolong selagi masih bisa melakukan apa-apa sendiri.

Tidakkah dia sadar, bahwa jika si gadis meminta bantuan dengan tangan terpaksa berada di posisi bawah, itu sudah membuat si gadis susah menegakkan kepala. Ingin segera menyudahi semuanya, tapi apa daya, saat ini si gadis tidak punya keleluasaan.

Kalau bisa, si gadis akan berikan semuanya agar dia tak berprasangka.

Taukah dia saat membahas tentang rencananya menghapus rasa bosan dengan sebuah kata perjalanan, si gadis sedang panas dingin mengatur semuanya agar masih bisa bertahan hingga esok hari, sekaligus bisa menepati janji.

Tidakkah dia sadar bahwa gadis tidak pernah sekalipun menceritakan kegundahan hidupnya?

Pernah kah dia bertanya kepada dirinya, kenapa dia tidak berani meminta si gadis kembali?

Jika dia jujur, dia pasti menemukan jawaban bahwa dia tidak mempunyai ikatan emosi apapun dengan si gadis, walau dia jadi perantara keberadaan si gadis ada di dunia.

Sanggupkah dia menelan ludah, jika si gadis mempertanyakan ketiadaan ruang baginya kembali.

Dari awal, semua kenangan yang berhubungan dengan si gadis sudah dia cerabut tanpa sepatah ijin sebelumnya.

Sadarkah dia bahwa si gadis masih selalu muncul dihadapannya hingga saat ini hanya karena masih peduli akan sebuah kewajiban. Beruntung si gadis berada dilingkungan yang selalu mengingatkan jalan pulang.

Pernah satu ketika si gadis merasa tak sanggup untuk melanjutkan langkah dan perlu pegagangan tangan agar tetap berdiri kuat. Dengan ragu, si gadis mencoba meraih tangannya. Si gadis tidak memerlukan apapun, hanya genggaman menguatkan, itu sudah lebih dari cukup. Syukur-syukur bisa tersedu dalam pelukan yang menurut anak lain itu sangat menenangkan sebuah gundah.

Tapi, dia malah merespon si gadis dengan dingin, “itu pilihan mu sendiri.”

Dia tidak pernah bertanya sepatah pun alasan si gadis bisa menjatuhkan pilihan yang jauh dari dugaannya? Baginya saat itu, yang penting kelar sudah tugasnya menjaga si gadis dan tidak lagi akan menjadi perbincangan orang-orang.

Untung si gadis cepat ingat bahwa tidak seharusnya dia berkeluh kesah, kecuali pada-Nya.

Tidakkah dia ingat bahwa gadis kecilnya dahulu selalu dianggap orang sebagai bukan miliknya?

Pernah kah terpikir olehnya bahwa dengan sibuknya dia dengan dirinya sendiri, telah tertanam dalam pikiran si gadis bahwa keberadaannya bukan karena diinginkan, tapi hanya pelengkap sebuah hubungan.

Tahukah dia kejahatan emosi apa saja yang sudah dilalui gadisnya itu?

Dia hanya menganggap biasa saat gadis kecilnya yang sudah dewasa, setiap kembali masih saja takut akan lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan pernah sampai ngompol di usia yang tak pantas.

Tidak kah sekalipun terbersit dalam pikirannya bahwa gadisnya menyimpan sebuah trauma?

Seandainya dia tahu yang sebenarnya.
Seandainya si gadis mempertanyakan semua tanggung jawabnya sebagai pengawas kehidupan. Berharap saja dia tidak jantungan.

Tapi tak perlu cemas, si gadis sudah terlalu terbiasa membalut sebuah kekecewaan dengan kata ikhlas walau penuh keterpaksaan.

Tapi jangan paksa si gadis untuk berbasa basi jika tidak sedang ingin. Jangan usik dia dengan ucapan sombong dan tak peduli sesama. Tahu apa dia tentangnya?

***
Kepada kalian yang mempunyai seorang gadis kecil. Jagalah dalam pengawasan mata kalian. Jangan sampai mengalami pelecehan oleh orang-orang terdekatnya yang akan menghantuinya sepanjang hidup. Apapun yang dialaminya hingga usianya belum cukup mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri, itu tanggung jawab mu sebagai orang tua.

Untuk kamu yang pernah punya pengalaman tak mengenakkan sebagai seorang gadis. Hidupmu belum kiamat oleh itu. Belajarlah terus untuk memaafkan semuanya, walau sulit. Belajar menghilangkan trauma walau tak mudah, tapi harus dilakukan demi kesehatan jiwamu sendiri.

Percayalah, masih banyak orang-orang yang akan mencintaimu dengan tulus.

Iklan