Cara Menjaga Anak Dari Tontonan Kurang Mendidik


Acara televisi sekarang ini peruntukannya bagi mereka yang bisa membedakan baik dan benar untuk di contoh, mana yang hanya sekedar ‘hiburan’. Jika patokannya usia, anak remaja yang sedang dalam pencarian ‘jati diri’ pun terkadang masih sangat mudah terpengaruh oleh tontonan yang mereka lihat. Apalagi yang namanya anak belum akil balikh yang sangat cepat meniru apa yang dilihatnya.

Saya sendiri pun masih belum tau cara paling ampuh untuk melindungi anak dari tontonan kurang mendidik tersebut. Tapi, setidaknya saya berusaha memberikan pondasi pemahaman pada si anak dalam memilih tontonan.

Caranya :

Ga Usah Nonton

Idealnya sih usia anak dibawah 3 tahun tidak terpapar tontonan yang bukan peruntukan usianya. Lebih baik mereka diperkenalkan dengan cerita dan dongeng, biar imajinasi mereka berkembang. Tapi kenyataannya, tidak selalu seperti itu.

Kalau kata anak muda sekarang, semesta tak ikut mendukung. Akibatnya seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu di tulisan ‘mungkin aku hamil‘: anak mengartikan perut melilit disertai mual dan muntah itu dengan hamil 😥

Pendampingan Orangtua/Orang dewasa

Untuk anak usia SD, saat menonton sebuah acara, sangat perlu pendampingan dari orang dewasa yang di percayai si anak. Orang dewasa yang tidak membuat si anak sungkan untuk berdiskusi tentang apa yang dilihat dan di dengarnya.

Karena, walau di rumah orangtua tidak memberi ijin, di sekolah, dari teman bermain, si anak justru mendapat informasi sebuah tontonan. Rasa penasaran anak langsung terpancing. Saya tau beberapa acara televisi justru dari ocehan anak yang minta ijin atau ngajak nonton. Jika tidak di respon dengan baik, anak bisa nonton dengan cara ngumpet-ngumpet dari pandangan orangtuanya.

Anak dan TontonanPun kalau dilarang tanpa penjelasan yang bisa mereka pahami, yakinlah anak sekarang itu akan membandingkan dengan orangtua temannya. Orangtuanya sendiri akan diberi cap sebagai orangtua yang ‘ga asyik’.

Tontonan itu hanya Imajinasi Penulis dan Sutradara

Anak SD biasanya sudah paham arti kata ‘imajinasi’. Anak saya biasanya jika merasa ‘aneh’ dengan tontonan yang dilihatnya, dia akan ngoceh. Saat seperti itu saya lebih menekankan kalau yang ditontonnya itu adalah imajinasi orang lain, jika dia merasa tak cocok, matanya berhak untuk tidak melihat tontonan tersebut. Kemudian berikan perbandingan dengan tontonan anak-anak.

Walau dia sempat suka dengan satu tontonan yang kemudian mempunyai beberapa turunannya, yang awalnya sempat penasaran, karena tidak sesuai dengan imajinasinya, akhirnya tidak terpengaruh.

Jika ada tontonan yang di beri embel-embel berdasarkan kisah nyata, saya tetap mengingatkan kata ‘berdasarkan’ itu menunjukkan hanya sebagian kecil dari kisah nyata tersebut yang diangkat menjadi sebuah tontonan, sisanya tetap imajinasi pembuat ceritanya.
Cara penekanan kata imajinasi ini lumayan ampuh, emak ga perlu terlalu sering melarang :mrgreen:

Sobat punya cara tersendiri yang bisa ditambahkan?

Iklan