Polusi Suara


Polusi Suara membuat saya ngedumel. Pagi ini sekitar pukul 7 pagi saya sudah mendengar dentuman musik. Secara lagi serius dengan rutinitas rumah tangga, saya cuma bergumam, “hmmm, orang hajatan pagi-pagi sudah nyetel musik. Atau lagi ada keramaian kah di depan? Barangkali takut siang hari nanti bakal hujan, musik yang sudah dipersiapkan jadi mubazir nantinya”.

Kebelet kencing, saya masuk kamar mandi, duh, bukan hanya telinga, tetapi dada juga ikut ketar-ketir oleh dentuman musik. Perkiraan tentang hajatan dan keramaian ternyata salah.

Penenang Polusi Suara

Pandang foto seperti ini aja, biar ‘tenang’ πŸ˜‰

Tak berapa lama, tetangga belakang rumah datang. Ngobrol basa-basi, ternyata hanya untuk memastikan suara musik :mrgreen: .

Begitu tau asalnya suara musik keras itu dari mana, ya sudah lah.

***
Kebiasaannya itu bisa memberi tau. Kalau datang sendiri atau sama teman, bakal nyetel musik keras, kadang sekalian karaokean sampai tengah malam. Tapi kalau datangnya sama istri atau anaknya, suasana tetap tenang dan damai tetap terjaga.

Hmmm… harus maklum. Orang sibuk Jakarta sedang melakukan relaksasi di ‘rumah peristirahatan’nya.

Hanya saja yang membuat pikiran saya rese dan menuliskannya di blog ini, akibat tanya di kepala yang tak berjawab.

Kok orang yang hari-harinya tinggal di Ibu Kota. Mana katanya termasuk mempunyai jabatan di tempat basah di kesatuan dia bertugas, akrab juga dengan tempat hiburan *dari cerita beliau waktu masih belum jaim*. Datang ke perumahannya di kampung, yang dindingnya nempel satu dengan yang lainnya. Masih aja nyetel musik kencang-kencang, kadang-kadang di ikuti dengan karaokean sampai tengah malam. Hiks.

Saya ngerti beliau melepaskan suntuk dari rutinitas dan perlu hiburan. Itu pun di lakukan sekali seminggu atau sekali sebulan. Tapi kok saya masih aja ‘ngedumel’ dalam hati mendengarnya *kurang ikhlas 😦 *.

Kalau saya atau tetangga lain yang melakukan hal tersebut. Beliau pasti sudah protes ke satpam kan? *wong komandan satpam takut sama beliau ini*. Tapi kok ya seperti memuaskan hasrat yang sudah lama terpendam, tapi tak mempedulikan lingkungan. Mbok di bikin ruang karaoke yang kedap suara gitu, kan lebih nyaman menuntaskan hasrat menyanyinya, tetangga telinganya tetap adem *ga perlu protes dalam hati*.

Etika bertetangga, tau sama tau tetap membuat nyaman. Tetangga tetap bisa terbuai oleh lamunannya masing-masing.

***
Dulu waktu dikampung, saat saya masih belia *itu sudah lama sekali* memang kebiasaannya kalau pada nyetel musik dengan volume maksimal. Sampai terdengar ke beberapa rumah di sebelahnya. Setiap rumah melakukan hal yang sama. Jadi tak ada yang protes.

Tapi kebiasaan seperti itu sudah lama hilang. Orang kalau mau nyetel musik, pelan, lembut, berkesan syahdu. Kalau yang nyetelnya keras-keras kayak dulu, bakal di bilang ‘kampungan’ *padahal tinggal memang di kampung πŸ˜› *.

Nah, ternyata hal tersebut masih saya dengar dan jumpai hampir mendekati akhir tahun 2014 ini. Saya bukannya anti musik, tapi kok ya telinga saya dipaksa mendengar sesuatu yang tak ingin saya dengarkan.

Ngomong-ngomong di tempat sobat, masih adakah tetangga yang suka nyetel musiknya dengan volume maksimal gitu kah? Suka sewot juga mendengarnya ga? Atau jangan-jangan saya aja yang agak rada-rada πŸ™„ .

Iklan