Perjalanan Silaturrahim : Tak Mempersiapkan Mental Untuk Macet? Waktu Tempuh Terasa Panjang


Niat perjalanan karena untuk menjaga silaturrahim tetap harus direncanakan dengan sebaik mungkin, baik fisik maupun mental. Gegara sebelum berangkat tak mempersiapkan mental untuk bermacet-macet di jalan, perjalanan yang hanya memakan waktu tempuh pulang pergi 8,5 jam pun terasa panjang.

Padahal, untuk ukuran daerah Jabodetabek dan sekitarnya, itu merupakan waktu tempuh perjalanan yang wajar.

Perjalanan silaturrahim? Apapula itu.

Perjalanan untuk menjaga, menyambung, hubungan kekerabatan saling kenal. Bukan untuk menjelajah daerah atau mengunjungi tempat wisata.

Perjalanan itu dilakuan tidak mesti karena hubungan pertemanan secara personal, tapi juga karena alasan orangtua yang saling mengenal. Baik mereka masih ada, atau sudah almarhum. Kita melakukannya untuk mewakili mereka. Misalnya, perjalanan untuk menghadiri hajatan suka maupun duka.

perjalanan panjang
Perjalanan tak berujung? 😳 .

Kalau untuk menghadiri acara suka, seperti pesta pernikahan, khitanan, aqigahan, tentunya bisa dilakukan kalau mendapat undangan. Tetapi, untuk yang duka, seperti menjenguk yang lagi sakit, kematian, atau musibah lain, itu sebaiknya dilakukan kalau kita mendengar kabarnya.

Dulu, saya sangat rajin melakukan perjalanan seperti ini. Tapi, karena sesudahnya tetap aja mendengar omongan negatif, sempat agak rada malas.

Padahal, jika kondisi memang memungkinkan, harus tetap dilakukan, terlepas pendapat orang lain. Biarkan itu menjadi urusan isi kepala dan mulut mereka 😳

Dari akhir tahun kemarin hingga pertengahan bulan tahun ini, saya sering melakukannya lagi.
Alhamdulillah masih diberi nikmat sehat ❀ .

Rencana Matang, Antisipasi Kurang

Acara, Sabtu 12 Januari 2019, menghadiri pesta pernikahan orang kampung, kebetulan orangtuanya juga teman sekolah dulu.
Titik keberangkatan, daerah kabupaten Bogor yang berada dipinggiran Jakarta Timur.
Tujuan, daerah sekitar Serang, Banten.

Jauh hari sebelumnya, saya dan teman hidup sudah mencaritahu lewat google map ancar-ancar lokasi yang mau dituju. Semua info tersedia. Perkiraan waktu tempuh untuk jarak 104 km sekitar 2 jam, kalau lancar.

Alternatif rute yang tersedia juga dipelajari. Diketahui bahwa waktu tempuh tersingkat melalui tol dalam kota Jakarta, Cawang, Slipi, Kebon Jeruk, arah tol Merak.

Kita memutuskan merasa cukup memberi toleransi untuk macet sekitar 1 jam.

Maka disepakati, esok berangkat sekitar pukul 10 pagi. Karena bukan keluarga dekat, diperkirakan tidak akan terlalu banyak amprokan dengan saudara yang lain. Biasanya, ngobrol dengan yang ketemuan diacara seperti ini, yang membuat waktu menghadiri acara bisa berlama-lama. Ketemunya kan jarang-jarang, makanya dimanfaatkan sebaaik-baiknya, kalau bisa sesuai pepatah, “sambil menyelam minum air.” *kembung dong!* πŸ˜† .

Acara kali ini ancar-ancarnya, salaman, beramah tamah, makan, ngobrol-ngobrol bentar. Cukuplah sekitar tiga puluh menitan.

Perkiraan nyampai rumah lagi sekitar pukul 4.30 sore.
Sangat lebih dari cukup bagi teman hidup untuk istirahat melepas penat perjalanan sebentar, sebelum menghadiri acara lain setelah Isya.

Lupa, Jalanan Jakarta Dan Sekitarnya Hanya Lengang Waktu Libur Lebaran

Pada hari H, karena merasa rencana sudah disusun matang, dengan yakinnya kita bersiap-siap agak rada-rada nyantai. Ga ada yang merasa terburu-buru.

Akibatnya, waktu berangkat dari rumah yang direncanakan pukul 10 pagi, molor 30 menit. Dalam hati, “masih dalam batas toleransi lah” 😳 .

Berangkat.

Awal perjalanan aja yang tidak padat, mau mendekati wilayah Jakarta, mulai padat merayap.

Macet yang diperkirakan hanya satu jam, ternyata bertambah dua kali lipat.

Satu lagi, karena sudah pada sarapan semua, saya sebagai emak hanya membawa air minum secukupnya. Camilannya lupa.

Lelah pikiran duluan, karena membingungkan bakal nyampe rumah lagi jam berapa, membuat rasa lapar juga cepat menyerang.

Akhirnya, menepi bentar untuk nyari camilan pengganjal perut.

Nak bujang abege yang susah payah dirayu untuk ikutan, mulai merasakan jenuh. Padahal, dia sudah sempat tertidur, tapi belum juga masuk tol dalam kota :mrgreen:

Setelah dalam tol, ternyata jalanan juga padat merayap.

Dia mulai menyampaikan uneg-uneg, “tuu kan, dalam tol juga macet, walau hari Sabtu. Udah benar tadi aku ga usah ikut. Mamanya sih, maksa-maksa.”

Tambahan lagi, selama perjalanan saya selalu meminta dia untuk tidak memegang ponsel, main game. Kecuali, untuk memantau kondisi perjalanan melalui google map.

Untuk mengantisipasi rasa bosan, kalau mendengar musik, justru akan membuat sibuk dengan pemikiran masing-masing *ngelamun*.

Seperti perjalanan panjang lainnya, kami memilih lebih memperhatikan kondisi depan, kiri, kanan jalan untuk dijadikan bahan obrolan πŸ˜† .

  • Membahas Ganjil Genap

Karena berangkat sudah siang, teman hidup baru ingat tentang aturan ganjil genap. Saya mengatakan bahwa hari ini tanggal genap dan kendraan platnya ganjil. Aman.

Nak bujang pun terpicu untuk mengingat bilangan genap dan ganjil 😳 .

Ia mulai memperhatikan plat kendraan yang ada bersileweran. Ada yang genap, banyak yang ganjil. Ada yang plat dari luar pulau. Semua jadi bahan obrolan menarik.

  • Main Cari Kata

Setelah obrolan ganjil genap daya tariknya berkurang, nak bujang pun mulai melihat kata yang diperkirakan sulit dicari oleh mata emaknya. Begitupun sebaliknya.
Kegiatan ini lumayan bisa membuat ngakak, karena ternyata banyak kata-kata lucu yang terbaca.

  • Nanya-Nanya Mbah Google

Diantara permainan cari kata, nak bujang juga bertanya ke mbah google, tempat apa yang ingin dia ketahui di daerah yang kami lalui.

“halo google, toko komputer terdekat”.

*alamak, yang dicarinya? *
Efek abege yang sedang terpukau oleh komputer-komputer rakitan.

  • Kota, Dengan Gedung-Gedung Tinggi. Daerah, Dengan Pemandangan Alam Yang Hijau.
perjalanan silaturrahim
Pemandangan hijau selalu membuat adem mata dan jiwa #halah.

Karena selama perjalanan nak bujang lebih memperhatikan sekitar, saat sudah meninggalkan daerah tol Tangerang kota, dan semakin dekat dengan daerah tujuan, ia mengucapkan hasil pengamatannya, “tolnya sudah mulai lancar. Gedung-gedung tinggi sudah tak terlihat. Sawah dan area hijau tampak luas, berarti daerah ini termasuk kota kecil. Ga ada mall-nya πŸ˜› “.

“Memangnya mau ngapain kamu ke mall?”, sembur emak.

“Enggak. Kalau ada mall khusus komputer, bisa mampir bentar. Lihat-lihat aja,” dengan wajah tanpa dosa.

“Emang daerah Glodok atau Manggadua ini?”

Nak bujang hanya nyengir.
Emak hanya bisa geleng-geleng.

  • Nyari Kopi Dulu

Ini waktu arah balik. Teman hidup merasa perlu dopping dengan kopi hangat. Menepi sebentar, begitu melihat gerai mini market yang juga ada gambar kopinya. Nak bujang memilih cappucino dingin. Saya dipesankan air putih, plus mencicipi minuman mereka berdua 😳 .

Lega, Nyampai Tujuan.

Ternyata, yang membuat perjalanan terasa panjang, sebenarnya bukan karena macetnya. Tapi, lebih kepada pikiran. Karena, ditengah perjalanan sudah memikirkan gimana arah balik, secara sudah ada kegiatan lain yang menunggu.

Di tempat acara, ketika udah mau balik, saya sempat bertemu beberapa teman lama waktu SD dan SMP. Ada yang masih ingat, karena satu minggu sebelumnya sempat bertemu diacara lain. Ada yang mereka sepertinya lupa. Sama seperti saya juga, merasa mengenali beberapa wajah, tapi kurang yakin.

Nak bujang karena setiap salaman selalu dikomentari, “ini anaknya YSalma?”, berbisik, “Teman mama itu memangnya mau kenal aku?”

“Bukan. Itu namanya berbasa-basi dengan teman lama. Pertanyaan itu maksudnya, hanya ingin memastikan bahwa kamu anak mama.”

“Oooo. Mereka itu, hanya teman-teman doang. Maksudnya, hanya sekampung aja, atau benar-benar teman sama sekolah, mama.”

Mamak pun bercerita. “teman waktu SD juga, karena mama kan sempat pindah-pindah sekolah ke SD tetangga desa. Saat SMP juga sama sekolah lagi. Ada yang sempat satu kelas, ada yang beda. Memangnya kenapa?”

“Enggak. Mungkin karena teman mama itu make-up nya tebal-tebal, jadinya terlihat usianya jauh diatas, mama.”

“Artinya, Mama mu terlihat awet muda dong,” sembari senyum-senyum.

“Mungkin,” jawab nak bujang dengan nada datar πŸ˜† .

Memperhatikan silaturrahim di tempat acara membuat rasa lelah selama perjalanan hilang dari wajah nak bujang.
Alhamdulillah.

Arah Balik, Lebih Nyantai

Sesuai rencana, ditempat acara tidak berlama-lama, sekitar 40 menitan. Beranjak dari seputaran lokasi acara sekitar pukul setengah empat sore. tentunya dengan membeli camilan terlebih dahulu. Tidak mau mengulangi kesalahan awal perjalanan 😳 .

Teman hidup memilih melewati tol lingkar luar, melalui tol BSD Tangerang.

Apa mungkin karena sudah sore, arah balik agak lumayan lancar. Tersendat saat keluar tol menuju BSD.
Walaupun waktu tempuh arah balik hampir sama, tapi kami sempat menepi untuk ngopi dulu.

Akhirnya nyampai rumah, tepat sebelum adzan Isya berkumandang, sekitar setengah delapan malam. Ditemani gerimis yang lumayan membuat jemuran kering lembab kembali #eh.

Pesan moral dari sebuah pertemuan silaturrahim: kurangilah berprasangka negatif. Bersyukur dan berterima kasih atas mereka yang bisa hadir, dan maklumi mereka yang berhalangan.

Kesimpulan.

Menghadiri acara silaturrahim yang waktu tempuh perjalanan lebih dari dua jam sekali jalan, untuk wilayah Jabodetabek, agar tidak merasa lelah sendiri, tidak bisa disambi dengan acara lain.

Keluar rumah, harus diniatkan untuk perjalanan seharian. Persiapkan bekal camilan, minuman ,dan bensin yang cukup.

Saat meninggalkan rumah, pastikan semua dalam kondisi aman, seperti jendela, pintu, colokan listrik, hewan peliharaan kalau ada. Begitupun dengan jemuran, gantung di tempat yang aman dari air hujan 😳 .

***
Catatan receh emak-emak yang keasyikan berkeliaran dengan kendaraan roda dua bututnya, namun masih asyik buat menerobos macet. Hingga sedikit lupa saat berada dalam antrian macet yang panjang.

Iklan

10 comments

    • Biasa, namanya berkumpul banyak orang.

      Kalau ketawanya agak heboh dengan yg ini, sementara dgn itu senyum aja, diomongin pilih2.
      Kalau dua acara yg hampir berdekatan, yg ini ga sempat didatangi, yg itu didatangi, diomongin jg.

      Terakhir ketemu saat masih kanak2, ketemu setelah dewasa dan lupa. Dia lupa juga, tp lebih sedap ngebahas lupanya orang lain, Anak si Anu,,, bla,,bla,,,
      .
      .
      .
      dst,,,

      πŸ˜†

  1. Pernah gak, Mbak kita udah jalan tiba-tiba di tengah-tengah kita inget sesuatu “aku udah matiin kompor belum ya?” akhirnya kepikiran sepanjang jalan.

    Antisipasi macet, sebelum jalan kita check traffic lewat Google Map Traffic agar tahu estimasi lama perjalanan.

    • Hampir mirip, Han. Biasanya, sebelum keluar rumah, saya ngider dulu ngecek ini itu. Tapi, kadang suka ada yg kelewat, biasanya ingatnya begini, “waduh, aku lupa minggirin jemuran. Pernah jg aku lupa matiin kran air 😦 .

      Traffic perjalanan baru terlihat setelah terlanjur masuk di jalur macet itu Han. Maju kena, mundur ga bisa, Lalui aja πŸ™‚

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.