Kesabaran adalah Perisai Hidupmu, Ibu


Ibu, kau dikenal oleh orang-orang sekitarmu sebagai sosok yang tak banyak bicara, lebih sering menjadi pendengar. Walau sebenarnya mungkin tidak berkenan dihatimu, kau memilih sabar dan diam.

Jika ada yang mencoba mengusikmu dengan omongan yang tak enak di dengar. Jika orang lain yang mengalami dan mendengar itu, bisa membuat kepalanya bertanduk hingga menjadi keributan besar. Tapi kau memilih tak meladeni.

Sebaliknya kau malah sering menjadi pendamai saudara yang bertikai. Orang-orang tetap memilihmu menjadi tempat curhat.

Ayah Bunda

Foto jadul Bapak & Ibu yang sudah termakan usia.

Seingatku, kau tidak pernah memarahi ku, walau aku termasuk anak perempuan ‘bandel’.

Kau cuma cerewet untuk urusan bangun pagi, melaksanakan sholat subuh dan sholat tepat waktu. Bahkan waktu kecil, saat kau sudah memandikan ku, kemudian aku malah main kotor lagi, yang memarahiku justru bapak. Kau, memilih memandikan ku lagi, memberi pakain bersih lagi. Itu bukan sekali dua kali, tapi sering.

Pernah aku bermain mencari pakis bersama teman-teman, kemudian terperosok masuk tanaman gatal ‘Jilatang Niru‘. Sekujur tubuhku bengkak dan perih, sakitnya jangan ditanya, bahkan sampai membuatku meriang. Kau dengan telaten merawat tanpa ceramah.

Lain waktu, aku melukai dua jari tanganku, akibat main pisau sore-sore, membelah buah pinang, padahal kau sudah melarang. Mana, aku memilih mengobati sendiri dengan pucuk daun singkong. Kau tetap tidak marah, walau aku menolak untuk memperlihatkan luka tersebut kepadamu. Setelah aku tidur, kau membersihkan luka di jariku dan mengobatinya.

Padahal, kalau aku kenapa-kenapa, kau adalah orang pertama yang disalahkan oleh bapak dan tentunya keluarga besarmu.

Bahkan saat kau memintaku untuk masuk Tsanawiyah setelah lulus SD, aku menolak, kau tak merepet kayak ibu yang lain. Setelah akil baliq kau memintaku untuk menggunakan hijab, tetap ku tolak. Diminta untuk jadi guru atau perawat, aku menolak. Jadi PNS, aku menolak. Kau tetap tak memaksa.

Aku jadi bertanya-tanya, kenapa kau begitu sabar menghadapi lingkungan dan ulah anak mu. Apa memang, kau punya kesabaran sebegitu besarnya?

Dari orang-orang sekitar, tetangga kiri-kanan, saudara yang pernah ikut kita, aku mendapatkan cerita tentang kesabaran mu itu.

Itu karena kau tidak mudah untuk mendapatkan ku, kau perlu bedrest cukup lama saat hamil aku. Bahkan saat lahir pun, kau perlu perjuangan ekstra keras dan menahan sakit luar biasa, karena aku terlahir dengan posisi sunsang.

Saat bayi, aku sudah sering membuat mu susah. Aku sering rewel, diantar ke sekolah tempat mu mengajar, tapi aku malah menolak meminum ASI mu. Akhirnya harus dibantu sufor. Sufor yang ku sukai pun yang tak tersedia di warung terdekat, adanya di ibu kota Kabupaten. Pada masa itu, jarak tempuhnya lumayan memakan waktu. Fiuh… kau tetap sabar merawatku.

Belum lagi masa-masa rawan pernikahan kalian. Bapak yang menjadi idola wanita, banyak yang menggodanya dan godaan yang dialaminya. Kau yang tak terbiasa menunjukkan emosi berlebih, memilih sabar dalam diammu.

Aku percaya cukup lama dengan alasan yang dijelaskan orang-orang tersebut. Dan mulai memahami perasaan mu. Aku ‘takut’ membuat mu terluka.

Sebandel-bandelnya sikapku waktu kecil, aku tak pernah mengucapkan kata-kata kasar kepadamu. Aku menolak dengan cara baik. Apalagi setelah usiaku cukup bisa diajak berdiskusi oleh bapak. Beliau hanya berpesan,”jaga ucapan kepada ibumu, dia tidak seperti ibu yang lain yang jago berjawab kata. Kau tak pernah tau reaksinya, sedih dalam diam itu tidak baik efeknya“.

Setelah dewasa, aku bertanya langsung kepadamu,”Kenapa kau memilih diam dan tetap sabar terhadap semuanya. Padahal itu tidak kau sukai. Sebagai ibu, kau berhak untuk memerahi anakmu. Sebagai istri kau punya kebebasan secara finansial untuk menunjukkan sikap. Sebagai saudara, kau bisa berkata tidak terhadap sikap yang kurang menyenangkan itu“.

Ternyata alasanmu bukan seperti yang orang-orang bilang diatas.

***
Kau adalah anak bungsu, perempuan, dan sudah dapat dipastikan dekat dengan ayah. Saat kakakmu sekolah, ayahmu ada dikampung dan semua kebutuhan mereka terpenuhi dengan baik.

Saat kau sekolah, ayahmu dikejar-kejar, dianggap pemberontak, yang membuatnya harus meninggalkan kampung. Sementara Mak Gaek (nenekku,red) sudah mulai tua. Kakakmu disibukkan dengan keluarga mereka masing-masing. Kau harus pinter-pinter mengelola kebutuhan agar tetap bisa sekolah.

Kemudian, dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh, kau harus kehilangan ayah, dua orang kakak. Semua kembali kepangkuan-Nya. Mak gaek mulai sedikit pikun. Sebenarnya kau tidak cukup kuat, tapi jika kau mengikuti kata hati, larut dalam kesedihan, juga tidak akan mengembalikan semuanya. Hidup harus terus berjalan.

Tak berapa lama, kau harus kehilangan ibu dan kakak perempuan satu lagi. Yang tinggal ada hanya kau dan seorang kakak lelaki.

Pondasi tentang menyerahkan dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya, seperti yang diamanatkan ayahmu, sangat membantumu menjalani semua dengan ikhlas. Hanya kau yang mengijinkan, hati mu tersakiti oleh lingkungan, keadaan dan orang sekitar atau tidak.

Masa-masa sekolah dan ‘kehilangan’ keluarga dekat adalah masa-masa tersulit dalam hidupmu. Alhamdulillah semuanya bisa terlewati.

Persoalan-persoalan yang muncul di perjalanan hidupmu selanjutnya, kesulitannya tak ada artinya.

Tak perlu menghabiskan energi untuk berseteru, atau susah payah memberi penjelasan kepada prasangka orang-orang. Toh nanti juga akan berbaikan kembali.

Waktu adalah penjelas sebuah kebenaran yang sangat baik.

Sebuah hubungan kenapa harus dirusak dengan pertengkaran. Kalau dengan mengalah, keributan itu bisa dihindari, kenapa itu tak dijadikan pilihan.

Itulah prinsip hidup yang kau yakini.

***
Ibu, sampai detik ini, di usiamu yang sudah melewati 72 tahun. Alhamdulillah kau tetap sehat, walau di diagnosa dokter mengidap hipertensi lebih dari 30 tahun lalu. Tak ada kejadian masalah kesehatan berarti, yang kau alami. Bahkan kesehatanku jauh lebih ringkih daripada kesehatanmu.

Apapun yang menjadi pilihanmu dihari tua, kami mendukung dan menghormatinya, asal itu membuatmu bahagia. Kesabaran adalah perisai hidupmu, Ibu. Aku belajar banyak dalam mengelola emosi darimu.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295

Iklan