Perpisahan Diambang Mata


Rasanya baru kemarin menulis selamat datang padamu, Ramadhan. Menuliskan tentang sebuah harap agar rindu itu tetap terjaga, hingga pertemuan pertama yang mendebarkan itu penuh dengan kenangan. Sekarang kebersamaan kita sudah hampir dipenghujung waktu.

Perpisahan itu semakin dekat. Sudah diambang mata 😥 .

Apa yang sudah ku lakukan dalam mengisi kebersamaan kita yang singkat?

Sepertinya tak ada yang spesial.

. "Resah" Dalam pencarian tak ikhlas. Selalu berusaha menatap dikedalaman matamu. Menunggu sedikit riak yang masih tersisa. Yang ada hanya ruang kelam, dingin dan hampa. Bahkan pantulan bayanganku pun tak ada. Harusnya sudah sejak lama aku melihat kedalam hatiku sendiri. Selalu ada DIA yang setia menunggu disana. Walau sering berpaling dan melupakan-NYA, tapi akhirnya langkah terhenti dalam sungkur panjang bercampur tangis penyesalan tanpa suara. Untuk kemudian kembali lupa mengatasnamakan sifat alpa sebagai manusia. Resah hadir saat apa yang dimau tak sejalan dengan realita. Ketika sibuk berhitung soal dunia yang selalu membuat dahaga. . . . . Salam cinta di Jum'at berkah untuk kamu yang mungkin sedang resah. . . Menunggu THR yang belum jelas. . 😊😊😊😍 . . . . . . . . . . . #me #selfie #instame #myself #mypic #selfreminder #instagood #love #notetoself #like4like #ysalmae #latepost #jejakfotoysalmae #jejakpikiranysalma

A post shared by YSalma (@ysalmae) on

Hanya sebuah rutinitas fisik, yang sangat susah menyelaraskannya dengan hati. Walau para penyeru kebaikan selalu mengingatkan untuk memperlurus niat.

Pelaksanaannya, tak semudah mengucapkannya.
Aku masih terseok mensejajarkan langkah denganMu.

Dari mulai membuka mata, hingga meluruskan kembali badan, yang jadi prioritas hanyalah sajian bagi perut.

Namun begitu, capek fisik tetap aja mendominasi. Bahkan aku harus berjuang agar si fisik tak ambruk dan semua terlihat baik-baik saja dimata manusia lain.

Sepertinya aku tak punya waktu untuk bercumbu khusus denganmu.
Semua berjalan datar, biasa saja.

Pikiran ku ikut-ikutan memberi doktrin, “kau pasti bisa melakukannya. Tak boleh menyerah. Walau fisik mu sudah memberikan sinyal lampu kuning. Kau pasti bisa menyiasatinya dengan tangisan dalam diam yang setidaknya bisa memberi rasa lega sesaat. Mengingat bahwa bisa saja ini kesempatan terakhir bagimu. Siapa yang tahu. Kau bisa mengeluhkan semuanya pada DIA Yang Maha Mendengar dan Mengetahui. Kurang apa lagi? Lakukan saja.”

Walau banyak yang ingin ku pertanyakan, “Apakah cukup dengan menyenandungkan kitab suci disetiap waktu, seseorang sudah berhak merasa yang paling shaleh? Sedangkan orang-orang terdekatnya menahan air mata agar tak tumpah di dekatnya.”

Entahlah.

Ramadhan, ma’afkan kekuranganku dalam menservis Mu, padahal kedatanganmu begitu banyak membawa keuntungan untukku. Kemulianmu tidak akan pernah berkurang dengan pengabaianku.

Ku mohon, tetaplah beri aku kesempatan untuk bisa memanfaatkan sisa waktu yang ada dan juga beri aku kesempatan lagi untuk bisa bertemu Mu lagi di masa yang akan datang. *Pertemuan yang sedang terjadi dan masih berlangsung saja tidak diisi dengan baik, sudah mengharapkan pertemuan berikutnya? Ahhh, aku memang manusia yang kurang syukur 😥 *.

***
Ramadhan 1438H, ini hanyalah sebuah catatan hati seorang yang mengaku hamba yang masih saja resah dalam menjalani hari dengan Mu.

Iklan