Sikap Kurang Sopan


Kalimat ‘sikap kurang sopan’ diatasΒ  di ucapkan salah satu teman junior saat sedang bermain di rumah membuat saya tersenyum. Jika dalam kesadaran penuh, anak-anak kelas 4 – 5 SD ini, terlihat sangat-sangat ‘manis’ sikapnya. Tapi kalau lagi ‘asyik’ bermain, bisa bikin jantung deg-deg-an, jidat berkerut, kepala geleng-geleng melihat tingkah mereka.

***
Saat sedang bermain, mereka seperti terlibat ‘serius’ secara emosi. Mereka bisa seperti mau marahan beneran. Saya kadang-kadang ‘kurang sabar’ untuk tetap menahan diri dan tidak berceloteh mengingatkan. Padahal itu kan bagian dari proses mereka belajar mengurai ketegangan yang terjadi, antar mereka, saat bermain. Orangtua cukup mengawasi aja.

Tapi ya itu seringnya terlontar kata-kata seperti ini dari mulut sayanya, “Hei, itu cuma permainan, harusnya kan ketawa-tawa, kok kalian kayak Tom sama Jerry aja. Emang seru main kayak gitu?”.

Ini nih, si Rikinya di bilang harus kesitu, malah ga mau“, yang satu membela diri.

Harusnya kan kamu aja yang pindah tempat, bukan aku“, yang satunya ga mau kalah.

Di tegor bukannya makin benar, malah mereka berubah jadi ‘si pengadu’. “Argghhhh“, emak yang mendengar sahutan mereka memilih diam, setelah mengingatkan kembali,”Itu hanya permainan”.

Sebenarnya, belum pernah sih akibat permainan yang dilakukan di dalam rumah itu berakhir dengan berantem. Baik-baik aja. Cuma emaknya aja yang agak parno dan merasa ada polusi suara jika mendengar ocehan terlalu bersemangat dari para bocah tersebut.

SANYO DIGITAL CAMERA

Kancut kalau di jemur di depan rumah, juga kurang sopan, katanya. Seandainya tempat jemur pakaian, bisanya memang di depan rumah πŸ˜₯ ?

***
Di lain waktu, 6 orang teman junior main ke rumah. Secara saya masih nanggung menulis di depan notebook yang memang ada di ruang mereka bermain, saya tetap melanjutkan ketik-ketiknya.

Setelah permisi dengan sopan, mereka masuk dan mulai main. Junior duduk di bangku kecil, di tempat biasa dia duduk kalau main disitu. Tiba-tiba seorang anak berbisik,”Kamu kurang sopan, duduk di bangku. Mama mu kan duduk di bawah?”.

Saya yang mendengar, tersenyuum di kulum. Dengan lirikan mata saya melihat junior yang dikasih tau temannya, celingak celinguk ga paham. “Kok kurang sopan. Mama ku kan ga minta bangkunya πŸ˜† “.

Kata Mama ku, kalau ada orangtua yang duduk dilantai, kita tidak boleh duduk di bangku“, temannya berusaha memberi penjelasan lagi.

Mama ku kan duduknya pakai bantal, dari kemaren-kemaren memang seperti itu. Ga pernah dibilang ga sopan tuh“, junior tetap merasa ga ada yang salah.

Ihh ga percaya di kasih tau“, temannya tetap berusaha membahas ‘kurang sopan’ itu.

Akhirnya saya menengahi versi sopan dan kurang sopan tersebut.

Kalian kan ga sedang ngobrol atau bermain sama Tante, jadi gak apa-apa. Bukan kurang sopan itu. Kecuali, kalian lagi ngobrol dan tante ikut main, mungkin kurang enak di lihat sama orang lain. Kok Mamanya duduk di bawah, anaknya duduk di bangku. Tapi sebenarnya kurang sopan atau sopan itu bukan masalah duduk di bangku atau tidak, tetapi sikap. Walaupun sama-sama duduk di lantai dengan orangtua, tetapi kalau sikap yang kalian tunjukkan kurang baik, ya, tetap dianggap kurang sopan. Misalnya nih, orangtua sedang ngobrol menasehati, kalian masih aja asyik mainin hp, itu ga sopan. Sebaliknya, walaupun kalian pada duduk di bangku, bangku kan memang untuk tempat duduk toh, kalau sikap duduknya baik, sesuai dengan kondisinya, akan sopan-sopan aja terlihatnya“.

Semua bocah pada mengangguk-angguk. Mudahan aja mereka paham ya *kurang berbakat menjadi guru soale πŸ˜₯ *.

Iklan