Cerita ‘Perjalanan’ Hidup di Awal 2018


Hari ini sudah hari ke lima di tahun 2018. Ternyata, jika mau membuka mata dan melihat sekeliling, banyak pelajaran hidup dari sebuah ‘perjalanan’ yang mungkin bisa diambil kesimpulannya. Bisa jadi pengingat bagi diri sendiri ataupun orang lain.

Petualangan Awal Tahun Naik Turun Angkutan Kota

Hal ini dilakukan karena sebelumnya, si anak bujang pernah bercerita bahwa dia kebingungan saat ada tugas membuat denah lokasi dari sekolah ke suatu tempat.

Padahal, sebelumnya dia sudah sangat sering mengunjungi tempat tersebut bersama kami orangtuanya.

Saya pun mengingatkan anak bujang yang bingung membuat denah lokasi yang pernah dikunjunginya, itu merupakan salah satu efek tidak memperhatikan daerah yang dilewati saat diajak jalan. Karena masih saja sibuk dengan ponsel.

Cerita Perjalanan Naik Angkot

Memang, teknologi sudah canggih.
Saat ini pun untuk sampai ke lokasi tertentu tinggal lacak dengan GPS (Global Positioning System) yang berbasis satelit itu, atau tanya google map. Mudah.

Akan tetapi, bila sinyal tidak ada, seseorang untuk tetap bisa mengetahui suatu lokasi dan sampai ke tujuannya, tetap saja harus bertanya dengan jurus ‘Gunakan Penduduk Setempat’.

Apabila kasusnya seperti anak bujang yang harus membuat peta lokasi dari sekolah menuju suatu tempat yang pernah dikunjungi. Setidaknya, dia harus rajin mengamati lingkungan yang dia lewati dan menyimpan gambaran umumnya diingatan.

Tanggal 2 Januari 2018, memanfaatkan hari terakhir libur sekolah, saya pun mengajak si anak bujang untuk berpetualang naik turun angkutan kota ke wilayah dulu kami pernah tinggal. Perjalanan akan ditempuh dengan 5 kali nyambung angkot dan perkiraan waktu tempuh 2 jam sekali jalan.

Hari itu dipilih agar memberikan gambaran umum kondisi perjalanan dihari biasa, karena yang kerja sudah pada kerja dan sebagian anak sekolah sudah pada masuk.

Alasan Memilih Angkutan Kota (angkot) :

Masih Bisa Ngobrol, Walau Harus Berbisik. Kami berdua (saya dan si bujang), kalau menggunakan ojek pangkalan atau online akan butuh dua kendraan. Obrolan ibu anak tidak akan ada. Malah saling mencemaskan satu sama lain. Kurang menarik.

Punya Pengalaman Berbeda. Jika menggunakan kendaraan roda empat yang berargo ataupun online, waktu tempuh akan lebih lama karena yang kami lewati daerah macet. Pengalamannya juga kurang lebih sama sama saja dengan menggunakan kendraan pribadi. Biasa aja, gak seru.

Angkot Lumayan Bisa Menerabas Macet Asal Ga Kelamaan Ngetem. Angkot ternyata punya trik sendiri melewati macet dengan lewat di jalur paling kiri jalan. Selagi bodynya bisa lewat, bakal dihajar terus oleh sopir untuk melewati macet. Terkadang malah ada yang nekad memilih jalur kanan. Kalau angkot yang seperti ini sangat membahayakan penumpang.

Belajar Toleransi. Berada di kemacetan jalanan di dalam angkot yang penuh, harus bisa bertoleransi. Terutama dengan keringat orang lain 😳 .

Kepedulian Jalanan

Sesingkat apapun perjalanan yang dilakukan dengan menggunakan kendaraan masyarakat kebanyakan, banyak hal yang akan bisa dicatatkan.

Tipe Penumpang:

Ketika berada di angkot yang duduknya hadap-hadapan, umumnya kita akan berusaha menjaga pandangan, sembari tetap waspada dengan memperhatikan sepintas gerak gerik penumpang lain.

Penumpang angkot itu kadang ada yang cuek. Membawa barang bawaan banyak, tetap aja nyantai walau bawaannya bakal mengganggu penumpang lain. Malah penumpang lain yang merapi-rapikan bawaan yang menghalangi jalan itu.

Ada juga penumpang yang masih memperlihatkan bahasa tubuh bahwa dia sebenarnya kurang cocok naik angkot, tapi karena terpaksa, makanya dia berada dalam angkot πŸ˜› . Kalau tipe yang seperti ini mungkin lupa untuk belajar pada bunglon, bahwa dimana pun berada, setidaknya coba untuk membaur agar tak mencolok.

Ada juga penumpang yang hanya fokus dengan diri dan tujuannya. Mungkin karena perjalanan itu sudah rutin dilakukannya, sudah seperti hapal lokasi yang dilewati walaupun sembari memejamkan mata. Ia hanya butuh istirahat sejenak saat diangkot, tidak terlalu peduli pada hal lain.

Tipe Sopir

Ada yang adem-adem aja. Membawa kendaraannya juga kalem.

Ada sopir yang bawaannya seperti orang marah-marah mulu. Ada aja hal yang membuat dia ngomel ga jelas.

Ada yang sukanya mengumpat hingga membuat jengah yang mendengar. Kalau sopir angkot seperti ini, penumpang sepertinya lebih baik turun dan pindah angkot lain.

Catatan Warna Perjalanan di Awal Tahun

Cerita di ngkot pertama berjalan standar.
Saat naik angkot yang kedua yang masih ngetem, baru terisi beberapa orang penumpang.

Saya dan anak bujang memilih duduk di bangku deretan belakang sopir. Anak bujang paling ujung.

Karena angkotnya ngetem di lokasi empat persimpangan jalan. Saya berbisik memberi tahu arah yang dituju dari percabangan jalan tersebut pada anak bujang.

Anak bujang pun sibuk memperhatikan sekeliling lewat kaca belakang angkot.

Di depan nak bujang sudah duduk seorang mbak-mbak dengan riasan wajah lumayan lengkap serta berpakain kasual. Kaos ketat dibalut jaket berbahan jeans. Wajah si mbak sudah dibanjiri keringat. Tapi dia tetap terlihat bahagia sembari memainkan ponsel layar sentuh. Sesekali terlihat selfie.

Di sebelah si mbak, berarti dihadapan saya, duduk seorang bapak sudah lumayan sepuh dengan wajah meringis. Wajahnya juga sudah berkeringat.

Masih di deretan saya, dibelakang bangku sopir persis, sudah duduk dua orang ibu-ibu berpakaian rapi.

Angkot belum juga jalan. Gerahnya jangan ditanya. Si anak bujang sudah bungkam aja karena menahan gerah.

Tak berapa lama, naik seorang ibu lagi, duduk disebelah dua orang ibu berpakaian rapi.

Menyusul seorang ibu yang berbadan lumayan subur dan anak lelakinya seusia anak bujang. Si anak lelaki duduk di sebelah saya persis, karena ruang tersisa tidak memungkin si ibu untuk duduk disitu. Si ibu memilih duduk di sebelah si bapak yang dihadapan saya.

Di bangku depan samping sopir juga sudah terisi. Terakhir, naik seorang remaja wanita dan duduk disebelah si ibu yang bertubuh agak subur, dekat pintu. Si ibu menggeser duduknya sembari minta ma’af ke sibapak disebelahnya karena jadi sempit.

Karena bangku sudah terisi 4-6, angkot pun jalan.

Pak sopir pun bertanya, apakah tujuan penumpangnya lumayan jauh semua atau pada turun di pemberhentian terakhir.

Hal ini ditanyakan karena sebelumnya ada yang memberitahu si sopir, ada truk yang mogok di jalan yang akan kami lalui. Itulah penyebab kemacetan parah.

Si sopir berencana mau lewat jalur alternatif.

Penumpang diam, berarti pada jauh semua. Pak sopir tersenyum lega.

Tetiba, mba yang duduk disebelah anak lelaki samping saya bersuara, menyebut tujuannya. Mbak yang berpakaian kasual juga ikut bersuara menyebutkan tujuannya.

Pak sopir menarik nafas berat. Ia harus lewat jalur macet.

Perjalanan Awal Tahun

Walau sopir sudah memilih jalur mepet got, jalannya angkot tetap saja hanya beringsut.

Karena anak bujang saya perhatikan sudah bercucuran keringat, saya pun menyodorkan tissu basah yang kebetulan juga tinggal satu, agar digunakannya untuk melap wajah dan bisa memberi sedikit rasa adem.

Mbak kasual yang duduk di depan nak bujang, sudah bercucuran keringat, melirik apa yang dilakukan si bujang. Si mbak sepertinya tidak membawa tissu atau saputangan.

Saya merasa kurang enak hati, hanya bisa melempar senyum.

Tetiba, diluar perkiraan saya, si anak bujang mengeluarkan botol minum yang memang sudah dipersiapkan dalam tasnya. Mana dibagian luar botol masih ada rembesan bulir-bulir air dingin.

Tanpa merasa bersalah, anak bujang minum air di botol miliknya itu.

Saya berbisik ke anak bujang, “kamu minum minuman dingin ditengah penumpang lain yang kegerahan tanpa bisa berbagi, itu kurang baik.”

Si anak bujang nyengir sembari nyahut, “lupa, Mam. Karena haus”.

Mbak berbaju kasual terlihat semakin kegerahan dengan melonggarkan jaketnya. Ia pun menoleh keluar kaca angkot yang tak bergerak oleh macet.

Kebetulan, di pinggir jalan ada mini market yang berdampingan dengan rumah makan. Si mbak kasual senyum ke arah saya, “saya udah ga kuat gerahnya.”

Saya hanya bisa mengangguk dan membalas senyum.

Si mbak kasual memilih turun dari angkot.

Sopir hanya bisa bingung karena si mbak kasual sudah turun sebelum sampai tujuan yang sebelumnya disebutkan. Mana dengan wajah bercucuran keringat yang tak di lap, karena bisa menyebabkan riasan wajahnya bermasalah kalau di lap sembarangan.

Pak sopir semakin melongo, begitu mengetahui si mbak kasual ternyata masuk ke rumah makan setelah turun dari angkotnya.

Pak sopir yang masih mengikuti si mbak kasual dengan matanya, spontan bersuara, “lah, si mbak mau ngadem sambil makan πŸ˜† “.

Tidak berapa lama setelah angkot beringsut lagi, si bapak yang sebelumnya duduk di sebelah mbak kasual dan terlihat meringis, bersuara ke arah saya menanyakan rumah sakit.

Saya yang sebelumnya melongok ke arah luar lewat kaca angkot, tidak bisa leluasa melihat karena tertutup macetnya kendaraan.

Saya hanya mengira-ngira daerah tersebut secara umum. Tapi, saya kurang tahu persis, berapa jauh lagi rumah sakit yang ditanya si bapak.

Saya pun bertanya ke mbak disebelah anak lelaki yang duduk di kanan saya. Si mbak menggeleng. Begitupun dengan dua orang ibuk yang berpakaian rapi.

Akhirnya, saya mengencangkan suara pada pak sopir, menanyakan lokasi rumah sakit. Pak sopir bilang masih di depan.

Begitu angkot sampai di depan rumah sakit, pak sopir memberhentikan angkot, seraya memberitahu saya bahwa rumah sakit ada diseberang. Si Pak Sopir mengira saya yang akan turun.

Saya pun memberitahu si bapak sepuh yang dari tadi terlihat meringis kalau rumah sakit diseberang jalan. Beliau bangkit dan mengucapkan terima kasih.

Ibuk yang duduk disebelah si bapak, bersuara, “O, ternyata si bapak hanya sendirian. Kasihan ya, mana mau berobat sepertinya.”

Saya mengangguk sembari tersenyum.

Setelah melewati truk yang mogok, jalanan mulai lancar.
Angkot pun melaju.
Gerah pun sedikit berkurang.

Tak berapa lama, pak sopir memberhentikan angkotnya dengan mendadak, seraya berteriak keluar jendela, “kasihan anak yang masih kecil-kecil itu. Kalau lo mati mah gua gak peduli, udah pada tua.”

Saya bingung dan memperhatikan siapa yang diteriaki si pak sopir. Ternyata dua orang ibu-ibu yang sedang berboncengan motor matic dengan membawa dua anak kecil. Satu anak berdiri di depan, satunya duduk diantara dua ibu tersebut.

Suara pak sopir angkot masih saja terdengar, “menyebrang main selonong aja, ga sayang apa sama nyawanya. Ntar kalo kenapa-kenapa, kita juga yang pada disalahin.”

Maapkeun ibuk-ibuk yang bawa motor ya pak sopir πŸ˜€ .

Penumpang angkot sudah pada naik dan turun, hingga saya sampai ditempat terakhir trayek angkot.

Saat naik angkot selanjutnya, saya melihat seorang bapak yang sepertinya juga berjalan berdua dengan anak gadisnya yang mulai remaja.

Si bapak maunya, anak gadisnya duduk di sebelah dia. Tapi, si anak gadis malah milik duduk dibangku seberang si bapak, di sebelak anak lelaki abege yang pulang sekolah dengan angkot tersebut. Si bapak terus memegang tangan anak gadisnya yang baru mau beranjak remaja tersebut.

Saya senyum sendiri melihat pemandangan tersebut. Si bapak sepertinya belum ikhlas anak gadisnya sudah beranjak remaja dan sudah berani lirik anak lelaki abege di depannya πŸ˜† .

Sementara anak bujang yang duduk di samping saya sibuk memperhatikan daerah yang dilewati angkot. Ia berbisik bahwa dia mulai ingat daerah yang sedang kami lintasi dengan angkot tersebut. Tidak begitu banyak perubahan.

Cerita di angkot terakhir biasa saja.

Setelah sampai dilokasi yang kami tuju dan harus menyebrang jalan yang tak ada jembatan penyebrangannya, anak bujang merasakan perbedaan pembangunan yang sedang dialami kota yang sedang kami sambangi ini, “nyebrang jalan terasa lama, Mam. Biasanya kalau nyebrang jalan di depan komplek dekat rumah hanya sekelabat aja.”

“Ya iya dong, nak. Ini kan jalan utama kota ini. Kotamadya lagi. Ada berapa jalur dengan volume kendaraan yang sangat padat. Di tempat tinggal kita, jalan yang kamu seberangi itu jalur alternatif sebuah kabupaten”.

Rasa penasaran si anak bujang dengan perubahan kota yang sudah lumayan lama tidak mau dia kunjungi hanya karena alasan tidak mau bermacet-macet dijalan, pun tuntas. Lokasi yang dulu begitu akrab didatanginya, ternyata sudah tidak seperti bayangannya.

Simak juga cerita seru perjalanan seorang anak naik kereta api.

Yang Perlu Dipersiapkan Ketika Membawa Anak Naik Turun Angkutan Kota/Umum :

  • Sebelum berangkat, berikan gambaran umum perjalanan pada anak. Jangan lupaΒ  meminta kerjasama anak selama perjalanan sebagai rekan perjalanan bundanya.
  • Jangan lupa membawa tissu basah, lumayan buat ngelap keringat sekaligus sedikit memberi rasa adem.
  • Jangan lupa membawa air mineral, buat berjaga kan ga tau kapan akan bertemu penjual minuman. Juga camilan ringan untuk anak yang masih usia dini.
  • Bawa masker untuk berjaga-jaga, jika anak kurang nyaman dengan polusi dijalan.
  • Jangan lupa bawa baju atasan ganti (kaos yang nyaman dan nyerap keringat). Kemaren, saya lupa baju ganti, karena berpikir yang diajak jalan adalah anak remaja. Tapi, begitu bajunya kuyup oleh keringat, dia tetap merasa ga nyaman.
    Akhirnya nyari baju kaos buat ganti.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan tak mudah lepas.
  • Jangan lupakan do’a naik kendaraan πŸ™‚ .

Kesimpulan Jalan Berdua dengan Nak Bujang :

Tanpa kita sadari, tindakan kita untuk membuat nyaman diri sendiri malah bisa membuat gerah orang lain. Saling menghormati sangat diperlukan.

Hanya karena terlihat pernah berinteraksi, lewat senyum, anggukan sepintas, orang yang melihat sekilas pada beramsusi bahwa kita sudah saling kenal dan bagian dari kelompok tertentu.

Hal yang sangat ingin kita jaga dengan sangat hati-hati, agar tak lepas dari genggaman, terkadang punya jalannya sendiri untuk menjauh.

Kenangan itu terasa indah selama kita terus menyimpannya tanpa mau melihat keadaanya saat ini. Rindu itu terus bersemayam di hati karena jarak yang terus terjaga.
Agar rindu itu usai, maka yang perlu dilakukan hanyalah mempersempit jarak yang ada. Dengan mengunjunginya. Perlahan, kenangan itu akan terkondisikan dengan keadaan paling baru yang dialami πŸ™‚ .

Tersenyum oleh kesimpulan yang aneh?

Begitulah hidup. Apa yang dilihat mata, didengar telinga, tidak melulu seperti yang terlihat dan terdengar. Banyak cerita sebelumnya yang tidak diketahui.
Santai saja menjalani perjalanan hidupmu tanpa terlalu sibuk membandingkan dengan perjalanan hidup orang lain.

Iklan

20 comments

  1. Seru banget jalan-jalan naik angkot berdua dengan si bujang. Bondingnya pasti lebih dapat ketimbang naik taksi atau ojek online ya..Karena keduanya saling memperhatikan keselamatan masing-masing

  2. Angkot ternyata punya trik sendiri melewati macet dengan lewat di jalur paling kiri jalan.
    seperti inilah pengalaman yang kadang dirindukan sekaligus bikin cemas, khawatir jika terjadi sesuatu. berharap segera sampai ke tujuan. Apalagi pas hari libur

  3. Saya sekarang sudah malas naik angkot bun, soalnya supirnya sering ngetem lama, ngebut-ngebutan di jalan (saingan sama supir lainnya), dan sudah agak tidak aman (rawan copet).
    Kini lebih suka naik ojek/taksi online, hehehe. πŸ™‚

  4. Ini di daerah mana ya, Mbak? Kalau di tempatku ini, Pemalang, naik angkot nggak bakal pernah ngerasain macet, juga jauh. Karena di sini serba dekat dan karena lancar jjadinya nggak kerasa lama. Hihihi. Kalau mau ngerasain naik angkutan umum agak lama, sejam kurang-lebih, kudu keluar kota: Tegal atau Pekalongan. Itu baru seru.

    Btw, ceritanya menarik. Aku bayangin mbak-mbak itu pasti ngempet banget aslinya hahaha.

  5. Waw sampai 5 kali naik angkot 😱. Super sekali. Untung Bunda n anaknya tetep semangat ya di tengah jalan belum lagi macetnya. Tetapi, memang anak perlu dikenalkan dengan ttansportasi publik juga

    • Iya, lumayan melatih kesabaran dan rasa bertoleransi dengan situasi yg tak semuanya sesuai dgn keinginan.

      Sepakat, anak harus diperkenalkan transportasi publik, tapi, sy memperkenalkannya, mulai dr angkot, metromini, bus, bemo, andong, bajai, kereta api, sebelum usia anak 5 tahun dan ternyata, dia lupa, hiks.

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.