QR Pembayaran Digital ala Milenial, Hobi Nonton Film Terbaru Jadi Mudah


QR Pembayaran Digital ala Milenial

Hobi merupakan kegiatan yang disukai dan dilakukan dengan tujuan untuk relaksasi pikiran. Apa jadinya jika kegiatan menyenangkan itu diwarnai oleh hal kecil yang membuat bad mood. Apalagi untuk generasi milenial yang notabene akrab dengan dunia internet dan kemudahan yang didapatkannya. Bisa bikin geleng-geleng kepala orang yang mendengarnya. Mana penyebabnya hanya karena enggan melakukan transaksi pembayaran menggunakan dompet digital. Padahal sekarang ini transaksi pembayaran itu sudah sangat mudah yaitu dengan menggunakan QR Code (Quick Response Code).

Keukeuh Dengan Pembayaran Konvensional di Era Digital? Itu Mempersulit Diri Sendiri!

Memiliki sebuah hobi tentunya dengan tujuan untuk menghilangkan rasa jenuh dari rutinitas serta dapat memberikan kesenangan pada diri secara fisik dan rasa bahagia yang mengaliri jiwa. Bonus yang didapatkan sesudahnya adalah sebuah senyum kepuasan serta semangat baru dalam melanjutkan aktivitas.

Akan tetapi, hobi untuk menyenangkan diri sendiri itu bisa berubah menjadi kegiatan yang membuat kesal dan menjengkelkan hanya karena hal sepele. Seperti yang saya dan anak alami, sudah dari jauh hari merencanakan mau menonton film favorit dan terbaru, tetapi langkah kaki tertahan karena susah mendapatkan tiket. Penyebabnya hanya karena saya masih keukeuh mengandalkan pembayaran dengan cara manual (uang tunai).

Pengalaman Melelahkan Emak Jaman Old & Anak Jaman Now, Seminggu Berburu Tiket Manual untuk Nonton Film Avengers: Endgame

Setahun sebelum film Avengers: Endgame akan tayang, tepatnya setelah nonton film Avengers: Infinity War pada 25 April 2018 lalu, anak saya sudah wanti-wanti minta nonton kelanjutan film Marvel tersebut.

Hobi Harus Bikin Bahagia

Saat waktu tayang film yang ditunggu tiba itu sudah dekat, anak sudah mengingatkan saya untuk memesan tiketnya jauh-jauh hari. Tapi saya abaikan.

Alasannya karena jadwal perdana tayang film trending tersebut di Indonesia pada 24 April 2019 itu si anak masih disibukkan oleh jadwal Ujian Nasional. Saya meminta dia bersabar sembari memperlihatkan jadwal penayangan, “tenang aja, filmnya ditayangkan disemua studio, pasti ga bakal ngantri dan ribet nyari tiketnya. Fokus ujian aja dulu”.

Padahal, saya juga membaca di linimasa media sosial yang banyak bersileweran, betapa tingginya animo penonton terhadap film ini. Banyak yang mengeluhkan betapa susahnya mendapatkan tiket.

Demikian juga anak saya yang termasuk generasi Z yang tentunya berteman baik dengan generasi milenial akhir. Dia mulai khawatir jika usai ujian malah bakal ngantri panjang untuk mendapatkan tiketnya.

Dia juga sudah meminta saya berulang kali untuk memesan tiket secara online melalui aplikasi TIX ID saja dan pembayarannya menggunakan dompet digital DANA. Yang mana kedua aplikasi tersebut sudah lama dia pasang di ponsel saya dengan menggunakan akunnya dia. Tapi saldonya gak mencukupi, makanya harus ijin emak 🙂 .

Ketika dia meminta top-up saldo. Saya yang termasuk emak-emak jaman old tapi bungkusannya sok kekinian pun beralasan, “ahh, ga seru. Nonton film kok kayak pesan tiket pesawat aja. Tinggal samperin aja nanti bioskopnya”.

Anak saya ga berhasil mematahkan argumen emaknya ini.

Selesai dengan urusan UN, hal yang dikhawatirkan si anak pun terjadi!

Setelah ketersediaan tiket dicek secara online, bukan ngantri panjang lagi, tapi tiga hari ke depan tidak ada bangku kosong untuk menonton film ini di semua jam tayangnya di bioskop terdekat (30 menit perjalanan dari tempat tinggal).

Hunting tiket pada tiga hari berikutnya ada beberapa baris kursi yang masih kosong pada bagian depan. Si anak minta beli tiket yang ada itu secara online saja. Saya kembali menolaknya.

Saya memilih mengajak si anak agar bergegas menuju bioskop.

Ada yang belum juga keluar rumah, begitu dicek, tiket sudah habis.
Ada yang sudah separuh jalan, kena macet, begitu dicek lagi, kursi bioskop sudah penuh semua. Anak saya memberengut kecewa, dia khawatir jika sudah pergantian bulan, filmnya ga bakal tayang lagi. Mana spoiler film sudah bertebaran di internet. Dia ga suka nonton film yang spoiler-nya sudah tahu. Beda dengan saya, kalau mau nonton film ya nonton aja, walaupun sudah tahu jalan ceritanya.

Saya meyakinkan dia ga perlu khawatir, selama masih susah nyari tiket, itu artinya film itu akan masih tetap tayang.

Dia sudah tidak berminat melanjutkan perjalanan. Kami putar balik. Untuk menghiburnya saya mengajak dia untuk mampir dulu nyari camilan. Dia setuju dengan setengah hati 🙂 .

Setelah perutnya kenyang, wajahnya tetap aja suntuk.

Nonton Film Hobi yang menyenangkan

Sambil senyum saya mengatakan bahwa saya setuju untuk top-up dompet digital DANA miliknya, tentunya dengan mengevaluasi situasi yang kami alami, “terkadang kamu perlu merasakan situasi dalam keterbatasan seperti ini. Jaman mama remaja seusia kamu, berburu tiketnya ya seperti yang kita lakukan ini. Tapi, untuk kondisi zaman sekarang, hal itu sangat membuang waktu. Padahal, kemudahan sudah tersedia dalam ponsel, tapi tidak dipergunakan secara maksimal. Pesan moralnya, kamu harus belajar lebih bisa meyakinkan orang lain lagi, dalam hal ini mama, bahwa menggunakan dan memanfaatkan teknologi yang sesuai kebutuhan akan jauh lebih efisien dan memberi manfaat. Dalam kasus kita ini, jika semenjak awal menggunakan pembayaran elektronik, kita akan lebih leluasa memilih bangku, nontonnya juga sesuai tanggal dan waktu yang dipilih. Suasana nonton juga membuat happy”.

Anaknya manggut-manggut, “bukannya mama yang ngeyel, memilih berlelah-lelah dan bikin emosi jiwa? Padahal di tangan ada pilihan mudah”.

“Mama mau mengajarkan kamu situasi yang mudah-mudahan tidak kamu temui lagi di masa yang akan datang”.

Anaknya hanya mesem.

Akhirnya, setelah melakukan top-up, kami langsung ngecek jadwal film. Ada tiga bangku kosong tersisa di bagian depan, di pojok kiri layar untuk esok hari pada jam tayang pukul 20.30 WIB.

Mudah nonton film dengan QR tiket

Keesokan harinya, sesampai di bioskop, kami tidak perlu antri, cukup menuju meja yang bertuliskan M-Tix. Di meja tersebut tersedia dua layar monitor, dua camera pemindai, dan dua printer tiket. Saat itu kami memilih menggunakan layar monitor, menginput kode booking tiket dan mengikuti tahapannya, tiket langsung keluar di mesin printer. Beres.

Sangat mudah dan cepat.

Kekurangannya?
Ada, tapi hanya bagi cowok!
Tidak mendapatkan senyum dari mbak-mbak penjual tiket sebelum nonton film, hahaha.
Etapi, masih ada senyum di depan pintu masuk studio 🙂 .

Akhirnya, kesampaian juga nonton film Avengers Endgame.
Kami meninggalkan gedung bioskop pada hari itu hampir mendekati jam Cinderella juga harus meninggalkan pesta di dalam cerita 🙂 .

QR Pembayaran Digital ala Milenial. Metode Mudah, Cocok Untuk Semua Golongan Yang Punya Akses ke Internet

Sebenarnya saat nonton film dengan hunting tiket yang membuat lelah itu juga sudah ada camera pemindai QR code, hanya saja masih agak kurang familiar penggunaannya pada layar ponsel.

Setelah tindakan saya yang sempat membuat lelah anak dalam meng-hunting tiket film, sesudahnya saya selalu mengambil cara mudah dalam bertransaksi. Zaman sudah berbeda. Anak jaman now tidak perlulah mengalami kasak-kusuk seperti waktu emak remaja.

QR Code Apa Sih?

Kode QR atau QR Code (Quick Response Code) merupakan kode matriks (kode batang) dua dimensi yang mempunyai respon cepat dan mampu menyimpan informasi yang lebih banyak dan komplit secara vertikal dan horizontal.

Salah satu transaksi dengan QR Standar

Apa Bedanya QR Code dengan Barcode?

Barcode atau kode batang merupakan kumpulan data optik secara horizontal yang dibaca mesin pemindai, bentuknya 1 dimensi. QR menyimpan data lebih komplit dibandingkan Barcode. QR juga memiliki error correction yang tertanam di dalamnya yang menyebabkannya lebih tahan terhaadap kerusakan atau robek.

Fungsi QR Code & Cara Menggunakannya?

Berfungsi mendapatkan informasi yang tersimpan secara cepat.
Bahasa lainnya sebagai penghubung secara cepat informasi dari konten daring (online) dan luring (offline) dari media yang ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan efisien.

Penggunaannya tidak ribet. Cukup menggunakan ponsel yang mempunyai kamera yang dapat melihat titik-titik pada QR (bukan kamera jadul) dan didalam ponsel juga mempunyai aplikasi pembacanya, serta terhubung dengan jaringan internet.

Penggunaan QR Code

  • Kode ini banyak digunakan dalam dunia industri, misalnya QR yang berisi informasi data dan logo perusahaan, informasi tentang produk yang dihasilkan.
  • Dalam dunia pendidikan, data yang tersimpan bisa materi untuk presentasi kuliah, bisa untuk validasi nilai ijazah dan transkrip nilai agar mudah diotentikasi, bisa dipasang di kartu pelajar untuk absensi.
  • Di bidang perdagangan, QR bisa berisi informasi tentang kandungan gizi suatu produk, informasi tentang jenis transaksi pembayaran.

QR Standar BI yang dipakai dalam perdagangan Indonesia

Karena efisiensi yang didapatkan dengan pembayaran menggunakan QR code, Bank Indonesia menerbitkan peraturan pedoman tentang pemakaian Quick Response (QR) Code Indonesian Standard (QRIS).

Pedoman itu tertuang dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code untuk Pembayaran pada 16 Agustus 2019 lalu.

QRIS yang diterbitkan mengusung semangat UNGGUL (UNiversal, GampanG, Untung, dan Langsung).

Dengan adanya aturan ini, pembeli (konsumen) bisa melakukan pembayaran pada penjual (merchant) melalui bank atau Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang sudah terdaftar di QRIS.

Tujuannya untuk mendorong efisiensi transaksi, memajukan UMKM, yang akhirnya berujung mendorong pertumbuhan ekonomi agar Indonesia maju #majukanekonomiyuk.

Peluncuran QRIS ini merupakan realisasi Visi Sistem Pembayaran Indonesia (VSI) 2025 yang mana sudah dicanangkan dari Mei 2019 lalu.

Kelebihan Pembayaran Menggunakan QR Code Standar

Konsumen (pembeli) tidak dikenakan biaya transaksi, tapi dilimpahkan pada merchant dengan menggunakan persentase Merchant Discount Rate (MDR).

Wah, jika posisi kita sebagai penjual dapat biaya tambahan dong!

Ternyata, merchant (penjual) dengan QR standar ini justru dikenakan biaya lebih rendah dibandingkan menerima pembayaran menggunakan EDC (Electronic Data Capture).

Sisi baik lainnya dari QR standar adalah, pajak dari setiap transaksi melalui QRIS langsung disalurkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) sesuai dengan lokasi merchant berada #gairahkanekonomi.

Implementasi QRIS untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik berbasis server, dompet elektronik, atau mobile banking, akan efektif berlaku secara nasional mulai 1 Januari 2020. Jeda pengumuman dan masa efektif pemberlakuannya bertujuan untuk memberikan persiapan bagi PJSP.

Mari semua generasil milenial juga mempersiapkan diri.

Pembayaran Digital, Melaksanakan Hobi pun Jadi Mudah

Sebenarnya, jauh sebelum mempunyai akun dompet digital di ponsel, saya boleh dibilang hampir selalu membeli tiket secara online. Hanya pada kasus mencari tiket film Avenger Endgames itu memang agak iseng, dan berhasil bikin lelah anak. Alasannya karena film itu ramai diperbincangkan, dan anak saya sedikit agak kurang sabar ingin menjadi bagian keramaian tersebut. Dalam kacamata saya sebagai emaknya itu agak kurang baik.

Setelah kejadian itu, kami juga sering melakukan hobi nonton film bareng, atau dia jalan sama teman-temannya.

Seperti pada hari Kamis tanggal 24 Oktober kemarin, saya mengajak anak untuk menemani nonton film Maleficent: Mistress of Evil setelah dia pulang sekolah dan istirahat sebentar.

Sebenarnya dia agak sedikit malas, karena katanya itu bukan film seleranya. Tapi demi emaknya ini, ia pun bersedia dengan ogah-ogahan.

Tiket Film QR Code

Kami memesan tiket melalui smartphone, memilih tempat duduk yang sesuai, membayar dengan dana di dompet digital, berangkat ke bioskop, menuju meja M-Tix, memindai QR code pembelian tiket, ngambil tiket di printer, beli camilan, jalan menuju studio yang pintunya sudah terbuka, duduk manis, dan nonton.

Acara nonton berjalan lancar, cepat, dan waktu sesuai estimasi.

Karena proses nonton yang berjalan nyaman, anak yang awalnya bilang ‘bukan film dia’. Usai menonton malah memberikan pernyataan berbeda ‘seru juga filmnya’ ❤ .

Kesimpulan

  • Proses sebuah transaksi yang berjalan lancar sangat mempengaruhi mood dalam menikmati hobi.
  • Pembayaran digital dengan QR code sangat memudahkan dan mempercepat transaksi pembayaran.
  • Tidak perlu ragu lagi dengan sistem pembayaran digital karena sudah diatur standar BI.

Saya aja emak-emak generasi X sudah menggunakan transaksi QR code. Bagaimana dengan Anda? Saatnya beralih juga bukan? Yuk #pakaiQRstandar 😳 .

#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk


Cerita murni pengalaman pribadi.
Foto: YSalma & Aplikasi DANA, MTIX (Edit by YSalma).

Bahan bacaan:

· https: //id.wikipedia.org/wiki/Kode_QR diakses 25 Oktober 2019.
· https: //www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/SP_216219.aspx diakses tanggal 25 Oktober 2019.
· https: //finance.detik.com/moneter/d-4674496/bi-terbitkan-pedoman-aturan-standar-qr-code-indonesia diakses 25 Oktober 2019.

Disclaimer: Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog Bank Indonesia bekerjasama dengan PT. Media Televisi Indonesia.

 

28 comments

  1. Uang digital mungkin saat ini sedang disosialisasikan dan marak di kota besar. Hanya kota tertentu, ternyata. Karena di tempat saya, uang digital belum bisa dipakai.
    Tidak ada itu ojek online, tidak ada gopay atau ovo. Semua masih transaksi manual. Padahal Cianjur ini bukan daerah 3T kan?
    Jadi ketika kami tidak memakai uang digital, bukan kami mempersulit diri. Tapi justru solusi dari kesulitan hidup dimana di Cianjur uang digital belum bisa diterima sepenuhnya

    Salam
    Okti Li

    • Sebentar lagi Cianjur akan ikut ‘terkontaminasi’ oleh semua hal yang berbau digital itu, mba. Aku juga di desa kok, beberapa tahun sebelumnya juga belum ada, tapi dalam 2 tahun belakangan ini justru kita yg tertatih mengikuti pertumbuhannya.

      Kalau yg mempersulit diri itu tentunya ditujukan pada kasus seperti sy, udah ada aplikasi digital dalam ponsel, udah ada dompet digital, situasi utk mencari tiket secara manual padahal jg lagi susah, eh kok ya ngeyel tidak mau segera memanfaatkan teknologi 😳

      Kalau yang transaksi dengan uang tunai, bukannya itu juga metode pembayaran yg mengalami perkembangan, setelah sistem barter.
      Intinya dari semua metode pembayaran yang mau dipilih, pointnya tetaplah harus “ada UANG untuk membayar transaksi yang dilakukan itu” 😀

  2. Jadi inget dulu suami juga belinya enak pake qr gini, film end game lama banget ya durasinya 3 jam dulu hehe. salam kenal mba 🙂

    • Peminatnya dulu heboh banget ya, makanya mesan tiket secara online dan ngambil tiketnya menggunakan QR Code jd memudahkan banget. Mau nontonnya harus sudah ke toilet, nyiapin camilan dan minum yang lumayan juga.

      Jabat tangan, mba Sri 🙂

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.