Diajak Hadir di Acara Kongres Ibu Nusantara 4 (KIN) Bogor: Negara Soko Guru Keluarga


Minggu 25 Desember 2016, saya diajak ikutan hadir sebagai pendengar di acara Kongres Ibu Nusantara 4 (KIN) yang diselenggarakan di Braja Mustika Convention Center Bogor dengan mengangkat tema Negara Soko Guru Keluarga.

Acara ini diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia cabang Bogor.

ikut-kongres-ibu-nusantara-kin-4-di-bogor

Tak Kenal Maka Tak Paham

Saya tidak begitu tahu tentang organisasi ini, hanya sempat membaca postingan Uztad Felix Siaw yang media sosialnya saya ikuti. Dan disalah satu postingan beliau yang membahas singkat tentang organisasi Islam yang ada di Indonesia, saya baru ngeh kalau beliau aktivis HTI. Hanya sekedar itu saja, tidak tahu lebih banyak lagi.

Sebelum memutuskan untuk mengiyakan ikutan dalam KIN 4 ini, saya menghubungi saudara yang lebih paham dan mempunyai akses informasi yang lebih banyak tentang berbagai dakwah Islam di Indonesia. Saudara saya ternyata juga tidak tahu banyak, hanya pernah dengar secara umum saja bahwa tujuan organisasi ini menuwujudkan negara khilafah.

Saya agak bimbang untuk ikut, secara menurut saya, kalau yang namanya kongres tentu peruntukannya kepada anggota organisasi tersebut.

Lha, saya bukan anggota juga bukan partisipan.

Saudara saya ngasih masukan, “jika kita melihat sebuah rumah hanya dari luar, tanpa pernah berkunjung dan ngobrol dengan penghuninya, bagaimana kita akan tahu sifat dan kepribadian yang punya rumah.”

Benar juga. Okeh, ikut hadir.

Jalannya Acara

Saya dan beberapa ibu yang datang dalam satu kelompok, sampai ditempat saat sebgaian peserta lain sudah pada berkumpul dihalaman gedung. Pintu ruangan convention belum dibuka. Pimpinan rombongan yang mengajak kami menerima undangan dari temannya yang kemudian ditukarkan dengan tiket.

Masuk ke dalam ruangan. Diatas setiap kursi sudah disediakan tas kain yang berisi materi umum, snek dan air mineral. Sehingga masuk ruangan tidak perlu lagi mengantri panjang dan lama. Good job untuk panitianya.

Seperti acara organisasi umumnya, dibuka dengan do’a, dilanjutkan penyampaian informasi dari beberapa nara sumber, diselingi musik dan pembacaan narasi yang ditujukan untuk menggugah pemikiran peserta yang hadir.

Juga menampilkan kisah perjalanan seorang ibu yang berjuang memberikan pendidikan terbaik pada anaknya, demi berada di jalan yang sesuai dengan nuraninya, ia rela meninggalkan pekerjaan dari perusahaan multinasional dan memulai usaha dari rumah. Hampir di ujung acara diberitahukan kalau sosok ibu tangguh itu anggota baru organisasi.

Oiya, sebelum pembicara menyampaikan materi, pembawa acara memberitahukan bahwa dalam tas yang ada materi pembicaraan, ada lembaran kuis yang harus diisi dan dikumpulkan sebelum acara inti dimulai.

Isi kuis tentang pendapat pribadi peserta tentang sumber persoalan keluarga berupa meningkatnya perceraian, KDRT, kemiskinan, perselingkuhan dsb. Serta siapa yang memiliki peran paling besar dalam mengokohkan ketahanan keluarga. Sudah ada pilihan jawaban ganda yang harus dipilih.

Hasil jawaban dari para peserta dibahas setelah penyampaian materi oleh pembicara. Rata-rata peserta menjawab bahwa semuanya disebabkan oleh kelemahan individu dan yang bertanggung jawab ya keluarga.

Ada satu lembar kertas lagi yang harus diisi setelah mendengarkan semua rangkaian acara dan dikumpulkan setelah acara selesai. Pertanyaan hampir sama, hanya ada tambahan pertanyaan, apakah peserta bersedia mewujudkan tujuan organisasi dan berjuang bersama. Ada pilihan jawaban yaitu: bersedia, alasannya apa dan tidak bersedia, alasnnya juga apa.

Di penghujung acara di tutup dengan mengucapkan sumpah anggota. Kembali dalam pikiran saya timbul pertanyaan, “bukankah seharusnya acara ini ditujukan untuk anggota?”

Detail berlangsungnya acara mungkin bisa dilihat di web resminya muslimah HTI. Menurut informasinya, ada sekitar 1400 orang ibu yang hadir diacara ini.

Kepala Sudah Penuh Oleh Berbagai Informasi

Emak-emak seusia saya yang mempunyai media sosial, walau tidak aktif up-date status dengan opini sendiri atau meng-share opini orang lain, tentunya saya juga terhubung dengan teman-teman lama lewat pertemanan. Banyak yang sudah menjadi aktivis, ada juga yang masih seperti saya, masih harus lebih banyak belajar lagi.

Banyak yang berdiskusi dengan bahasa yang menyulut pertikaian.

Kepala saya mungkin sudah tidak terlalu encer, hingga kadang tidak begitu mudah menyerap dan menerima berbagai informasi baru.

Ditambah lagi, hingga saat ini, saya lebih banyak berada dilingkungan majemuk.

Saya hanya ingin tinggal di negeri tercinta ini dalam keadaan damai dan tentram, hidup berdampingan dan saling menghargai.

Dalam ‘pencarian’, saya pernah tersorong ke perkumpulan yang pemimpin diatasnya dominan dengan pemikiran liberal, juga pernah ikut nimbrung di perkumpulan yang tidak menggunakan ‘baju’ tertentu, kecuali muslim dan muslimah. Anehnya, saya selalu sebagai orang yang ikut hadir mendengar, bukan sebagai anggota.

Saya merasa saya tidak punya ilmu apa-apa untuk mengatakan kelompok ini yang paling benar, itu bukan. Saya hanya bertanya-tanya, bukankah muslim itu bersaudara. Jika landasannya sama, kenapa saling mengklaim yang paling benar? Bukankah seharusnya saling bergandengan tangan? Entahlah, mungkin ilmu saya memang terlalu dangkal dan sangat susah juga untuk ditambah. Mana banyak tanya lagi.

Membandingkan KIN Dengan Acara Calon Anggota MLM

Ini hanya pendapat saya pribadi.

Tidak mungkin membandingkan kedua acara tersebut. Keduanya sangat jauh berbeda.

Tapi, menurut saya ada persamaannya, yaitu setelah mendengarkan semua acara, membuat yang belum kenal menjadi lebih tahu dan dengan kesadaran sendiri berniat ambil bagian.

Saya pernah beberapa kali ikut acara ‘cuci otak’ yang dilakukan oleh MLM. Di dalam acara tersebut yang tidak semuanya sudah menjadi anggota, disampaikan goal yang akan dicapai, kemudian juga diberikan gambaran tahapan untuk sampai ke tujuan, bagaimana melakukannya, apa yang harus dilakukan. Tantangan apa yang kira-kira akan dihadapi saat melaksanakannya. Usai acara, semuanya seakan terlihat mudah dilakukan, ntar dilapangan baru keder sendiri dan MLM-nya pun jalan ditempat dan berujung dengan mengucapkan salam perpisahan.

Masih Belum Bisa Memahami Strategi Organisasi Ini

Kemaren itu, saya dan ibu-ibu satu rombongan yang ikut, lempeng aja semua perasaannya setelah acara usai. *atau mungkin saya aja barangkali.

Walau secara umum acara KIN juga menyampaikan informasi seperti itu, hanya saja pikiran saya yang sudah bebal, kurang bisa menangkap secara gamblang apa yang akan dilakukan organisasi ini untuk mewujudkan tujuannya.

Saya dan teman yang diajak jadi bertanya-tanya, jika diibaratkan sebuah tim permainan yang sudah terbentuk dan sudah solid, tidak bisa bongkar pasang lagi. Tapi tim itu dianggap tidak bisa merealisasikan apa yang diinginkan anggota lain yang berada diluar, yang sangat majemuk. Maka strategi apa yang akan dilakukan agar tim itu bisa mewujudkan impian anggota diluar tim yang sangat banyak.

Kalau menurut obrolan kami, cara yang bisa dilakukan adalah perwakilan anggota yang ada diluar, harus bisa mendekati pimpinan tim, atau anggota tim, kemudian perlahan mempengaruhi semua anggota tim dan menguasainya.

Cara kedua yang bisa diambil, memberikan kesadaran semua anggota yang ada diluar bahwa ada yang tidak beres dengan tim, kemudian mengambil alih tim secara paksa. Ini bisa dilakukan bila ada ‘kekuatan’ tambahan. Resikonya sangat besar, tim yang sudah terbentuk tahunan itu bisa hancur lebur. Boro-boro kejayaan baru yang akan ada, malah perang antar anggota yang takkan pernah usai. Belum lagi orang lain yang ikut campur dan berniat mengambil alih dan menguasai tim juga. Entahlah.

Mungkin karena kepala ini sudah terlalu lama berpikirnya seperti emak-emak.

Kalau dikatakan negara soko guru ketahanan keluarga, iya sepakat. Tapi untuk ambil bagian dalam mewujudkan tujuan akhir organisasi ini, pemikiran saya pribadi masih belum nyambung.

Sekali lagi, tulisan ini hanya cara pandang saya sebagai ‘orang luar’ yang diajak ikutan hadir diacara KIN 4.

Kesimpulannya menurut saya, negara memang bertanggung jawab mutlak atas kemakmuran masyarakatnya.

Generasi penerus bangsa, sekolah pertamanya ada di rumah, ditengah keluarga. Jika keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar anggota keluarga, bagaimana bisa memberikan pendidikan terbaik yang sekarang sangat mahal. Negara harus bisa menyediakan lapangan kerja atau mendorong terciptanya lapangan pekerjaan baru dan semua lapisan masyarakat bisa mengakses pendidikan murah berkualitas.

Pemerintah dan masyarakat yang saat ini ada, bertanggung jawab terhadap keberlangsungan negara Indonesia tercinta ini.

Iklan