Butuh Pengakuan Diri? Lakukanlah Tapi Jangan Salahkan Dogma


Kamu ingin eksis dan masih butuh pengakuan terhadap diri dari lingkungan. Lakukan saja, itu hal wajar, bagian dari sifat sosial manusia. Tapi, jika ada sedikit kritikan, masukan, tolong jangan salahkan dogma.

Kurang elok.

Apalagi bagi yang sudah bukan anak baru gede.
Tinggal menjawab kritikan itu dengan mengasih alasan yang tidak perlu mengundang sebuah polemik.

Dan untuk yang memberi kritik dengan alasan sayang, bisa dengan menggunakan pendekatan personal. Jangan memberi kesan bahwa diri sudah yang paling benar.

Sebab, pribadi manapun, akan langsung bersiaga saat ada yang mempertanyakan apa yang diperbuatnya. Bahkan ada yang langsung membuat pertahanan dan pembenaran, bahkan melakukan serangan balik, tanpa mau melihat poin yang disampaikan.

Pengakuan Diri

Apa Contoh Kasus Butuh Pengakuan Diri, Tapi Secara Tidak Langsung Sering Menyalahkan Dogma?

Kaum hawa yang sudah menggunakan hijab, tapi masih mau eksis dengan penampilan terkini tanpa penutup kepala di media sosial.

Memangnya itu salah?

Kalau kata mereka yang paham dalil. Dengan tanpa ragu akan menjawab, “ya.” Tak ada dispensasi untuk sebuah kebenaran yang menyuruh beragama secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.

Bagaimana pendapat YSalma?
Dimaklumi, masih belajar 😳 .

Bisa begitu?
Bisa. Apalagi kebiasaan di daerah saya, para emak-emak menggunakan sarung dan selendang sebagai penutup kepala sebagai pakaian harian.

Nah, para emak-emak itu akan heboh protes kalau melihat anak perempuan yang sudah punya anak, sudah usia matang, tapi saat bepergian tidak menggunakan penutup kepala alias kerudung.

Padahal, penutup kepala (selendang) para emak yang protes itu, hanya ditaroh di puncak kepalanya. Rambut, leher, dada, masih kemana-mana :mrgreen: .

Masalah utama yang diprotes para emak-emak itu hanya soal ‘kepantasan’ bukan penekanan pada kewajiban seorang muslimah dalam menjadi wanita sholiha. Jadi, masih sebatas penampilan dimata orang lain.

Saya sendiri termasuk dalam barisan anak yang lumayan alot saat diminta untuk menggunakan hijab dengan alasan, “saya akan menjilbabkan hati dulu sebelum menggunakan jilbab fisik.”

Padahal, lingkup pertemanan di dominasi oleh hijaber. Bahkan seorang sahabat yang mengenal rutinitas saya, karena sayangnya, tidak berani meminta langsung, tapi memberitahu secara halus dengan memberikan kado sebuah jilbab saat saya ultah. Dasar saya badung, hatinya masih belum tersentuh πŸ˜₯ .

Percayalah. Ada masanya hati itu akan terbuka dengan sendirinya.

Ceritanya ada di tulisan wanita shaliha dipertanyakan seorang anak.

Sekarang pun saya masih sangat perlu belajar banyak. Saya masih nyaman dengan celana, masih belum bisa menggunakan hijab syar’i selain ke tempat majelis ilmu. Masih menggunakan celana pendek di rumah dan serabutan nyari ‘baju’ saat ada tamu, serta banyak kekurangan lainnya kalau disebutkan.

Padahal, secara usia sudah lampu kuning dan juga sudah khatam bahwa hidayah itu tidak ditunggu, tapi dicari dan diusahakan. Beragama itu harus secara kaffah.

Tapi, satu yang bisa saya pastikan bahwa saat ada yang mempertanyakan saya yang masih jalan ditempat. Saya tidak pernah menyalahkan dogma, saya selalu bilang bahwa saya memang masih payah dalam belajar.

Sehingga, saat ada teman-teman saya yang cantik, yang ditanya oleh teman medsosnya tentang kenapa masih suka memajang foto tanpa hijab. Tapi jawabannya malah, “saya bukan orang yang munafik, apa adanya, tidak bersembunyi dibalik kerudung, tidak menggunakan hijab sebagai topeng, bla-bla.”

Saya jadi sedih membaca komen-komen itu.

Kesannya saya dan teman-teman yang masih belajar itu mengggugat mereka yang sedang berusaha menerapkan kewajiban yang diperintahkan secara sungguh-sungguh.

Yang bertanya dan yang ditanya merasa yang paling benar. Yang salah siapa? Agama begitu? Malu ahhh.

Mungkin lebih elok kalau jawabannya, “lagi ingin narsis aja tanpa kerudung.”

Ga usah menggunakan kalimat bersayap, “bukan orang munafik dan lain-lainnya itu.”

Bagaimanapun, saat kita sudah memilih hijab sebagai pakaian, maka suka tidak suka, orang akan melihat kita dengan mengaitkan pada keyakinan yang kita anut.

Dan mereka yang merasa ‘peduli’ tentunya akan mempertanyakan ketidak konsistenan kita. Terlepas dari tulus tidak niatnya mengingatkan.

Jika kita masih kurang dalam pelaksanaan, ga perlu juga menyinggung yang sudah konsisten dengan mengungkit-ngungkit kekurangannya.

Bukankah masing-masing kita hanya mempertanggungjawabkan apa yang menjadi kewajiban kita?

Jadi, saat kita masih butuh sebuah pengakuan terhadap keelokan diri dalam balutan pakaian tanpa hijab, cukup beri alasan bahwa kita memang masih belajar. Urusan kelar.

Orang lain akan maklum. Narsis lanjut, yang melihat foto narsis kita akan ikutan senyum tanpa jidat berkerut 😳 .

YSalma masih perlu pengakuan diri?

Pengakuan untuk mengasah ketrampilan yang disukai, itu mah termasuk penyemangat 😳 . Apalagi saya punya wadah untuk eksis di beberapa medsos, hanya narsisnya yang perlu diasah πŸ˜† *perlu pengarah gaya agar fotonya ala-ala model gitu. Teman fotografer kapan mau jadi sukarelawan untuk memotret model kematengan amatiran ini? ❀ *.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu (Ali bin Abi Thalib).

Iklan