Menyangkal Kecewa Dengan Kata Ikhlas

Kecewa merupakan sifat alami yang dirasakan manusia, muncul jika situasi yang diterima atau dapatkan tidak seperti yang diharapkan. Menurut mereka yang bijak, itu hal biasa, tentu saja jika semua masih dalam batas kewajaran dan tidak berlarut-larut. Akan tetapi semua itu mudah diucapkan, tapi perlu tekad kuat dalam pelaksanaannya.

Jika sampai mengganggu kesehatan dan hubungan sosial lain yang akan terus dilalui sepanjang sisa kehidupan, maka perlu mencari bantuan pihak ketiga, yang dipercaya bisa menolong untuk menetralisirnya.

Cara paling mudah mengatasi rasa kecewa secara mandiri adalah dengan ‘belajar’ dari kemunculan tetesan embun. Embun ikhlas muncul hanya sesaat setiap pagi, proses terbentuknya juga dari dinginnya dinihari. Setelah itu, dalam perjalanannya malah harus habis tak bersisa oleh terik matahari dan sedikit goncangan. Tapi, dalam setiap kemunculannya yang singkat di manapun tempatnya, embun tetap bening danΒ  menyegarkan yang menyentuhnya.

Membunuh Kekecewaan Dengan Belajar Ikhlas dari Embun
Filosopi embun yang selalu menyejukkan.

Rasa Kecewa Bagian dari Perjalanan Hidup

Bagi seseorang yang terbiasa jadi pendengar yang baik, tapi terbata-bata saat harus menceritakan perasaan terdalamnya, mengutarakan rasa gundah yang menyelinap tanpa izin di relung hati. Maka sangat mudah baginya menyangkal respon dari luar dirinya yang membuat rasa kecewa itu dengan berbalut kata ikhlas, ketaatan, dan kepatuhan. Klise, tapi harus dijalani.

Tapi,,, sampai kapan?

Tak ada tepi dan batasannya. Selama usia.

Terkadang, rasa kecewa muncul secara mendadak, ketika seseorang yang begitu dekat, mempunyai ikatan yang tak bisa diputus oleh apapun di dunia ini dan sangat diharapkan bisa menganalisa dengan baik, tanpa perlu diceritakan, malah tak memahami apapun.

Seperti dilema dua orang perempuan yang terjebak dalam hubungan ibu dan anak.

***
Dia tak mengetahui sosok yang diaku-aku sebagai gadis kecilnya dulu.

Sudah puluhan tahun, dia tidak juga pernah mengerti secuil pun karakter si gadis.

Tidakkah dia paham bahwa gadis kecilnya itu dari dulu, tidak pernah mengucap kata tolong padanya selagi masih bisa melakukan apa-apa sendiri.

Tidakkah dia sadar, bahwa jika si gadis meminta bantuan, dengan tangan terpaksa berada di posisi bawah, hal itu akan membuat si gadis susah menegakkan kepala. Gadis ingin segera menyudahi semuanya. Tapi apa daya, dalam situasi itu si gadis sedang tidak punya keleluasaan.

Kalau bisa, si gadis akan berikan semuanya, agar dia tak perlu mendengar semua prasangka lagi. Praduga yang seharusnya dibiarkan lewat, tanpa perlu dikonfrimasi yang justru membuat hubungan semakin terasa melelahkan.

Tahukah dia, saat membahas tentang rencananya menghapus rasa bosan dengan sebuah kata perjalanan, si gadis sedang panas dingin mengatur semuanya, agar masih bisa bertahan hingga esok hari, sekaligus bisa menepati janji.

Tidakkah dia menyadari bahwa gadis tidak pernah sekalipun menceritakan kegundahan hidupnya?

Pernahkah dia bertanya kepada dirinya barang sekali, kenapa dia tidak berani meminta si gadis untuk kembali, menetap di dekatnya?

Mungkin jika dia jujur, dia pasti sudah menemukan jawabannya, bahwa dia tidak mempunyai ikatan emosi apapun dengan si gadis. Walaupun dia jadi perantara keberadaan si gadis ada di dunia ini.

Akan sanggupkah dia menelan ludah, jika si gadis mempertanyakan ketiadaan ruang baginya kembali.

Dari awal, semua kenangan yang berhubungan dengan si gadis sudah dia cerabut tanpa sepatah ijin sebelumnya.

Sadarkah dia, bahwa si gadis masih selalu muncul dihadapannya hingga saat ini, hanya karena alasan peduli akan sebuah kewajiban. Beruntung, si gadis berada dilingkungan yang selalu mengingatkannya jalan pulang.

Ingatkah dia pada satu momen saat si gadis merasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan langkah, dan perlu pegagangan tangan agar tetap bisa berdiri.

Dengan ragu, si gadis mencoba meraih tangannya. Si gadis tidak memerlukan apapun, hanya genggaman menguatkan, itu sudah lebih dari cukup. Syukur-syukur bisa tersedu dalam pelukan, yang menurut anak lain itu sangat ampuh menenangkan sebuah gundah.

Tapi, dia malah merespon si gadis dengan kata dingin, “itu pilihanmu sendiri.”

Dia tidak pernah bertanya alasan si gadis bisa menjatuhkan pilihan yang jauh dari dugaannya? Baginya, saat pilihan itu dimunculkan, cukup disetujui saja, maka tugasnya menjaga si gadis selesai sudah. Telingannya tak perlu lagi mendengar bisik-bisik, perbincangan orang-orang yang coba membuat kesimpulan berdasarkan apa yang dilihat mata tentang gadis.

Untung, saat si gadis tak berhasil menggenggam tangannya, gadis cepat tersadar bahwa tidak seharusnya berkeluh kesah, kecuali pada-Nya. Tetap menjaga jarak, maka ikatan itu tetap utuh, tidak hangat tapi tetap terhubung.

Dia bersikeras bahwa dia seorang ibu yang pernah bertarung nyawa dalam proses melahirkan. Padahal tak ada yang membantah itu.

Tapi dia lupa, yang dilahirkannya itu manusia yang punya rasa dan ingatan yang menyimpan semua proses tumbuh yang dilaluinya.

Dia mengabaikan fakta bahwa gadis kecilnya dari dahulu selalu dianggap sebagai bukan miliknya? Selalu dianggap anak orang lain, karena minimnya sentuhan tangannya dari orok.

Pernahkah terpikir olehnya, bahwa dengan sibuknya dia dengan rasa dan dirinya sendiri yang tak pernah selesai, membawa dampak pada pertumbuhan jiwa yang dibawa-bawa dalam pertunya selama sembilan bulan itu.

Tanpa dia sadari, telah tertanam dalam pikiran si gadis bahwa keberadaannya bukan karena diinginkan, tapi hanya pelengkap sebuah hubungan.

Tahukah dia, kejahatan emosi apa saja yang sudah dilalui gadis kecilnya itu?

Dia tetap hanya menganggap biasa tanda tak biasa yang terpampang di depan matanya. Saat gadis kecilnya yang sudah dewasa, setiap kembali,Β  masih saja takut akan lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan terkadang masih saja mengompol diusia yang tak sepantasnya.

Tidakkah sekalipun terbersit dalam pikirannya, bahwa gadisnya menyimpan sebuah trauma?

Seandainya dia tahu yang sebenarnya.
Seandainya si gadis mempertanyakan semua tanggungjawabnya sebagai pengawas kehidupan. Berharap saja itu tidak akan membuat dia jantungan.

Tapi, tak perlu cemas, si gadis sudah terlalu terbiasa membalut sebuah kekecewaan dengan kata ikhlas, walau tertatih.

Tapi, tolong jangan paksa si gadis untuk berbasa basi jika tidak sedang ingin. Jangan usik dengan ucapan sombong dan tak peduli sesama. Tahu apa dia saat perbincangan itu dimunculkan, usaha apa yang harus dilakukan si gadis agar kata-kata yang terdengar tak menyakiti kuping, atau membuat berdarah lagi luka hati yang belum benar-benar sembuh.

***
Kepada kalian yang mempunyai seorang gadis kecil. Jagalah dalam pengawasan mata kalian. Jangan sampai mengalami pelecehan oleh orang-orang terdekatnya, baik secara fisik maupun verbal, yang jika tak tertangani dengan baik bisa menghantuinya sepanjang hidup. Apapun yang dialami gadis kecilmu, hingga usianya belum cukup mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri, itu tanggung jawabmu sebagai orangtua.

Untuk kamu yang pernah punya pengalaman tak mengenakkan sebagai seorang gadis kcil. Hidupmu belum kiamat oleh itu. Belajarlah terus untuk memaafkan semuanya, walau sulit. Belajar menghilangkan trauma walau tak mudah, tapi harus dilakukan demi kesehatan jiwamu sendiri, bukan untuk orang lain. Percayalah, masih banyak orang-orang yang akan mencintai keberadaanmu dengan tulus.

16 comments

  1. Aku punya gadis kecil mbak salma. Dan terima kasih untuk postingannya. Terkadang memang saya menuntut gadis kecil saya bertingkah manis seperti yang diharapkan banyak orang. Ramah pada semua orang. Dan rasanya agak gimana gitu kalo ada yang bilang anak gadis saya itu sombong. Tanpa saya sadari, sebenarnya apa yang saya lakukan justru tidak disukai anak gadis saya. Dia merasa seperti teedikte. Ah, sepertinya saya harus kembali ke tugas awal, pengawas. Mengawasi dia kalau melenceng dari norma yang berlaku tanpa memaksa dia berlaku seperti orang lain

    Disukai oleh 1 orang

    • Sama-sama mba dokter Liza. Kita juga mantan gadis kecil. Banyak yang sudah dialami, tapi pastinya sangat jauh berbeda dengan gadis kecil masa kini yaa.
      Gadis kecil sekarang harusnya menyuarakan keberatannya kalau dia tidak suka, kalau manut aja, justru jadi pertanyaan sekarang ini ya.
      Yakin, gadis kecilnya mba Liza bangga dengan bunda dan dirinya πŸ™‚ .

      Suka

        • Betul.
          Tapi, anak sekarang kesannya suka dianggap ‘kurang sopan’ sama angkatan segelintir kakek nenek yg kurang memahami ya.
          Sebenarnya anak2 sekarang kalau terbiasa dgn dirinya sendiri, mereka akan sangat mudah menyesuaikan dengan lingkungan yg dilihanya. Saatnya sungkem ya sungkem, permisi dan lainnya.

          Suka

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma…

    Sangat mengesani hati saya setiap baik kata dari tulisan mbak di atas. Sebagai ibu yang masih punya gadis kecil, saya tidak terlepas dari kondisi memaksa tersebut. Untungnya anak-anak saya suka berterus terang dan ini bisa menjadikan saya dapat membaiki diri sendiri. Saya selalu rasa bersalah kalau membuat anak-anak tidak keruan hatinya.

    Kalau dengan Emak saya di zaman saya kecil, tidak ada ruang untuk saya berbicara sesuka hati bagi membahaskan hal yang tidak saya sukai. Namun saya ikhlas dengan apa yang dilakukan beliau kerana saya tahu Emak sayangkan saya.

    Terima kasih sudah mengingatkan kembali pengawasan kita harus penuh kasih sayang yang sesuai mengikut ajaran agama.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    Suka

    • Waalaikummussalam bunda, Fatimah.
      Beruntung anak sekarang terbiasa mengutarakan pendapat mereka ya, sehingga kita tahu bahwa tanpa sadar sudah membuat mereka ga nyaman.
      Beda jaman, sedikit beda penerapan ruang komunikasi ibu dan anak.
      Salam hangat kembali bunda πŸ™‚ .

      Suka

  3. Terima kasih Uni yg mengingatkan betapa berharganya jalinan rasa jiwa. Benar setiap kita mantan gadis cilik yg dianugerahi gadis dan pemuda cilik ya. Salam

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Liza Fathia Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.