Sabar dan Ikhlas, Rahasia Nge-Blog di 2014


Logo Lomba Tengok BlogMelongok blog sendiri, melakukan refleksi, kemudian dituliskan, dijadikan batu lompatan untuk bebenah blog.

Tahun 2014, tahun saya kembali Nge-Blog setelah hiatus panjang. Banyak yang terjadi dan berubah. Membuat saya seperti menjadi ‘orang asing’ di belantara dunia maya. Mulai dari awal lagi.

Tulisan di blog masih berisi tulisan ringan yang menurut saya pantas di dokumentasikan. Entah bagi yang lain.

Memilih salah satu tulisan ringan itu sebagai yang terbaik. Sukses membuat saya galau gigit-gigit jari, bolak balik ke kamar mandi, nyeduh minuman berkali-kali, hasil tulisan tetap tak jadi-jadi. Selama ini, ternyata tulisan di blog asal jadi 😥 .

“Stop. Jangan muter-muter. Saya tidak perlu prolog penuh basa basi. Jadi, tulisan mana yang berkesan?”. Om NH tak sabar melihat ceracau tak jelas admin blog ini.

“Ma’af Om. Yang judulnya, Menikmati Makanan Tradisional Rendang di posting tanggal 8 Oktober 2014″.

“Kenapa memilih tulisan tersebut? Anda mau menyogok saya menggunakan rendang?. Ga bakal mempan, di lidah saya, rendang buatan bundanya anak-anak, juaranya rendang sedunia”.

“Bukan begitu, jangan geer dulu,Om”. Berikut alasan tulisan tersebut begitu berkesan bagi saya:

  • Tulisan itu cara berceritanya khas emak dan junior. Rendang itu ‘hadiah’ lebaran Idul Adha. Rendang pengobat rindu cucu-nenek. Bagi saya sendiri tulisan tersebut adalah pengingat. Ibu sudah sepuh, ia rela berkeringat di tungku mengaduk rendang. Semua dilakukannya dengan sabar dan ikhlas, saya tinggal mencicipi. Betapa beruntungnya saya sebagai anak”.
  • Pada tanggal 14 Oktober, tulisan tersebut saya kirim ke Vivalog, mengubah judulnya menjadi ‘Rahasia Rendang Minang’. Ternyata berhasil masuk salah satu headline Vivalog pada hari itu.
  • Tulisan itu kemudian di copy paste sebuah web tanpa mencantumkan link sumbernya. Awalnya saya kaget dan sempat memposting tulisan, ‘sakitnya tuh disini‘.
  • Dengan adanya kejadian itu semakin memberi pemahaman bahwa tulisan di blog, sebuah catatan bagi penulisnya, catatan ga berbobot bagi sebagian pembaca, sangat menarik bagi pembaca lain. Seperti apapun catatan di blog, selama itu pikiran sendiri, tidak menyinggung orang lain, itu adalah sebuah karya yang layak diapresiasi. Tidak semua orang bisa menuliskan apa yang dipikirkan kemudian membuatnya terbaca oleh orang lain.

“Alasan terakhir itu, saya sudah tau bahkan menjadi motto blog saya The Ordinary Trainer, tidak nyontek, tidak bohong. Apa tulisan itu mempunyai kelemahan dan perlu perbaikan?”.

“Semua tulisan saya banyak kelemahan, Om. Setelah diposting, kemudian dibaca ulang lagi, saya merasa aneh sendiri dengan tata bahasa yang dipergunakan. Tapi saya tidak berniat memperbaiki yang sudah terposting. Biar itu menjadi sejarah perkembangan tata bahasa saya di blog,Om”. Ke depan, untuk mengasah kemampuan menulis saya akan lebih sering ikut GA, walau sering kalah. Hitung-hitung mengasah otak bekerja cepat saat kepepet, karena waktu lomba sudah mepet. Tidak mungkin hadiah sebagai target”.

“Ada lagi yang mau disampaikan?”

“Lomba tengok-tengok blog seperti ini membuat saya tersadar bahwa Sabar dan Ikhlas saya selama nge-blog di 2014 membuahkan hasil lain, diantaranya tulisan di muat media cetak, berbuah sedikit dolar, buku antalogi HISS”.

“Pembahasan anda kok melebar jauh. Terima kasih atas partisipasinya”.

“Semoga GA-nya berjalan sukses Om”. *Sambil senyum*.

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer

Iklan