Kepalsuan Demi Terlihat Sempurna (Menutupi Kekurangan), Salahkah?


Kepalsuan yang dimaksud disini, bukanlah barang palsu tapi diakui asli. Akan tetapi, menutupi kekurangan demi terlihat sempurna di lingkungan tertentu. Apakah itu sebuah kesalahan yang tak terma’afkan? Ternyata, batasannya sangatlah tipis. Semua tergantung dari cara menginformasikannya pada ranah publik.

Istilah aspal alias asli tapi palsu, disematkan untuk sesuatu yang terlihat tanpa cacat sehingga dikira asli. Mulai dari benda yang merupakan aksesoris seperti tas, sepatu, dsb, hingga bagian tubuh yang sudah mengalami perbaikan melalui operasi kecantikan atau melalui permak jenis lainnya.

Salahkah Kepalsuan Menutupi Kekurangan_YSalma

Semua kepalsuan itu akan menjadi bumerang, apabila ditujukan agar terlihat lebih, dibandingkan yang lain. Apalagi jika disertai oleh sikap sedikit pongah.

Apabila terungkap kebenarannya, akan terasa sangat menyakitkan bagi mereka yang merasa dibohongi.

Emak-Emak Punya Banyak Kepalsuan Ya? 😳

Sebenarnya, sudah dari beberapa waktu lalu tergelitik untuk menuliskan. Akan tetapi, emak-emak ini perlu waktu lama untuk mengeksekusinya. Mungkin karena emak ini memiliki beberapa bagian yang penuh kepalsuan hingga terasa berat untuk bercerita 😆 .

Haish,,, namanya juga manusia.
Perempuan lagi.
Selalu ingin terlihat sempurna.

Ga heran, wanita lah yang paling akrab dengan kata kepalsuan itu kan? Termasuk yang paling doyan mengomentarinya.

Contoh kecilnya, mata diberi bulu mata yang lentik, alis ditebalin, semua dilakukan agar bisa memukau yang kena tatapannya. Bedak diberi beberapa lapis, hingga keringat ga bisa menembusnya :mrgreen: .

Belum lagi pernak-pernik penunjang penampilan lain.

Apa semua bisa dikategorikan dengan pembohongan publik?

Untuk wanita dewasa yang melakukannya, yang seharusnya sudah banyak mengetahui dari membaca. Pilihan dandan yang dianggap sebagian orang sebagai sebuah kepalsuan itu, tidak usah terlalu direcokin.

Si wanita seharusnya sudah paham dengan batasan boleh dan tidak.

Selagi dia ga merasa tersiksa dengan penampilan seperti itu, yang melihat seharusnya tak perlu ribut mempermasalahkannya.

Suka, dijempolin. Ga suka, abaikan saja. Ga perlu dinyinyirin dengan perang komentar.

Semua pernak-pernik yang menempel itu hanyalah sebuah identitas dimana seseorang ingin terlihat, belum tentu jati diri yang sebenarnya.

So, jika muncul sebuah tanya seperti ini, “bukannya dia seorang muslimah? Jika sehari-hari berdandan seperti itu, bagaimana caranya menunaikan kewajiban? Apa ga ribet? Hmm,,, kalau dia seorang profesional yang mempunyai banyak tim yang selalu siaga, mungkin ga masalah. Kalau yang bukan?”

Ga usah pusing mencari jawaban untuk pertanyaan seperti di atas. Apalagi kalau hanya ngelihat dari foto atau video yang bertebaran di internet sekelabat. Bukan bersinggungan langsung dengan kehidupan yang mengusik tanya itu.

Mending membiasakan melihat diri sendiri agar lebih paham dengan kekurangan. Sehingga juga jago memilih peran yang ingin ditonjolkan.

Salahkah Menutupi Kekurangan Ituh?

Ada anjuran bahwa kita diminta untuk menutupi aib saudara sendiri. Bahkan setiap kita selalu berdo’a agar terlindungi dari pandangan yang akan menimbulkan fitnah.

So, tidak ada salahnya tidak mengumbar kekurangan. Atau dengan kata lain menutupinya dengan memberikan pakaian yang pantas.
Asalkan, bukan dengan tujuan membohongi orang lain, kemudian merasa diri yang paling sempurna.

Apa Manfaat Dari Menutupi Kekurangan Dengan ‘Kepalsuan’ Itu?

Tidak semua kita memiliki keadaan yang sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Ini bukan melulu tentang materi.

Misalnya saja, seseorang sudah memiliki semuanya, tapi dia tidak merasa bahagia dengan hidup yang dijalani. Dan dia harus bertahan demi orang-orang disekelilingnya. Mau tidak mau, sehari-harinya dia akan dituntut akrab dengan senyuman bahagia penuh kepalsuan. Kasihan kan. *seperti yang sering terlihat di sinetron-sinetron :mrgreen: *.

Begitupun sebaliknya, seseorang yang harus tampil tidak seperti keadaan yang sebenarnya. Semua hanya demi terlihat pantas di lingkungan dia harus bersinggungan. Bukan memaksakan diri, karena lingkungannya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tapi orang luar tidak bisa membedakan. Tindakan itu bentuknya menghargai lingkungan dimana dia berada.

Contoh lain, sebuah gambar akan di-crop pada bagian yang mengganggu keindahan foto oleh photographer. Itu artinya, ada keindahan yang pantas dikagumi dari bagian-bagian yang harus ditutupi.

Kalau menurut emak-emak ini, kepalsuan yang ditampilkan seseorang itu ada manfaatnya lho :

  • Sebagai pengingat bahwa manusia tetaplah manusia dengan kelebihan dan kekurangannya.
  • Tidak akan mengidolakan seseorang secara membuta. Apresiasi karyanya. Jika suka, nikmati tontonan yang disuguhkan oleh panggungnya. Ambil positifnya, tinggalkan negatifnya. Biarkan dia dengan kehidupannya.
  • Tidak semua orang benar-benar peduli dengan kehidupan orang lain yang sesungguhnya. Umumnya, manusia hanya ingin melihat, mendengar, apa yang mereka inginkan.

Kesimpulan:

1.Kepalsuan yang membuatmu capek sendiri. Itu sudah diluar kewajaran. Namanya bukan lagi menutupi kekurangan untuk kebaikan, tapi membohongi diri dengan memaksakan diri.

2. Seseorang yang pinter memantaskan dan menempatkan diri sesuai dengan lingkungannya berada, bukan berarti dia sedang menampilkan kepalsuan. Tapi, sedang mempraktekkan pepatah, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

3. Mereka yang terlalu sibuk mempertanyakan keaslian seseorang, mungkin itu alarm dari dirinya sendiri yang memakai banyak topeng kepalsuan #eh.

4. Sebaliknya, mereka yang terlalu lantang mengatakan keaslian apa-apa yang dimilikinya, mungkin dia masih butuh pengakuan 😳 .

5. Jadi diri sendiri itu sangat-sangat jauh lebih menyenangkan.

Bagaimana kepalsuan dalam kehidupan ini menurut mu, temans?

Iklan

10 comments

  1. mengenali kekurangan diri itu sudah wujud kelebihan yo Uni, seraya menatanya dalam koridor kepantasan.
    Tarimo kasi Uni tuk postingan reflektif ini. Salam

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.