Sebuah Catatan : Perbedaan Makhluk Tuhan dan Hamba Allah


Sebuah catatan dari kegiatan memperingati Isra’ Mi’raj 1438H di masjid Rabiatul Adawiyah yang seharusnya sudah dituliskan di awal-awal bulan April kemarin.

Tema yang diangkat adalah “Kita Tingkatkan Sholat Berjama’ah untuk Membentuk Pribadi yang Disiplin dan Istiqamah”.

Peringatan Isra Mi'raj 1438H Masjid Rabiatul Adawiyah

Acara dimeriahkan bazar, tim marawis dan tausiyah oleh Alhabib Muhammad Bagir Bin Alwi bin Yahya. Masih muda, kelahiran 1988, katanya. Jika ingin tahu detail sosok Alhabib ini, silahkan gooling aja ya :mrgreen: .

Selain membahas tentang sejarah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, juga disinggung tentang banyaknya pro kontra tentang kegiatan memperingati Isra’ Mi’raj ini.

Banyak yang mem-bid’ah-kan kegiatan tersebut.

Dari apa yang saya tangkap, Alhabib menyampaikan bahwa yang memperingati kegiatan tersebut, tujuannya untuk mengingat pesan perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Memang tidak ada dikerjakan dijaman Nabi, tapi tidak ada salahnya dilakukan saat ini agar generasi berikutnya tetap mengetahui kisah tersebut.

Untuk urusan bid’ah ini, biar yang lebih berilmu, yang lebih memahami, yang memberikan dalilnya.

Kalo bagi saya pribadi, selagi tujuannya baik dan tidak berlebihan, tidak mengkultuskan. Kenapa tidak?
Bukankah kita harus saling bergandengan tangan agar bisa saling menguatkan?

Yang menjadi catatan menarik bagi saya pribadi dalam tausiyah kegiatan itu adalah tentang perbedaan makhluk Tuhan dan Hamba Allah.

Makhluk adalah semua ciptaan Allah.
Tapi, tidak semua makhluk merupakan hamba Allah.

Sedangkan hamba Allah adalah makhluk yang ridho akan ketentuan Allah. Yang yakin akan rahmat Allah. Yang percaya bahwa apapun ujian pasti ada hikmahnya. Selalu bersyukur dengan beribadah kepada Allah.

Makanya, setan juga makhluk Allah, tapi bukan hamba Allah. Karena ia mempertanyakan ketentuan Allah dan ingkar.

Kita, *khususnya saya yang merasa sangat tersentil* masih dalam taraf suka mengaku-ngaku sebagai hamba Allah.

Aktualnya masih sangat-sangat jauh.

Contoh kecilnya dalam urusan sumbangan sosial, tapi nominalnya tidak terlalu besar dalam kaca mata manusia, maka dalam situasi seperti itu, kita sering mengatasnamakan hamba Allah.

Tapi kalo bisa membesarkan ‘nama pribadi’ maka berita itu akan disebarkan seluas-luasnya dengan dalih untuk mengetuk pintu-pintu hati yang masih enggan untuk berbagi.

Duh!

Riya dan ikhlas itu hanya dibedakan oleh niat yang hanya diketahui oleh nurani masing-masing.

***

Sebuah Catatan YSalma Tentang Perbedaan Makhluk dan Hamba

Maksudnya sih biar ada bukti otentik kalau ikut hadir di acaranya. Sekalian biar terlihat kekinian. Ternyata bakat narsisnya perlu diasah lagi 😆

Sekali lagi, dengan menghadiri acara ini, saya kembali diingatkan bahwa tidak bisa menjatuhkan penilaian pada seseorang yang tidak dikenal dengan baik. Hanya berdasarkan penampilan luar yang diperlihatkan.

Bahkan, yang seseorang dikira sudah akrab, ternyata masih menyimpan banyak wajah yang tak dikenali.

Pribadi yang terlihat tenang, ternyata menyimpan keliaran yang coba dikendalikan.
Sebaliknya, sosok yang terkesan nakal, kadang menetapkan aturan batasan pada dirinya yang tak boleh dilanggar.
Yang ideal sih, apa yang ditampilkan, itulah sosok sebenarnya. Tapi kita kan manusia, bukan malaikat *alasen*.

***
Aku, hanya manusia biasa yang penuh dengan khilaf dan alpa, yang masih terus berbenah melawan godaan terberat, diri sendiri.

Kamu, mungkin salah satu manusia terbaik yang tidak pernah berada diarea abu-abu, selalu ingat benar dan salah. Bersyukurlah.

Tolong jangan pernah bosan untuk mengingatkanku agar selalu berada dijalan yang seharusnya.

Tapi, jangan suka menghakimi, lakukanlah dengan penuh kelembutan dan tindakan nyata.
Sebab, pikiranlah yang paling susah ditundukkan untuk tidak mempertanyakan sebuah niat yang diuraikan dalam kata-kata.

Mari sama-sama belajar tanpa merasa yang paling benar 😳 .

. ❤ .

Iklan