Kisah di Balik Pemilihan Presiden (Pilpres)


Kisah di Balik Pemilihan Presiden (Pilpres) merupakan cerita saya mewakili generasi muda yang dibilang ‘melek’ informasi dengan bapak saya almarhum yang mewakili generasi tua yang hidup di kampung. Informasi tentang riuhnya pilpres hanya beliau dapatkan dari televisi, radio atau aparat yang terkait pemilihan presiden itu.

Kisah pilpresnya begini *silahkan duduk manis untuk melanjutkan membaca. Pada pilpres 2009 lalu, wall facebook teman-teman penuh dengan share apa-apa yang menjadi keunggulan capres yang diunggulkannya. Juga kekurangan capres lawan yang tidak dijagokannya.

Merah Putih Teruslah Berkibar

Merah Putih Teruslah Berkibar

Semua sibuk berdebat kalau capres pilihannya yang terbaik dan ada juga yang kebablasan menjelek-jelekkan capres yang tak disukai.

Padahal semua informasi yang menjadi acuannya adalah share dari media lain. Kadang informasi yang di share itu ada yang penulisnya mempunyai identitas jelas, kadang malah ga tau siapa penulisnya. Pokok e semua tulisan yang memihak ke capres yang dijagokan, wajib share. Memakai cara-cara yang kurang elok pun tak masalah.

Saya mengikuti semua debat teman-teman itu sebagai pembaca pasif. Menjelang pemilu saya telpon ke kampung, nanya kabar kedua orangtua. Setelah ngobrol ngalor ngidul sama bapak, saya bertanya tentang capres pilihan beliau. Beliau dengan mantapnya menyebutkan salah satu nama calon.

Saya bertanya alasan beliau menjatuhkan pilihan ke capres tersebut. “Presiden itu harus berwibawa, sosoknya gagah dan orang-orang disini mau milih capres yang itu”. Saya berusaha mempengaruhi bapak dengan informasi yang saya dapat dari hasil ngintip debat teman-teman di FB dan baca-baca di internet.

Bapak tak terpengaruh, malah menantang saya dengan selorohnya,”kita lihat aja nanti, capres siapa yang menang” :mrgreen: . Selesai pilpres dan hasil quickcount sudah ada, bapak langsung menelpon saya cuma mau bilang,”capres pilihanmu kalah toh” πŸ˜† . Bapak dilawan πŸ˜‰ .

Selang berapa saat kemudian, kasus korupsi yang dilakukan pejabat pemerintahan heboh di pemberitaan. Beliau yang juga ikut memantau berita, ikut kecewa. Ternyata tak ada bedanya, yang muda masuk pemerintahan, tak tahan godaan juga. Beliau tak mau mengikuti berita televisi lagi, semua pinter bicara doang alasannya. Malah beliau suka protes ke ibu yang masih suka mengikuti berita di TV. Bentuk kekecewaan terhadap amanah yang tak dipegang.

Pilpres 2014 sebentar lagi, saya ingat lagi kisah pilres 2009 lalu dengan almarhum bapak. ‘Rumah’ facebook kembali penuh dengan debat keunggulan capres pilihannya dan kekurangan capres lainnya.

Teman-teman begitu mudahnya mengklik tombol share, tanpa mempertimbangkan tulisan yang di share itu sebuah opini atau fakta.

Tetapi sekarang ini berita yang di share itu ada juga berita yang tak memihak, berita yang menyejukkan. Berita yang mengingatkan kalau kedua kandidat capres tersebut baru ‘calon’. Belum ada satupun dari mereka yang teruji kemampuannya sebagai presiden.

Kedua capres tersebut juga masih manusia biasa, yang sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tetapi satu yang tak boleh diingat oleh semua pemilih, presiden itu hanya perpanjangan tangan rakyat.

Presiden itu bukan petugas partai atau wakil golongan tertentu. Presiden itu petugas “Pemimpin Bangsa” yang dipilih rakyat dan di gaji dengan uang rakyat. Presiden itu harus memakmurkan rakyat yang dipimpinnya, rakyat yang telah memberikan kepercayaan.

Sosok presiden itu harus mampu mempersatukan dan membawa bangsa sebagai bangsa yang berdaulat penuh di mata dunia.

Presiden atau pemimpin itu harus amanah. Setiap orang punya rekam jejak masa lalu, tetapi melangkah itu ke depan, bukan ke belakang.

Tentukan pilihan yang menurut kita bisa membawa Indonesia Raya berkumandang di seluruh penjuru dunia. Kisah di balik pilpres itu cukup sebagai diskusi dan kritik sehat yang saling membangun.

Iklan