Takicuah di Nan Tarang


Takicuah di Nan Tarang, sebuah ungkapan atau pepatah daerah yang kalau di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama pengertiannya dengan “Tertipu di tempat terang atau terkecoh pada sesuatu yang sudah jelas atau nyata“.

***
Siti merupakan anak bungsu dari sebuah keluarga terpandang, anak kesayangan. Ayah, ibu dan kakak-kakaknya punya jabatan semua. Keluarganya ada di semua bidang pemerintahan. Sudah tentu Siti juga termasuk kembang desa di kampung.

Banyak lelaki terpukau akan kecantikan lahiriah yang dimilikinya.

Syamsul seorang pemuda tekun, dari keluarga biasa-biasa saja. Ayah Ibunya hanya petani, yang bertekad menyekolahkan anaknya sampai sarjana.

Syamsul jatuh cinta akan keelokan rupa Siti. Siti juga terpukau akan keuletan Syamsul dalam menggapai cita-citanya. Tentu juga ketampanan yang dimilikinya *versi kampung juga*. Mereka berpacaran. Jarak usia 4 tahun membuat mereka bisa saling support.

Setiap orang kampung yang melihat mereka, pasti akan setuju, mereka berdua nantinya akan menjadi pasangan serasi.

Belakangan ada selentingan beredar, bahwa keluarga Siti tak sudi kalau Syamsul nantinya sampai menjadi menantu di keluarga mereka. Sebuah pernyataan yang terlalu dini berkembang di masyarakat kampung. Berita ini tentunya juga sampai ke telinga keluarga Syamsul.

Padahal Syamsul baru kuliah dan Siti baru menapaki bangku SMA. Perjalanan mereka untuk sampai ke jenjang pernikahan masihlah jauh.

Sepertinya Syamsul tak terpengaruh akan kasak-kusuk itu. Kalau libur kuliah dia tetap berkunjung ke rumah keluarga Siti, seperti kebiasaan sebelumnya. Begitu juga setelah merantau ke Jawa mencari kerja. Setiap pulang lebaran, dia selalu bersilaturrahim ke keluarga Siti.

***

Lulus SMA, Siti diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Tanah Pasundan. Hubungannya dengan Syamsul sudah ga jelas, karena walau sudah kerja, Syamsul belum kelihatan ‘mentereng’ juga. Syamsul belum bisa menabung untuk dirinya sendiri, dia masih membantu biaya kuliah adiknya.

Tak berapa lama setelah sarjana, Siti melangsungkan pernikahan dengan kakak kelasnya waktu kuliah. Sayang pernikahan itu tak berjalan mulus seperti cerita pangeran dan putri dalam negeri dongeng. Mereka memutuskan untuk berpisah.

Secara kebetulan, Siti memilih curhat masalah keluarganya ke Syamsul. Lelaki yang di tolak keluarga dan di tinggal nikah olehnya.

***
Sementara itu, nama Syamsul semakin berkibar di kampung. Dia sukses di rantau, berhasil mengantarkan satu adiknya menjadi sarjana bahkan sampai mandiri juga. Biaya untuk adik satunya lagi, yang masih sekolah, bisa mereka keroyok berdua.

Siti yang sudah menyandang status janda meminta ijin ke keluarganya untuk merantau, mencari kerja, sekalian ingin meraih hati Syamsul kembali. Dengan restu keluarga, Siti mantap melangkah. Asyik, pikirnya. Dia akan menggapai kembali hati lelaki yang begitu mencintainya. Semangat dan bahagia itu serasa sudah di pelupuk mata.

Dia menemui Syamsul, minta tolong dicarikan kerja. Syamsul dengan senang hati membantu. Tetapi karena Siti belum pernah punya pengalaman kerja semenjak lulus kuliah, perlu waktu lebih untuk bisa mencari kerja yang sesuai dengan keinginannya.

Siti tak sabar. Dia ingin segera salah satu keinginannya terkabul, kalau ga dapat kerja, ya mendapatkan Syamsul jadi suaminya.

Syamsul menjelaskan panjang lebar kepada Siti. Menikah itu bukan hanya mereka berdua. Tetapi ada keluarga besar yang ikut di dalamnya.

Keluarga besarnya takkan semudah itu menerima Siti dengan status barunya itu, apalagi sudah di tambah penghinaan sebelumnya. Keluarga Siti mungkin sudah lupa sama apa yang mereka ucapkan, tetapi bagi keluarga Syamsul, penghinaan itu selalu dijadikan cambuk penyemangat.

Dengan tetap bersikap baik kepada Siti dan keluarganya, bukan berarti Syamsul lupa atas penghinaan itu. Dia mema’afkan. Tapi untuk menjadikan Siti istrinya, dia tak bisa melakukannya.

Siti seakan baru tersadar. Dia seperti ‘takicuah di nan tarang’. Terkecohnya dia, bukan orang lain yang membuatnya. Tapi diri dan keluarganya sendiri.

Takicuaak di Nan Tarang : Dikiro anjiang ndak taunyo kuciang. Terkecoh pada yang nyata: Dikira Anjing, ternyata kucing ;)

Takicuaak di Nan Tarang : dikiro anjiang ndak taunyo kuciang. Terkecoh di tempat terang: dikira Anjing, ternyata kucing 😉

Kenapa dia dan keluarganya sampai lupa, apa karena mereka terlalu angkuh, sehingga tak sensitif untuk merasa.

Belum ada dalam sejarah di kampungnya, di kehidupan nyatanya. Lelaki yang dihina harga diri dan keluarganya, akan menerimanya kembali, kapan pun dia mau. Sebesar apapun cinta lelaki itu untuk sang perempuan.

Yang ada, perempuan dan keluarganya di buat luluh, dinikahi hanya untuk membalas hinaan sebelumnya, kemudian si lelaki meninggalkan. Untung Syamsul tak melakukan itu padanya, kalau tidak, dia benar-benar mendapatkan buah dari pepatah ‘takicuah di nan tarang’.

Hai perempuan, hati-hatilah dengan hati dan rasa yang kau miliki. Lelaki hanya akan memilih perempuan yang bisa menghargainya untuk dijadikan istri.

***
Syamsul kemudian menikah dengan wanita pilihan hatinya, tak secantik Siti, tapi bisa mengerti dirinya. Sementara Siti, tetap terpuruk dengan kesendirian yang belum kunjung usai, terlalu sering takicuah di nan tarang.

Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati.

sadar hati kontes

Iklan