[Sebuah Catatan] : Kasih Yang Tak Berbalas


Peribahasa yang mengatakan bahwa kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepenggalahan, sepertinya mulai sering saya saksikan secara langsung akhir-akhir ini dikehidupan nyata.

Bahkan, jujur, saya tanpa disadari juga melakukannya, sebagai anak yang juga seorang ibu.

Contohnya, saat ibunda berkunjung. Saya tinggal di daerah yang penduduknya masih homogen suku Sunda. Sang ibunda berlidah asli Sumatera dan sudah semakin sepuh, lidahnya tidak akan bisa menyesuaikan dengan penganan, masakan yang ada dilingkungan tempat tinggal. Walaupun judulnya sama.

Perjuangan menata hati beliau pun dimulai 😳 .

Kasih Yang Tak Berbalas

Saat beliau minta tolong dicarikan sesuatu, yang saya tau bahwa yang dimaunya itu sangat jarang ditemukan di sekitar tempat saya tinggal. Saya kadang langsung menjawab bahwa itu tidak ada yang menjualnya.

Dan, saya juga tahu beliau kecewa dengan respon saya itu, karena saya belum mengusahakannya, tapi sudah memberikan jawaban.

Padahal, saya tahu persis, kadang beliau ingat makanan yang khas Sumatera itu, bukan karena pengen, tapi hanya minta diperhatikan.

Beliau akan senang kalau saya langsung mencari apa yang diminta, walau pada akhirnya nanti tidak juga membuahkan hasil. Beliau sudah tidak mempermasalahkannya.

Hal sepele, tapi bisa membuat orang tua sedih.

Hal itu karena ketika orang tua sudah mulai sepuh, mereka merasa lingkungan mulai meninggalkan mereka. Sensitivitas mereka terhadap rasa pengabaian sangat tinggi. Padahal belum tentu seorang anak bermaksud demikian.

Ibunda, ayahanda almarhum, almarhumah mertua, kebetulan mereka semua secara personal finansial tidak akan merepotkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Bahkan, seringnya anak-anak dan anggota keluarga lain yang masih menodong mereka.

Dan anak-anak mereka termasuk anak-anak penurut. Bukan anak yang dengan enteng menjawab semua ucapan orang tua. Tapi, yang namanya sudah sepuh, tetap saja mereka merasa kurang didahulukan dan curhat pada anaknya yang lain. 😳

Yang mereka butuhkan bukan uang, tapi diperhatikan, dipedulikan apa maunya, kadang ingin didahulukan, diberikan haknya sebagai orang tua tanpa menyinggung perasaan mereka. Seperti kita dulu waktu kecil yang akan merajuk saat orang tua tidak meloloskan keinginan kita.

Sesederhana itu.

Tapi sayang, dalam pelaksanaannya sangat sulit dipraktekkan oleh seorang anak. Perlu niat yang kuat untuk menunjukkan kasih yang takkan pernah bisa berbalas itu.

Tidak semua anak sih.

Contoh kasus lain, seorang ayah yang juga sudah sepuh, kebetulan, kebutuhan finansial untuk dirinya sendiri di usia senja harusnya sangat lebih dari cukup. Tapi, oleh keluarganya (anak-anak dan istri) beliau diberi tanggung jawab untuk menafkahi dirinya sendiri dan satu anggota keluarga lain, serta banyak tanggung jawab lainnya.

Beliau tidak mempermasalahnya. Beliau dengan ikhlas melakukan pekerjaan yang mungkin saat beliau jaya dulu, itu termasuk pekerjaan kelas rendahan.

Beliau menaruh rasa gengsi dipojokan terendah dari dirinya.

Semua untuk mendapatkan penghasilan halal.

Beliau mulai menyimpan rasa kecewa, merasa diabaikan, saat sang anak yang sudah disekolahkan hingga sarjana itu lebih memilih mengikuti prestise dimata orang lain, daripada menuruti nasehatnya sebagai ayah dan kepala keluarga.

Sang ayah yang hanya manusia biasa itu, tidak selamanya bisa menyimpan semua kecewanya itu sendiri. Beliau bercerita pada orang yang dipercayanya, menghitung semua keringat dan capek yang sudah dilakukannya untuk anak-anak dan keluarga.

Beliau pun tidak mengikhlaskan sikap sang anak dan keluarga kepadanya.

Tuhan sepertinya tidak membiarkan kekecewaan sang ayah terlalu lama.

Hanya dengan alasan kurang enak badan sesaat, maut pun menjemput, tanpa pendampingan satupun anggota keluarga. Membebaskan sang ayah seketika dari kekecewaan dalam terhadap keluarga.

Mudah-mudahan diakhir hayatnya itu, beliau sudah memaafkan kekeliruan anak dan anggota keluarga lain.

Orang lain yang datang berziarah dan tidak mengetahui kenapa beliau di usia senja melakukan pekerjaan tak biasa untuk usianya itu, pada terkaget-kaget. Ternyata almarhum mempunyai anak-anak, keluarga yang berpendidikan dan berpenampilan kinclong. Semakin kaget lagi saat mengetahui latar belakang almarhum sebelumnya.

Hanya sebuah tanya yang bergelayut dikepala orang-orang, “kenapa keluarganya begitu tega pada beliau? Kalau hanya untuk mencari kesibukan, ndak masalah. Ini? Untuk memenuhi gengsi sang anak, yang seharusnya hanya perlu sedikit bersabar untuk memenuhi semua keinginannya itu”.

Dunia benar-benar membuat mabuk semua orang.

Ternyata, kesemena-menaan pada orang tua itu bukan ada di sinetron. Sangat banyak dikehidupan nyata.

Belum lagi kisah lain dari seorang anak yang selalu merongrong ibundanya yang sudah sepuh dengan kelakuannya yang membuat jantungan. Pelakunya juga bukan anak yang kurang pendidikan atau kurang mendengar nasehat agama. Lebih dari cukup malah.

Entah apa yang salah.

***

Mungkin itu sebabnya dalam banyak nasehat agama, selalu diingatkan untuk memuliakan kedua orang tua.

Karena menjaga hati orang tua yang sudah sepuh tak semudah mengucapkannya.

Entahlah.

***
Ini hanyalah sebuah catatan pengingat buat diri sendiri.

Agar terus berusaha dan belajar menjadi seorang anak yang bisa menahan lisan dan sikap pada orang tua.
Bukan untuk imbalan disebut sebagai anak sholeh/sholeha, anak yang berbakti pada orangtua, tetapi karena kesadaran,  bahwa itu memang hak orang tua dan tanggung jawab seorang anak. ❤ ❤ ❤ .

Iklan