Puasa Merupakan Hubungan Personal Dengan Sang Khalik


Puasa merupakan hubungan personal dengan Sang Khalik,, hmmm,, emak-emak mau ngasih ceramah? Ga salah .

Tenaaang,,, bukaaan,,, masih belum punya ilmunya 😳 .

Saya hanya mau menuliskan pendapat saya pribadi, dan apa yang pernah saya lakukan dalam menjalankan ibadah puasa, karena merupakan bagian dari rukun Islam, agama yang saya yakini.

Terinspirasi menuliskannya, karena membaca di wall media sosial, status beberapa teman. Ada yang begitu semangat mengshare ajakan untuk memberi dukungan pada warung-warung yang berani tutup di siang hari, atau tidak melayani makan di tempat sebelum makan siang. Sangat bagus, memberi semangat pada kebaikan.

Sementara teman-teman yang lain, non muslim, juga dengan semangatnya meng-share tulisan yang isinya mempertanyakan tindakan sweeping yang dilakukan oleh beberapa pendidik di wilayah tertentu, yang kemudian memberikan hukuman pada anak didiknya yang tertangkap basah tidak berpuasa. Teman memberi caption pada tulisan yang di share-nya itu ‘bukannya saling menghormati?’ Ga salah juga saling mengingatkan.

Puasa Pertanggungjawabannya Langsung Pada Sang Khalik

Warung kaki lima ini emang kebiasaan bukanya sore hari πŸ˜€

Saling Menghormati Antar Umat

Di Lingkungan Masyarakat Majemuk

Saling mengerti posisi masing-masing dan tidak melanggar batasan, itu yang paling tepat.

Kan ga bisa juga, karena kita berpuasa, kemudian mereka yang tak berpuasa karena berbeda keyakinan, mereka harus kita minta untuk menghormati kita, dengan tidak makan dan minum di depan kita. Lha, yang puasa kan kita? bukan mereka. Kalau hari-harinya kita berinteraksi dengan mereka, seperti ditempat kerja, masa kita akan bilang mereka tidak menghormati orang yang berpuasa hanya gegara mereka ngemil sambil kerja. Enggak bisa begitu juga kan?

Tapi, jika tempat kerja melarang karyawannya yang muslim untuk menjalankan ibadah puasa, itu baru harus di demo karena tidak menghormati kehidupan beragama. Kan dari awal menerima karyawan mereka sudah tahu keyakin yang dianut oleh si pelamar kerja.

Bagi muslim yang berada di tengah kehidupan beragam agama dan keyakinan, ingat aja prinsip “Lakum dinukum waliaydin. Agamaku bagiku dan bagimu agamamu.”

Kalau hanya godaan makanan dan minuman, takkan lah menggoyahkan semangat puasa. Banyak lagi godaan kehidupan yang lain lho.

Simak juga tulisan:
5 Kebiasaan Unik Menjelang Ramadhan dan
Persiapan Pulang Kampung (Mudik) Lebaran

Di Masyarakat/Lingkungan Muslim

Seperti lingkungan sekolah muslim, atau desa/ kampung yang satu etnis. Pihak sekolah atau pimpinan masyarakat, sudah membuat kesepakatan terlebih dahulu, ada aturan selama bulan puasa Ramadhan. Jika ada yang melanggar, tentunya akan dikenakan sangsi. Ibaratnya, ini urusan di ‘dalam negeri.’

Itu sangat boleh, untuk penerapan disiplin dan tanggung jawab terhadap aturan yang sudah disepakati. Tidak bisa toleransi dan saling menghormati dijadikan alasan untuk berkelit, walaupun ibadah merupakan urusan personal dengan Sang Khalik. Bagi anak-anak, kapan mau belajarnya jika mencari alasan terus. Kewajiban orang tua mendidik anak mereka. Gimana orang lain mau menghormati, jika kita sendiri tidak menghormati aturan agama yang kita anut.

Toleransi Dalam Kehidupan Nyata

Toleransi atau saling menghormati dalam kehidupan nyata, bukan berarti orang lain melakukan apa yang kita lakukan. Tapi, tidak mencampuri urusan personal. Agama tidak bisa dipaksakan.

Saya punya cerita sendiri, dulu, waktu masih kerja, atasannya dominan non muslim, pernah diajak untuk menemani mencari beberapa keperluan disaat bulan Ramadhan.

Waktunya jam makan siang, beliau bilang laper, saya bilang kalau lapar ya ke rumah makan. Dia bilang ga enak karena saya yang menemaninya sedang berpuasa. Saya bilang aja, ga masalah bagi saya, yang berpuasa kan saya, bukan anda. Saya pun duduk di depannya.

Dengan ragu, dia menyantap makan siangnya sambil menatap bingung ke arah saya. Kemudian mengajukan berbagai macam pertanyaan.

Waktu itu, saya menjawabnya sederhana saja, sebagai muslim saya menjalankan puasa, itu adalah kewajiban. Anda kan bukan muslim, makan di hadapan saya saat ini, karena anda lapar, bagi saya ga ada masalahnya. Kalau pun anda punya niat untuk menggoda saya yang berpuasa, itu urusan anda. Dalam keyakinan yang saya anut, ada penjelasan yang mengatakan “agamaku bagiku, agamamu bagimu.”

Apa kamu tidak tergiur makanan, udah capek muter-muter?
Tidak. Niat puasa sudah saya pasang saat sahur. Niat kerja juga udah saya niatkan saay melangkahkan kaki keluar rumah.

Apa kamu tidak takut orang lain menganggap kamu tidak berpuasa karena menemani orang yang sedang makan? Tidak, saya berpuasa dan tidak, itu bukan tergantung penilaian atau anggapan orang lain.

Jika saya memang puasa karena orang lain, saat wudhu sholat, saya bisa meneguk air, tidak ada yang tahu. Puasa saya batal, tapi orang lain yang ga melihat saya minum, masih beranggapan saya berpuasa.

Seandainya seperti itu, apa saya masih dinamakan berpuasa? Tidak, saya hanya menipu orang-orang dengan mengaku-ngaku berpuasa.

Atasan saya pun bilang saya orang yang aneh :mrgreen: .

Puasa Pertanggungjawabannya Langsung Dengan Sang Khalik

Kata teman saya yang lain, seorang muslim yang berpuasa, tidak akan berkurang nilai puasanya karena kurangnya penghormatan orang lain. Sebaliknya, mereka yang berpuasa hanya karena orang lain, makanya ingin menuntut banyak juga dari orang sekitarnya.

Makanya, lurus kan kembali niat, kan udah bukan anak-anak lagi.

Jika semua meluruskan niat, mau warung buka 24 jam, tidak akan ada seorang muslim yang tak ada halangannya berpuasa, akan mampir makan sebelum waktunya.

Menurut pelajaran agama yang saya dengar dari guru, berpuasa, pertanggungjawabannya langsung dengan yang memerintahkan puasa, Sang Maha Tahu dan Maha Melihat.
Puasa merupakan hubungan personal seorang hamba dengan Sang Khalik. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Ini hanya catatan pengingat bagi diri sendiri.

Iklan