Photo Challenge : Anticipation – Nunggu Hujan Reda


Anticipation alias antisipasi atau menunggu, merupakan tema photo challenge yang diberikan kali ini.

Hari ini, ketika keluar rumah untuk bersepeda santai, awalnya sedikit mendung, tetapi kemudian matahari pagi menampakkan diri. Cuaca terasa sedikit hangat. Tapi itu tak berlangsung lama, perlahan tapi pasti cahaya penguasa siang itu mulai meredup.

Sekitar pukul dua belas, hujan disertai angin turun dengan deras. Tidak lama, tapi bisa membuat kuyup semua yang bersentuhan dengannya. Sorenya, sekitar pukul empat, hujan kembali turun dengan deras.
Karena kondisi cuaca yang tidak menentu itu dan berhubung bocah ada keperluan keluar, tak begitu jauh sih. Tapi ia sudah dengan antisipasi lengkap, jas hujan dan payung senemunya. Walau begitu, jalannya tetap aja memilih menunggu hujan reda :mrgreen: .

anticipation

Anticipation

Pikiran emaknya langsung ingat dengan tema photo challenge minggu ini 😳 . Pura-pura nemenin nunggu sambil main hp, jepret. Kesannya memanfaatkan momen yang ada untuk sebuah bahan postingan. Biar dikira kreatif, padahal kepala lagi buntu dan malas mikir 😛 .

Jika takut basah, kenapa keluar saat hujan?
Bukan basah yang dipermasalahkan, tapi kondisi badan yang kurang fit.

Hujan sebuah kegembiraan.
Rata-rata para emak tentunya tahu bahwa hujan sederas apapun, kalau tidak disertai petir yang menggelegar, saat seperti itu adalah suasana paling menyenangkan bagi anak-anak umumnya, saatnya bermain air dan berbasah-basah. Saya baru tahu, ternyata ada juga sebagain anak yang merasa risi kalau pakaiannya basah *cerita tetangga tentang anaknya*.

Hujan kadang juga akrab dengan kesedihan.
Hujan yang seharusnya berkah bagi bumi, kadang juga dikira membawa nestapa.
Setelah turun berjam-jam, kadang banjir bandang datang tak terduga.Walau antisapasi sudah dilakukan dengan berbagai cara.

Hujan hanyalah perantara, karena sudah tak ada lagi belantara, yang ada hanya hutan beton dan kota.
Air yang ingin mencari jalan menuju muara, bisa membawa semuanya tanpa sisa.
Manusia memang bisanya menyalahkan bencana yang datang menimpa. setelah semuanya usai, semuanya kembali lupa, karena duka sudah berganti tawa. Itulah dunia.

Kenapa bahasannya jadi kemana-mana?
Baiklah, daripada ngelantur gak jelas, diakhiri saja dengan ucapan selamat berakhir pekan.

Iklan

13 comments

  1. Komplet ya Mbak, sudah pakai mantel, pakai payung juga, hehe. Tapi itu intip-intip malah saya pikirnya yang aneh-aneh deh. Kenapa sembunyi di balik pohon, tapi warna mantel dan payungnya ngejreng abis? Kenapa pula harus intip-intipan? Mohon maafkan, kalau melihat gambar unik pikiran saya suka melantur ke mana-mana.
    Saya suka hujan! Tapi kalau menghambat kegiatan, saya benci hujan. Ah, egoisnya saya. Padahal semua hal, termasuk hujan, kan terjadi karena suatu maksud?

    • Jangankan ngelihat foto, ngelihat dinding kosong aja pikiran memang suka mengembara kemana-mana, berarti masih sangat kritis 🙂
      Bukan sembunyi dibalik pohon, memang itu jalan keluar. Ngintip kapan waktu yang tepat untuk memulai jalan 😀
      Hujan kan juga bikin suasana jadi lebih romantis *halah

  2. Hujan sekarang itu gak kayak dulu, cuman bentar dan deras, gak bisa dijadikan alasan buat gak dateng rapat…wkakwa
    Dulu kan enak, sekali ujan tuh 3-6 jam…jadi lebih adem dan diem di rumah…whahwhawa

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.