Rindu Yang Tetap Terjaga – Pertemuan Pertama Yang Mendebarkan


Setiap kali ada kesempatan bertemu untuk menuntaskan rindu yang tetap terjaga di hati, akan selalu membuat berdebar di detik-detik menjelang pertemuan.

Apakah akan ada kata sepakat saat mengawali langkah pertama untuk menuntaskan rindu yang sudah ditunggu dari sebelas bulan terakhir itu.

Agar bisa mempersiapkan diri dengan baik, aku selalu mengajak diskusi yang akan terlibat, apakah akan bersama memulainya atau memilih awal yang berbeda walau tujuannya sama.

Rindu Yang Tetap Terjaga Pertemuan Pertama Mendebarkan

Pilihan terhadap titik start pertama yang akan diikuti, tentunya dengan keyakinan penuh. Tidak boleh ada keraguan.

Ini bukan pertandingan kalah menang dengan orang lain, tapi latihan buat diri sendiri.

Satu yang paling tak boleh dilupakan bahwa saling menghargai dalam perbedaan adalah sebuah keberagaman yang paling indah. Apalagi dalam sebuah hhubungan persaudaraan.

Syukurlah, kata sepakat itu diambil. Semua akhirnya benar-benar bisa tersenyum dengan lega dengan tulus.

Hari dalam mengisi rindu pun dimulai dengan satu langkah yang sama. Mudahan ujung langkah menuntaskan rindu itu juga sama, sebuah ‘kemenangan’.

Tapi, yang namanya pertemuan, sematang apapun persiapan yang sudah diatur, selalu saja ada yang tercecer, ada saja kendala timbul. Ada saja hal tak terduga yang muncul, yang membuat jantung berpacu lebih cepat, adrenalin ada diubun-ubun. Jika dalam kondisi tersebut ada yang tersenggol dan timbul gesekan yang menimbulkan percikan, hal itu bisa membuat gaduh suasana yang diharapkan tenang dan penuh kesyahduan.

Pelampiasan rindu akan penuh dengan rasa was-was dan khawatir.
Kepasrahan utuh akan ternoda oleh pikiran yang tak tenang.

Walau ada yang coba membuat kekeruhan, beruntung semua menyikapinya dengan sikap dewasa, semua sudah pada mengerti bahwa jika ada yang berteriak saling menyalahkan, maka yang paling hancur dan tersakiti adalah Ibu Pertiwi. Anak-anaknya di negeri ini akan saling curiga.

Kedamaian akan semakin terasa jauh.

Beruntungnya lagi, semua masih sangat mencintai Ibu Pertiwi, semuanya menyadari bahwa tanggapan pertama terhadap kegaduhan itu menentukan respon balik selanjutnya.

Sikap bijak, berpikir positif dan menahan lisan mempunyai pengaruh yang luar biasa.

Pertemuan pertama akhirnya berjalan dengan penuh kedamaian.

Marhaban ya Ramadhan.

Apakah rindu itu akan tertuntaskan tanpa godaan?

Belum tentu.

Dan godaan terberat itu bukan dimasalah menahan diri akan lapar dan dahaga fisik, tapi menahan lapar mata dan pikiran. Sepertinya semua akan menjadi sajian nikmat diwaktu yang sudah ditentukan.

Pada kenyataannya, seteguk air yang sudah melewati kerongkongan, menuntaskan rasa penasaran. Setelahnya, semua terlihat biasa saja.

Selamat mengendalikan mata, pikiran dan hati selama bulan paling dekat dengan Sang Kekasih ini.

Simak juga tulisan: Sebuah Catatan tentang Perbedaan Makhluk Tuhan yang mengaku sempurna.

Semoga bisa mengisinya dengan yang terbaik, karena merasa ini pertemuan terakhir dengan Ramadhan. Walau selalu berharap untuk diberi kesempatan menuntaskan rindu dengan pertemuan berikutnya. ā¤ ā¤ ā¤ .

Iklan