Kehidupan Siang: Amalan Untuk Anak


Kehidupan Siang: Amalan untuk Anak dari seorang ibu yang bekerja pada tetangga depan rumah yang membiasakan dirinya dipanggil “Emak”. Membuatku tertunduk tanpa banyak kata.

Keasyikan dan keseriusan ku di depan notebook terusik oleh seret langkah yang mendekat ke pintu pagar. Ku lihat dari dalam, si Emak lagi melongok-longok sambil bergumam, ” kok sepi, sudah berangkat kali ya”. “Pak De, Pak De” dia memanggil sebutan yang beliau biasakan untuk bertegur sapa dengan teman hidupku.

Aku beranjak dari duduk, menghampiri, ” Ada apa Mak?”.

Si Emak dengan wajah cerah mendekatiku, “Pak De udah berangkat Jum’at-an ya Bu De, mau nitip amalan untuk anak mak yang udah almarhum”, sambil menyodorkan lembaran dua ribu rupiah ke tanganku. “Disampaikan ya Bu De, buat anak mak almarhum”. Aku hanya mengangguk, dada seakan di tohok Β oleh benda keras, sehingga susah mengeluarkan kata-kata.

Sambil tersenyum beliau pamit. Membawa wajah kebahagian karena telah menitipkan hal terbaik selain do’a untuk anaknya almarhum. Di hari yang baik dengan harapan penuh keyakinan, bahwa amalan beliau akan membuat si anak lebih tenang di rumah-Nya.

Aku menyeret langkah kembali ke depan notebook.

Aku, hal terbaik apa yang telah ku lakukan sebagai amalan.

Sebagai anak, sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai hamba-Nya.

Jangankan untuk memikirkan orang lain. Bersyukur untuk semua yang telah di dapatkan pun sangat berat, menganggap semua karena usaha sendiri. Berbagi? mana terpikir, selalu merasa kekurangan. Di kasih sedikit merasa di lecehkan, gak dikasih apa-apa merasa dilupakan.

Pesan Moral dari kehidupan siang amalan untuk anak. Bukan besar kecilnya kebaikan yang kita lakukan untuk orang tersayang, untuk sesama. Bukan seberapa banyak materi yang telah kita berikan. Tetapi sebuah ketulusan untuk melakukan semua, Β tak bisa di gantikan oleh apapun. Kasih ibu sepanjang masa.

Iklan