Berhenti Iseng (Becanda) Sebelum Itu Menjadi Tak Lucu Lagi


Becanda iseng bersama teman itu bagian dari sebuah keakraban yang bisa memecahkan suasana menjadi penuh tawa. Tapi, diam, minta ma’af dengan jujur saat salah satu dari kalian sudah menunjukkan wajah panik atau merasa tak nyaman. Itu sangat bijak!

Berhentilah becanda iseng sebelum itu menjadi hal yang tak lucu lagi!

Apalagi jika ujung dari becanda iseng itu juga berimbas pada orang lain, sosok yang harusnya kalian hormati dan hargai seperti guru, wali kelas, dan tentu saja orangtua. Itu udah ga asyik!

Jangan becanda iseng kelewatan & merugikan

Senin, 4 November 2019 kemarin, seperti biasa saya berangkat menjemput anak remaja pulang sekolah. Saya jalan sudah mendekati jam dia keluar sekolah menurut jadwal hari itu.

Sebelum jalan, saya lihat di WA dia online tapi ga memberi kabar. Saya berpikir positif, mungkin anaknya online saat itu lagi ngelihat info grup sekolah.

Saya sebagai emak berinisiatif memberitahunya kalau mau jalan menjemput.

Sesampai di gerbang sekolah, terdengar suara adzan Ashar berkumandang dari dalam area sekolah. Ada anak-anak yang sudah keluar dari gerbang sekolah, tapi anak remaja belum kelihatan.

“Mungkin anak kelas X wajib sholat di sekolah dulu sebelum pulang”.

Saya pun menunggu tidak begitu jauh dari gerbang sekolah.

Shalat Ashar sudah lumayan lama usai, anak-anak yang keluar gerbang sudah sepi. Bahkan guru-guru satu dua orang sudah mulai meninggalkan sekolah. Anak remaja belum juga nongol, WA saya juga belum dibalas. Saya WA lagi menanyakan keberadaannya. Masuk, tapi ga ada respon.

Saya masih berpikir positif.

“Hmm,, mungkin lagi pada ngeriung sama teman-temannya membahas jadi tidaknya mau nonton ke bioskop”.

Beberapa hari sebelumnya, anak remaja memang mengajak saya menemaninya nonton, tapi saya kurang tertarik dengan film yang mau dia tonton. Mendapat respon ketidaktertarikan saya, dia minta ijin, mungkin hari Senin dia nonton sama teman-teman sekolahnya aja.

Ketika saya mulai gelisah menunggu, tampak wajah anak remaja melongok dari gerbang sekolah. Ia melambai, mengisyaratkan agar saya mendekat.

Saya mendekat dan memilih menghentikan motor di seberang gerbang sekolah yang terbuka. Tampak nak remaja dan beberapa temannya bergerombol. Wajah-wajah itu gelisah dan tidak bersemangat.

Saya masih berpikir bahwa mereka belum sepakat tentang rencana nonton film ke bioskop.

Saya memilih menunggu.

Tetiba, anak remaja memanggil. Saya menoleh ke arahnya, dari gerak bibirnya terbaca kalimat, “hp-ku hilang di kelas”, dengan wajah bersalah.

Awalnya saya tidak berniat terlibat dalam penyelesaian kasus yang dialami anak remaja. Pasti ada temannya yang iseng. Saya hanya bilang, “sudah kasih tahu guru?”

Anaknya mengangguk, tapi wajahnya agak gimana.

Karena saya perhatikan mereka hanya bergerombol dan berbisik-bisik, saya memutuskan masuk ke area sekolah dan mencari tahu apa yang terjadi.

Anak remaja mengatakan bahwa saat jam pelajaran terakhir, guru yang mengajar sudah di dalam kelas, tapi pelajaran belum dimulai.

Saat itu, karena dia merasa sedikit agak jenuh, dia menaroh kepala (jidat) di meja dengan beralaskan tangannya yang terlipat. Menaroh hp di meja, di bagian atas kepala, tapi tidak di pegang. Dia dalam posisi seperti itu hanya sebentar, paling hanya beberepa detik. Saat mengangkat kepala, hp-nya sudah tidak ada. Dia bertanya pada teman-temannya. Tapi pada bilang tidak tahu.

Si anak remaja berpikir teman-temannya pada masih becanda. Sebab hari itu, sebelumnya ada juga temannya yang becandain dia begitu, tapi kemudian dikembalikan.

Guru yang ngajar sudah dikasih tahu dan bilang suruh dicari lagi.

Pelajaran sudah usai. Guru bilang, “belum ketemu juga? Coba dicari lagi”.

Kelas sudah dibubarkan. Ponsel belum ketemu, mereka hanya kasak-kusuk.

Saya yang mendengar kronologisis kejadian ‘hp hilang’ di dalam kelas seperti itu, spontan merespon dengan suara agak kencang, merepet khas emak-emak.

“Kalian iseng, becanda, tapi kalau sudah seperti ini namanya sudah kelewatan. Karena saya sebagai orangtua murid, kebetulan ada di sekolah di hari yang sama, saat jam gerbang sekolah belum ditutup, berhak mempertanyakannya. Ponsel hilang bukan saat jam istirahat, atau tertinggal di kelas yang kosong. Tapi saat proses belajar mengajar berlangsung. Bagaimana bisa guru yang saat itu mengajar, membiarkan kalian meninggalkan kelas, tanpa sebelumnya menyisir tas kalian satu persatu, jika kejujuran kalian sudah ditunggu, tapi tidak ada yang bersuara?”

Saya menoleh ke anak remaja yang memang sedikit lalai dengan barang-barang yang dia punya. Dia terkadang juga suka becanda iseng, tapi masih dalam batas toleransi.

“Kalau hp-mu ga ketemu, kasusnya seperti itu, harunya cara mencarinya, siapa teman yang duduk di sebelahmu. Siapa teman yang duduk di bangku di depanmu, siapa teman yang duduk di bangku sebelah kananmu. Mulai ditanya dari situ. Bongkar-bongkar tas, kantong, laci meja, dari teman-teman itu dulu. Ga mungkin teman yang datang dari luar atau yang duduknya jauh. Dan itu bisa dilakukan sebelum bubar tadi”.

“Kalau sekarang, sudah pada pulang, yang masih ada justru teman yang duduknya jauh, ga bisa berharap banyak. Kalau menurut mama ini bukan lagi becanda namanya. Di mana kejujuran kalian sebagai siswa sekolaah. Itu hal yang paling mendasar. Jauh lebih penting dari materi mata pelajaran. Bagaimana bisa gurumu membiarkannya tanpa membahasnya, terlepas nanti hp itu ketemu lagi atau tidak”.

Mendengar saya ‘berceloteh’ (baca: merepet) seperti itu. Guru yang kebetulan lewat, mau pulang, berhenti. Wali kelas yang awalnya juga sudah mau balik, menepikan motornya. Pada bertanya, “ada apa, bu?”

“HP anak hilang saat jam pelajaran berlangsung. Tapi kelas bubar tanpa membahas hal tersebut”.

Saya yang termasuk ‘anak sekolah jaman dulu kala, memang merasa agak sedikit syok dengan kesan membiarkan, tak mau repot, yang tertangkap kepala saya. Tanpa sadar mulut saya merepet, “harusnya, penghapus saja yang ga ketemu, tapi pemiliknya merasa dia kehilangan, harus diambil tindakan untuk meluruskan situasinya. Semua anak harus bertanggungjawab atas insiden yang membuat ‘gaduh’ itu. Termasuk anak yang kehilangan penghapus yang tak menjaga barang-barangnya. Ke depannya, anak-anak jadi lebih bertanggungjawab, tidak sembarangan menyimpan/membawa benda yang bukan miliknya, becanda juga tidak berlebihan”.

Akhirnya, saya diminta untuk ke ruang guru. Ada Kabag Kesiswaan, Kabag Kerohanian, dan juga wali kelas.

Bapak-bapak itu menjelaskan bahwa ponsel saat ini memang menjadi kelemahan anak-anak di sekolah. Ada beberapa kali yang kehilangan hp saat istirahat. Pihak sekolah sudah mengingatkan agar barang-barang berharga dijaga dan menjadi tanggungjawab masing-masing anak.

Di depan guru-guru itu, saya menekankan bahwa kali ini hp hilang saat proses belajar mengajar sedang berlangsung.

Saya juga kembali mengulang cara penyisiran awal yang seharusnya dilakukan. Saat anak-anak tidak ada yang mau mengakui keisengannya. Saya sangat yakin kalau anak-anak itu hanya iseng dan tidak tahu kapan harus berhenti dan menyudahinya. Itu saja.

Bapak bagian kesiswaan malah bergumam, “kalau saya, itu sudah SP3”, sambil ngelirik bapak wali kelas.

Bapak bagian kerohanian yang selama ini paling ditakuti (baca: disegani) siswa di sekolah tersebut malah mengatakan solusi yang akan dia ambil kalau dari awal tahu duduk persoalannya. Lumayan membuat siswa bakal bergidik untuk mengaku jujur.

Saya juga tidak mau anak-anak mendapat sangsi yang berlebihan. Tapi lebih kepada penekanan bahwa mereka melampui batas toleransi becanda.

Bapak wali kelas sibuk dengan ponsel di tangannya. Ternyata si bapak terus memberi instruksi di grup kelas yang dikomandoinnya.

Kedua bapak-bapak kabag mengingatkan bahwa itu dijadikan pelajaran untuk anak remaja yang duduk di sebalah saya, agar bisa menjaga barang-abarangnya.

Anak remaja mengangguk.

Tetiba bapak wali kelas bersuara, “HP-nya ketemu, bu. Ada di salah satu tas anak. Saya di grup tadi suruh periksa satu persatu bagi yang sudah pulang. Tapi siapa yang iseng tidak ada juga yang ngaku. Hp-nya mau diambil sekarang atau bagaimana, bu?”, sambil menyebutkan lokasi rumah siswa yang di dalam tasnya ketemu hp yang hilang itu.

“Besok suruh bawa sama anaknya ke sekolah aja, ntar dikasihkan ke anak saya langsung aja, pak”.

Anak remaja malah bilang mau ngambil langsung, ga usah nunggu besok.

Para guru juga lebih setuju dengan usulan anak remaja. Biar urusan iseng menyimpan hp dalam tas teman lain ini selesai hari ini.

Dua orang teman anak remaja yang tadi masih ada di sekolah, juga sudah membaca infromasi tersebut. Mereka memutuskan untuk mengambilkan hp karena dia tau rumahnya.

Pertemuan dengan guru-guru pun selesai, karena bapak-bapak tersebut juga mau pulang.

Saya menunggu dengan nak remaja di halaman sekolah.

Ga berapa lama, muncul kedua anak yang tadi mengambilkan hp. Menyerahkan hp yang ‘terbawa’ salah satu teman itu pada anak remaja.

Satu dari anak itu saya sudah kenal. Anak remaja memperkenalkan yang satunya lagi, ternyata ketua kelas.

Saya mengucapkan terima kasih pada kedua anak tersebut, sekaligus mengingatkan agar besok anak-anak kelas mereka meminta ma’af pada guru kelas karena sudah menambah kerjaan bapak gurunya, dan stigma kelas ‘iseng ga asyik’ di mata guru-guru lain.

Anak remaja dan kedua anak itu mengangguk.

Saya meminta ma’af atas kehebohan yang ditimbulkan kelas anak remaja, mengucapkan terima kasih, sekaligus berpamitan pada guru kerohanian siswa yang ternyata masih ada.

Sepanjang perjalanan pulang, saya mengingatkan anak remaja agar lebih menjaga barang-barang miliknya, dan tentang keisengan yang dilakukan temannya agar jangan terulang lagi.

“Bukan tentang hp yang hilang, nak. Tapi karena setelah becanda kalian ga mau mengaku jujur, banyak pihak yang terbawa-bawa, kalau masalahnya jadi panjang. Dalam kasus ini, kasihan guru yang mengajar pelajaran terakhir, wali kelas. Guru-guru udah capek seharian, kalian yang sudah besar harusnya bisa bekerjasama dengan baik”.

Anak remaja manggut-manggut.

Esok harinya, kata anak remaja ternyata pak wali kelas yang kebetulan ada jam mengajar di kelas, juga tidak berhasil ‘membuka mulut’ anak yang iseng agar mau jujur.

Saya berpesan, kalian masih proses belajar, jadikan itu pelajaran berharga, jangan diulangi lagi. Berasakan, yang awalnya hanya iseng, tapi lupa untuk menyudahinya, dan akhirnya melibatkan banyak orang, sangat berat untuk berani mengakuinya dengan jujur.

Kesimpulan:

Pendidikan akhlak, menanamkan kejujuran, mengajarkan kebiasaan baik, jauh lebih sulit dibanding menuntaskan materi pelajaran umum.

Kejujuran itu diuji saat ada kesempatan besar untuk menghilang dalam alasan ‘ga sengaja’, ‘iseng’, atau ‘hanya becanda’. Kembalikan ia dengan tetap memposisikan diri jika kita yang berada dalam situasi ‘diisengin/dibecandain’ itu.

Jika takut dengan konsekuensi berbuat iseng diluar batas, selesaikan dengan cara pertemanan dan sebelum melibatkan pihak lain.

_____________________________________________________________________________
Hanya sebagai catatan pengingat dari seorang emak untuk anak remaja dan teman-teman seusianya.

14 comments

  1. Ckckck yaampun saya gondok bgt baca ceritanya, masa iya tida ada penggeledahan dari pihak sekolah sebelum anak pulang?

    Jaman saya SMA, kalau ada hape anak yang hilang pasti guru BK juga ikut turun tangan untuk menggeledah semua isi tas anak-anak.

    Semoga kejadian serupa ngga terjadi lagi deh ya mbak, apalagi setelah insiden ini. Atau paling engga gurunya jadi lebih tanggap kalau ada kejadian kehilangan barang.

    • Iya.
      Kalau jaman sy sekolah kalau ada kasus seperti itu bakal kena hukum satu kelasnya. Tapi jaman kan udah beda ya.
      Mungkin guru juga beranggapan itu candaan, sehingga agak telat merespon seperti yg seharusnya.
      Mudahan ga terulang lagi di sekolah manapun.
      Masih optimis kalau di sekolah ga ada barang2 apapun yang hilang, kalau nemu dikembalikan ke kantor atau pemiliknya 🙂

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.