Pantulan Diri di Kaca & Air


Benda yang bisa digunakan untuk melihat pantulan diri secara jelas adalah kaca dan air bening yang tenang. Ketika sedang berkaca saat bersolek, kita dengan mudah mengoreksi atau memperbaiki pakaian yang kurang rapi atau riasan wajah yang ketebalan atau mulai luntur. Kita memperbaikinya di sumber benda yang dipantulkan, tidak bisa di media yang memantulkan *kecuali kacanya buram*.

Begitu juga saat melihat bayangan atau pantulan diri di air yang bening dan tenang. Jika banyangan yang terlihat itu perlu sedikit koreksi, tanpa berpikir kita menyentuh bayangan di air tersebut. Airnya akan beriak dan bayangan yang terlihat justru semakin sembraut atau hilang sama sekali.

Pantulan di AirSaya kepikiran menulis pantulan di kaca dan air ini, gara-gara celutukan junior *maklum emak-emak nih*.

Kemaren itu saya seperti kekurangan waktu untuk ‘berdiskusi’, mendengar argumentasi junior. Saya memilih memutuskan langsung aja,”Kembali ke perjanjian yang pernah dibuat, hari sekolah tak ada acara nonton tv di pagi hari”. Masud saya itu salah satu caraΒ  menjaga ‘isi kepala’ junior dipagi hari, tidak terkontaminasi cerita aneh-aneh, biar tetap bersih sampai di sekolah. Apadaya, emaknya salah siasat.

Junior langsung melancarkan protesnya,”Bolehlah jika sudah rapi dan jam berangkatnya masih lama. Nanti anak mama ini tidak seperti anak yang lain lho“.

Kedua pangkal alis saya langsung merapat begitu mendengar pernyataan ‘tidak seperti anak yang lain’. “Apa maksudnya?”.

“Iya, anak lain itu, diijinkan sama ibunya nonton pagi, asal sudah rapi. Lagian, aku dilarang, Papa ga dilarang tuh nonton berita, bola sampai malam”. Emak langsung terdiam. Makanya jadi orangtua itu memberi contoh, bukan perintah atau larangan aja, Mak!

Di lain waktu, saya mengingatkan dia untuk tidak terus-terusan di depan laptop, kasian matanya. Dengan tangkas si junior menjawab,”Mama, kalau lagi rajin posting, suka lama juga di depan laptop”.

Duh, bukan salah junior yang kalau sudah asyik kadang lupa waktu. Lah emak bapaknya sendiri juga melakukan hal tersebut. Di kira anak tak begitu memperhatikan, ternyata ia merekam dan saat diberikan koreksi, ia menjadikan kebiasaan kita sebagai pembenaran atas sikapnya.

Sikap yang ditampilkan junior diatas, bisa jadi, juga pernah dilakukan oleh anak lain terhadap orangtua atau guru mereka.

Kembali ke pembahasan awal, bisa diibaratkan, anak itu hanyalah kaca atau pun air bening. Ia hanya memantulkan kebiasaan orangtua yang sering dilihatnya. Saat tersadar, orangtua tidak bisa langsung menyalahkan si anak, tapi harusnya mengingat sikap yang sudah tampilkan di hadapan anak-anak selama ini.

Belajar lagi sebagai orangtua.

Iklan

15 comments

  1. Jiahhh … Junior brilian deh ..!
    Itulah kita yg senior harus kasih contoh dan keteladanan yg betul dan benar pada junior … termasuk para senior di negeri ini … jangan seenaknya menaikan harga BBM … pikirkan ‘nasib orang kecil … 😦

    • benar tuh Om, kena smash senior sama junior jika tetap merasa yang paling tau segalanya.
      hihihi, BBM memang membuat bingung, harga barang2 yg sudah naik, kan ga mungkin turun lagi ya

  2. Jadi kita memang sebaiknya sering2 bercermin diri ya Mak, sebelum memberikan perintah atau aturan.
    Apa yg dilihat, itulah yg ditiru anak…

    Etapi, junior mmng keren n smart ya Mak πŸ™‚

    Salam

    • Benar sekali Bunda,
      kalau ga, semakin lama sepertinya emak dan anak akan semakin mempunyai gap. Orangtua menganggap anaknya ‘kurang sopan’, si anak merasa tidak melakukan kekeliruan.

  3. Ya … anak itu adalah peniru nomor satu di dunia …
    kelihatannya mungkin mereka tidak memperhatikan apa yang kita katakan … tetapi sebetulnya jauh di dalam benaknya … dia sedang menyerap perkataan kita bagai spons besar

    salam saya
    (17 : 3)

  4. Belajar menjadi orang tua memang gak ada habisnya, apalagi kalau mau jadi orang tua yang baik di masa sekarang dimana anak-anak diajarkan untuk menjadi sosok yang kritis. Aku juga sering koq Mbak ngalamin hal yang sama kalau ngelarang anak-anak melakukan sesuatu. Untungnya dengan penjelasan yang masuk akal mereka masih mau ngerti.

    • Kalau saya kata pamungkasnya biasany, mengingatkan mereka biar mereka ga perlu mengalami, apa yg sebelumnya orangtua atau orang lain alami, biasanya ngangguk mengiyakan akhirnya πŸ™‚

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.