Trauma Pelecehan Masa Kecil Jadi Mimpi Buruk Sepanjang Hidup


Rayi (bukan nama sebenarnya) sedang duduk di teras rumahnya yang teduh oleh rimbunnya daun pepohonan. Angin sepoai tidak mampu mengademkan rasa nyeri di hatinya. Dia tidak lagi muda, beberapa kerutan halus tidak lagi bisa disembunyikan dari wajahnya, terutama pada garis senyum dan sudut mata.

Akan tetapi, hingga seusia itu, Rayi tetap tidak bisa melupakan pelecehan seksual yang tanpa disadari sudah dialami pada usia dini.

Pelecehan yang dilakukan oleh orang terdekat, saudara sepupu laki-laki yang seharusnya menjadi salah satu pelindungnya.

Ketika ia menyadari apa yang dialaminya itu sebuah pelecehan seksual, bathinnya benar-benar terluka. Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa, untuk memberitahukan dan membagikan ketakukan yang akhirnya menjadi amarah dalam diam yang tak berkesudahan.

Luka bathin itu tidak pernah sembuh.

trauma pelecehan seksual masa kecil

Trauma itu terus menghantuinya hingga hari ini seperti mimpi buruk, membelenggunya sepanjang hidup. Malah dia sempat membathin, sepertinya rasa sakit ini tetap ada karena harus terus berbasa basi dengan saudara yang tidak ingin dilihat dan ditegurnya.


Rayi menyeruput kopi tanpa gula yang sudah tinggal separuh. Jemarinya menyentuh layar ponsel, berselancar untuk mengusir gelisah yang tiba-tiba menghampiri.

Mata Rayi membaca judul berita kematian seorang model Indonesia di luar negeri. Dia tidak pernah mendengar nama si model, tapi komen-komen yang ditinggalkan oleh fans si model membuatnya penasaran.

Ucapan duka itu disertai rasa kasihan, karena akhirnya langkah si model melawan trauma pelecehan seksual yang dilakukan si ayah kandung akhirnya berakhir.

Talenta yang dimiliki si model seperti sia-sia, sebab kakinya seperti terpasung, terikat tali tak terlihat. Membelenggunya untuk maju, bayangan ketakutan dari trauma masa lalu yang terus menghantui.

Ada rasa sakit di dada si model yang tak pernah bisa sembuh. Kondisi mental si model sudah terlalu terlambat untuk mencari pertolongan psikiater.

Menelusuri berita tersebut membuat ingatan Rayi kembali ke masa lalu.

Rayi dapat memahami trauma yang dialami si model. Betapa rasa sakit itu sangat susah dienyahkan.

Rayi pertama kali menyadari sudah mengalami pelecehan seksual saat kelas 1 SMP. Saat itu orang-orang di desanya dihebohkan oleh pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang duda pada seorang bocah kelas 1 SD.

Si duda juga memiliki seorang anak perempuan seusia Rayi yang tinggal bersamanya. Si duda dan anak perempuannya itu tinggal di tempat ibadah di desanya.

Bocah perempuan yang diperkosanya adalah anak dari keluarga yang sudah menganggap si duda dan anak perempuannya seperti keluarga sendiri.

Kejadian perkosaan itu seperti pepapatah, air susu dibalas air tuba. Membuat orang-orang di kampung marah besar, tapi untungnya tidak ada yang main hakim sendiri. Dicari jalan keluar dengan musyawarah, si duda dan anak perempuannya harus pergi meninggalkan kampung.

Saat itu, Rayi belum bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi. Tapi di dapur rumahnya ia melihat ibunya begitu shock saat mendengar kabar pemerkosaan tersebut. Tubuh sang ibu tampak bergetar menahan emosi yang campur aduk.

Melihat hal itu, dengan takut dan ragu Rayi menanyakan kondisi ibunya yang tampak sakit. Apa yang sebenarnya terjadi.

Ibunya hanya menjawab bahwa hari ini masa depan seorang gadis kecil sudah terenggut secara paksa oleh seorang lelaki yang pikirannya ditutupi oleh godaan nafsu. Kehormatan si gadis harusnya nanti diberikan pada lelaki yang menikahinya.

Semoga gadis kecil yang naas itu tidak mengalami trauma berkepanjangan. Dan bila sudah tiba waktunya, setelah si bocah dewasa, ada lelaki baik yang mau mempersuntingnya untuk dijadikan istri. Menerima dengan tanpa mengungkit-ungkit apa yang dialami si gadis.

Mendengar jawaban dan melihat kondisi ibunya, lamat-lamat dipikiran Rayi melintas apa yang pernah dialaminya dulu, saat usianya sudah mampu mengingat sebuah peristiwa. Kejadiannya mirip tapi tak sama.

Saat itu, saudara sepupu laki-laki yang seharusnya menjaganya dengan mengajak bermain. Malah setelah melakukannya bilang itu hanya salah satu permainan tindih-tindihan, tapi permainan itu tidak boleh diceritakan pada orang lain, hanya menjadi rahasia mereka.

Menghubungkan situasi perkosaan yang heboh dengan kejadian yang mirip, yang pernah dialaminya, membuat Rayi merasa mual, jijik pada dirinya yang merasa telah dibodohi saudara sendiri. Ia sangat marah pada anggota keluarga yang ternyata juga bajingan.

Rayi saat itu sebenarnya perlu tempat bercerita. Tapi, melihat kondisi ibunya yang mendengar anak orang lain mengalami pelecahan sudah seperti itu, bagaimana kalau ditambah mendengar apa yang dialami anaknya sendiri. Rayi takut ibunya akan semakin kaget, tidak menerima informasi yang didengar, dan menyalahkan Rayi atas apa yang dialaminya. Dia akan dipandang sebagai pesakitan sepanjang hidupnya.

Rayi yang masih anak-anak menangis dalam diam, dia merasa keluarga tidak mampu melindunginya.

Entah karena terlalu shock dengan kenyataan yang baru disadarinya, Rayi justru melupakan apa yang sudah dialaminya. Hanya sifatnya yang berubah drastis, Rayi yang awalnya periang dan senang bermain, mendadak jadi pendiam dan penakut kalau di rumah sendirian.

Padahal, saat Rayi menyadari bahwa dia mengalami pelecehan seksual saat kecil, saudara lelaki yang melakukannya sudah tidak tinggal di kampung, sudah merantau. Tapi Rayi tetap mempunyai ketakutan.

Keluarga tidak ada yang menyadari perubahan sifatnya. Dianggapnya sifat penakut Rayi hanya karena sikap ingin diperhatikan dan dimanja. Padahal, Rayi kalau lagi tidur dan dibangunkan tanda suara, langsung badannya mau disentuh pelan, belum tersentuh, Rayi akan terbangun dengan terlonjak kaget. Tapi keanehan itu terabaikan.

Waktu terus berlalu, pikiran Rayi melupakan apa yang sudah dialaminya, tapi tubuhnya jadi mudah sakit.

Rayi juga tetap bisa berbaik-baik dengan saudara laki-laki predator yang sudah berkeluarga.

Sementara itu bocah korban pemerkosaan yang kasusnya heboh, tumbuh dengan mental yang baik. Karena recovery oleh lingkungan. Sementara Rayi tidak tahu harus mulai mengadu pada siapa. Yang Rayi tahu, apa yang dialaminya merupakan sebuah aib.

Bocah perempuan yang mengalami perkosaan juga sudah menikah dengan lelaki yang dicintai dan mencintainya.

Saat masuk usia menikah, Rayi mulai ditanya-tanya keluarga. Karena tidak juga tampak tanda-tanda mau terikat, keluarga mulai menjodoh-jodohkannya.

Rayi mulai bingung sendiri dengan dirinya. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Lelaki yang mendekatinya, atau yang dijodohkan dengannya adalah lelaki baik. Tapi Rayi merasa ketakutan sendiri, merasa tidak pantas sendiri. Rayi begitu takut dengan kata pernikahan.

Hingga suatu malam, mungkin karena stres oleh permintaan segera menikah dari keluarga, Rayi bermimpi. Hari dimana dia begitu shock saat menyadari telah mengalami pelecahan seksual saat kecil, serta kejadian yang sudah dialaminya. Rayi terbangun dengan bercucuran keringat dan air mata.

Rayi yang sudah dianggap perawan tua di kampung, teringat kembali dengan penyebab luka bathin yang dialami, yang selama ini ternyata coba ia kubur dialam bawah sadarnya.

Mulai saat itu, Rayi menolak semua perjodohan, dan berusaha menghindar dari berurusan dengan sepupu lelakinya.

Tapi, entah cobaan untuk Rayi, si sepupu lelaki tanpa merasa bersalah, selalu saja berada di seputaran hidup Rayi.

Rayi yang menjaga jarak demi kesembuhan luka bathinnya, malah dianggap sosok yang sombong, sosok yang terlalu pilih-pilih oleh keluarga besar.

Rayi ingin berteriak pada keluarga besarnya, “aku tidak ingin kalian ikut terluka dengan apa yang sudah terjadi padaku di masa lalu. Tolong biarkan aku hidup dengan tenang. Aku mema’afkan saudaraku yang bejat, yang mungkin saat itu juga khilaf, walau usianya sudah cukup dewasa untuk mengetahui perbuatannya. Tapi jangan suruh aku beramah tamah dengannya, atau hidup seperti yang kalian sarankan. Dulu waktu aku kecil seharusnya kalian menjagaku. Sekarang aku manjauh untuk menjaga mulutku agar tak mengeluarkan kata-kata kasar padanya dan kalian.”

Lamunan Rayi disentakkan oleh suara yang memanggil namanya. Suara lelaki yang kini menjadi suaminya.

Berita kematian model yang dibacanya semakin membuka kesadaran Rayi, banyak anak perempuan di luar sana yang masa kecilnya juga mengalami pelecehan oleh orang terdekatnya.

Ada yang berhasil melewatinya seperti sosok Oprah Winfrey. Tapi tak sedikit yang akhirnya menyerah seperti si model. Atau seperti diri Rayi yang masih saja merasa kesakitan sepanjang usianya.


Saat ini Rayi sudah menikah dengan lelaki pilihannya, lelaki yang dikirim Tuhan menjadi jodohnya. Lelaki biasa yang tanpa sengaja menyapa hidupnya, lelaki biasa yang menghormatinya sebagai pribadi.

Lelaki sederhana yang sepakat dengan permintaan Rayi untuk hidup tanpa anak. Selain karena usia yang sudah telat, juga Rayi merasa ga mampu menjadi orangtua sebab ia merasa ga pernah selesai dengan emosinya yang labil.

Lelaki biasa yang juga tidak mempertanyakan, kenapa Rayi yang sudah tertidur lelap, jika coba didekati tanpa suara, malah terlonjak kaget dengan napas ketakutan.

Lelaki itu hanya menjaga Rayi dengan tidak mengulangi cara membangunkan Rayi seperti itu lagi. Lelaki itu mengatakan pada Rayi, apapun yang menjadi penyebab Rayi seperti itu, lupakan dan ma’afkan, karena yang tersiksa hanyalah diri Rayi sendiri. Jalanilah hidup saat ini, lepaskan ketakutan masa lalu itu. Rayi berhak bahagia.

Perlahan, Rayi bisa berdamai dengan trauma pelecehan masa kecil yang dialaminya.

Tapi, sejujurnya, hingga puluhan tahun berlalu, semenjak mimpi itu datang, dia ga pernah lupa lagi. Rasa sakit itu tetap ada, tapi dia bisa mengatasinya.

Rayi tidak lagi menyalahkan dirinya yang merasa dibodohi, tidak kecewa lagi pada keluarga yang tidak mampu menjaganya.

Atau, mungkin rasa lega yang dirasakan Rayi juga dipengaruhi karena saudara lelaki yang menyebabkan penderitaannya selama ini sudah berpulang? Dan si saudara sebelum meninggal sempat mengalami sakit yang lumayan parah. Bisa jadi beban di dada Rayi berkurang karena Rayi tidak perlu berbasa-basi dengan hati merutuk. Entahlah.


Kisah yang dialami Rayi di atas banyak terjadi di sekitar. Tatap kuat untuk Rayi-Rayi di luar sana.
Berdamailah dengan masa lalu yang menyakitkan itu, sehingga saat dia mencoba menyapa bathinmu dengan wujud lain, kau tidak akan terguncang, hanya terusik sebenatr. Setelah itu biarkan dia berlalu.

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.