Seruni Indah


Sosok itu menatapku dari balik bingkai kacamatanya, dengan pancaran sayang kebapakan,  penuh perlindungan,, menunggu keputusanku.

Wajahnya sedikit tegang, tapi  keseluruhan sikapnya,, sosok itu siap menerima semua kemungkinan. Beda usia kami cuma 18th.

“Seruni”,, sosok itu bersuara lagi.

“Kami akan menikah, setelah kelulusan kalian,, tentu dengan siizinmu”,, suara penuh keyakinan dan harapan.

Mataku melirik Indah, sahabatku yang duduk tertunduk pasrah, dan begitu takut kehilanganku..

Ruang tamu berasa begitu sepi,, hanya detak jantung ketiga orang yang duduk disitu yang terdengar.

Pikiranku berkelana mundur.

Indah, sahabatku yang cantik dan pintar,, yang kukenal semenjak SD, saat dia jadi pendatang baru di Panti Asuhan dekat sekolahku,, menghindari teman lelaki yang mendekatinya,, ikut begadang setiap aku terbaring  sakit,  selalu ada untuk mendengarkan curhatanku,,

Baru ku ketahui,,  secara diam-diam, begitu mengagumi sosok itu, karena sikap kebapakan dan ketangguhannya membesarkanku.

“Aku,,  merestui kalian”, jawabku, berdiri sambil merangkul keduanya.

Kebahagian baru, bernama keluarga menungguku, sosok itu dan Indah.

Iklan