Catatan Hati Seorang Ibu di Medsos Hari Ini


Hari ini, 22 Desember 2016. Time line media sosial penuh dengan suka cita, haru, terima kasih dalam untaian kata dan juga foto, sebagai bentuk ungkapan rasa cinta dari suara hati terdalam seorang anak terhadap jasa seorang ibu atau emak yang takkan pernah terbalas.

Dua tahun lalu, saat masih rajin dan semangat nulis, saya sebagai seorang anak sempat ikut berpartisipasi dalam Kado Istimewa: Peluncuran Buku Hati Ibu Seluas Samudra dalam rangkan memperingati hari ibu. Harus jadi emak bloger yang konsisten dan lebih rajin menulis lagi.

Bagaimana dengan catatan ysalma sebagai emak di hari yang di spesialkan ini?

kasih-sayang-ibu-dan-anak

Mulai Rajin Mantengin Media Sosial Lagi, Walau Tetap Kudet (Kurang Up-date 😛 )

Sekian lama menggunakan media sosial yang ada, khususnya facabook dan twitter, statusnya hanya link tulisan blog *sekarang pun masih* Belakangan ini, saya mulai lagi rajin membaca status teman-teman *bukan membuat status*, termasuk hari ini.

Biasanya kalau menjelang pilkada atau pemilu, kapasitas kepala saya terasa tak cukup ruangnya untuk disesaki kalimat-kalimat yang umumnya berisi kebencian satu sama lain. Saya cukup sadar diri, merasa belum mempunyai hati yang lembut dan mudah melupakan semua diskusi yang kadang berujung emosi di medsos itu.

Daripada jadi kerutan,  lebih memilih bersikap aman, tak mau terlibat, walau kadang tangan suka gatel mau ikutan komen. Cukup diskusi dan saling berbeda pendapat dengan teman hidup saja, atau curhat di blog.

Sekarang, sebagai ibu yang mempunyai anak menjelang remaja, mau tak mau, suka tidak suka, saya harus barakrab-akrab lagi dengan medsos. Bukan untuk apa-apa, anak yang mulai remaja sudah aktif menggunakan medsos. Sebagai emak yang harus kekinian, saya merasa perlu tahu, apa saja yang sedang heboh diperbincangkan dimedsos, agar tak melongo kalau anaknya ngoceh 😳 .

Sehingga, memperingati hari ibu, juga dilakuka di media sosial. Ndeh.

Telolet Om, Lucu Yang Tak Dimengerti

Beberapa hari ini, saya melihat teman-teman dengan status “Om Telolet Om”
Mungkin, rasa humor saya berada di titik nadir atau jangan-jangan saya tak punya rasa humor sama sekali, hingga tak tahu dimana lucunya hal yang viral di dunia maya itu. Emak payah! Kurang gaul!

Karena sudah mulai libur, anak lanang sudah di rumah, walau dia main game, tapi biasanya dia melakukan hal yang dia suka. Saya berpikir, dia ikutan latah sama hal yang heboh di dunia maya karena pengaruh obrolan dengan teman-teman di sekolah.

Hari ini, dia sempat ketawa dan ngomong “Om Telolet Om.”
Teman bermainnya juga sempat ngoceh hal yang sama. Kemudian mereka tertawa bersama. Imbas heboh dumay menyambanginya juga. Emak salah kira.

Emak pun ingin tahu, itu lucunya dimana. Si anak lanang hanya menjawab, “entah. Heboh aja.”
Ternyata, anak dan teman-temannya hanya ikut-ikutan aja.
Duh, tugas emak masih panjang untuk mengarahkan anaknya agar tahu apa  yang mereka ikut ramaikan itu.

Perhatian Seorang Anak, Energi Positif Bagi Ibunya

Emaknya lagi kehilangan semangat karena hidungnya mulai mampet, anak lanang yang ingin masak mie, menawarkan apa emaknya ini mau dibuatkan juga dengan telor dadar spesial. Dengan senyum lebar, tentu saja emak mengiyakan.

Hari ini, sebagai emak saya juga sangat senang mendapatkan mie dengan telor dadar spesial dan terenak, karena dibuatkan penuh kasih sayang oleh anak lanang. Alhamdulillah.

Bagi seorang ibu, perhatian tulus dari anaknya, sudah merupakan hadiah yang tak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini.

Terima kasih Nak.

Kasih Ibu Takkan Terbalas

Pepatah bilang, kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepenggalahan.

  • Mungkin ibu tak selalu hadir disamping mu, tetapi percayalah, namamu selalu ada dalam setiap untaian do’anya. Dia selalu berharap semoga kehidupanmu lebih baik dari kehidupannya.
  • Ibu bisa memberikan kasih sayang dan semua hal terbaik yang bisa dia lakukan untuk anak-anak yang diamanahkan padanya. Tapi, belum tentu seorang anak akan bisa memberikan hal yang sama pada ibunya kelak di usia rentanya. Semoga kau bukan termasuk anak yang seperti itu.
  • Seorang ibu mampu memaafkan semua kekeliruan yang sempat diperbuat anaknya. Tapi, seorang anak belum tentu mampu menerima kekhilafan dan kealpaan ibunya. Semoga kau termasuk anak yang berhati lembut dan selalu penuh kasih sayang.
  • Seorang ibu dengan sabar menjelaskan dan menjawab semua hal yang ditanyakan anaknya, tapi seorang anak mungkin tidak akan sabar melayani sifat nyinyir ibunya yang sudah pikun. Semoga kau termasuk anak yang selalu ingat dengan ketelatenan ibumu sewaktu kau masih kecil.
  • Seorang ibu, bisa melupakan semua kesenangannya demi memberikan yang terbaik buat anaknya. Tapi, seorang anak belum tentu bisa merelakan kejayaannya demi mendampingi ibunya yang sudah sepuh.

Dua Ibu Pintar Saling Bertengkar Gegara Status Medsos

Semua tentunya sudah pada paham, kalau membuat status mengenai politik dan agama, jika tidak diikuti dengan sikap kedewasaan berpikir, akan berujung dengan kebencian satu sama lain. Bahkan kadang berakhir dengan terputusnya tali silaturrahim yang sudah terjalin selama ini.

Hari ini, saya membaca beberapa status teman-teman yang berujung salah paham dan saling ancam akan memutuskan pertemanan yang sudah berbilang tahunan itu 😥 .

Katanya sih ingin menyampaikan berita dari sisi berbeda, agar teman-temannya tak saling memusuhi sesama.

Tapi, begitu ada yang mengkritisi dan mempertanyakan ‘posisinya berdiri’ Dia merasa dipojokkan. Saling hujat dan merasa paling benar pun terjadi.

Semua diskusi yang sudah tak menggambarkan niat awal itu pun bisa dibaca oleh semua kedua belah pihak. Ada yang ikutan menasehati, ada yang ikut ngomporin. Kepala panas sudah susah menerima masukan.

Karena yang membuat status adalah emak pinter yang memang senang membahas politik dan agama, temannya tentu banyak *bukan kayak saya, fakir teman, yang status medsosnya hanya link tulisan. Ga jelas :mrgreen: *

Saya hanya bisa jadi pembaca miris. Ga tau harus komen apa, lha, yang ikutan berkomentar adalah orang-orang pintar di bidangnya semua. Kalau anak-anak mereka yang sudah remaja, ikutan baca, tapi kemudian ga minta penjelasan ke emaknya, kira-kira apa yang akan anak-anak itu simpulkan ya. Phiuf.

Saya sendiri juga pernah punya pengalaman kurang menyenangkan saat diskusi di media sosial. Bukan di wall, tapi inbox, tertutup. Saya jadi ‘perpanjangan lidah’ ibu saya, untuk seseorang yang sudah dianggap anak perempuannya. Niatnya sih mengingatkan, karena kita sayang padanya, agar dia bisa sedikit memperbaiki sikap. Itu saja. Tapi, respon yang saya terima, saya dikatakan sebagai seorang pengecut.

Pernah juga di grup wa, saya beramai-ramai di ‘hadang’ oleh ibu-ibu yang menganggap saya tidak satu suara dengan mereka. Perlu energi lebih untuk menjelaskan perbedaan pendapat itu bukan berarti bermusuhan.

Ya sudahlah ya, emosi itu kan berubah-ubah, tergantung suasana hati. Apalagi bagi seorang perempuan, sudah emak-emak pula, baju kotor aja salah taroh, kadang bisa jadi pemicu ‘tanduknya’ keluar 😆 .

Pesan moralnya, media sosial kembalikan ke fungsi awalnya aja, untuk eksis, pamer dan mencari teman lama yang sudah lama tak bertemu di dunia nyata. Bukan untuk diskusi politik dan agama. Kalau ingin menuliskan uneg-uneg kepala tentang kedua hal tersebut, buatlah dalam sebuah tulisan yang tidak terbatas jumlah katanya, sehingga yang membaca tidak jadi salah duga. Kalau setelahnya akan berdiskusi lewat komentar, lakukan dengan pikiran jernih dan jangan baper. Kita udah emak-emak, dan juga bapak-bapak, malu dong sama anak *yang nulis lagi waras.*

Status teman-teman di media sosial hari ini, tidak semuanya berisi ucapan Selamat Hari Ibu atau Om Telolet Om, tapi juga dihiasi dengan diskusi yang berujung pertengkaran.

Bagaimana dengan catatan hatimu hari ini temans?
Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu terbaik di dunia ❤ ❤ ❤ .

Iklan