Empati Tak Semudah & Seindah Mengucapkannya


Beberapa waktu belakangan ini saya kembali diingatkan bahwa empati yang merupakan sebuah tindakan baik itu harus selalu ‘diasah’ sensitifitas ketajamannya agar tidak tumpul.

Beberapa tahun lalu, saya masih merasa sangat bersyukur berada di dalam lingkup pergaulan yang orang-orangnya lumayan mudah untuk berempati saat ada sesuatu yang mendesak.

Tak pernah merasa sendirian saat sakit atau mendapat musibah, selalu saja ada yang siap mengulurkan tangan. Walaupun jauh dari keluarga atau kerabat.

Bahkan saya merasa bahwa ikatan persahabatan jauh lebih kuat dibanding yang bukan keluarga inti, yang masih sangat suka melibatkan ego.

Teman-teman dengan kesadarannya sendiri melakukan yang bisa dibantu sesuai kemampuan. Langsung ngumpul tanpa di komando saat mendapat kabar. Yang jauh berkontribusi dalam bentuk lain. Semua mengambil porsinya.

Semakin kesini, mungkin dengan semakin beragamnya kebutuhan hidup sebagai makhluk sosial, rasa saling empati itu perlahan mulai sedikit terkikis.

Semua seperti menahan diri.

Mungkin ini juga dipengaruhi oleh banyak hal, salah duanya sudah berkeluarga, sehingga sudah mempunyai pos-pos kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Seharusnya, termasuk saya sebagai pribadi, tetap bisa menjaga kebiasaan baik itu.

Sekali lagi, konsistensi dalam kebaikan itu ternyata memang perlu diupayakan dan diusahakan.

Kalau tidak, waktu bisa merenggut semuanya jika kita lengah 😦 .

Karena yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri.

Empati Itu Seperti Embun Yang Menyejukkan

Pengertian Empati

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) http://kbbi.web.id/empati :

empati/emΒ·paΒ·ti/ /Γ©mpati/ n Psi, keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Menurut Wikipedia, Empati (dari Bahasa Yunani, yang mempunyai arti “ketertarikan fisik”) didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain

Empati mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain.

Penerapan Empati Tak Semudah & Seindah Pengucapannya

Ternyata, menerapkan empati dalam kehidupan dunia nyata tak semudah mengucapkannya. Tak seindah saat dibahas dan diingatkan dalam forum-forum diskusi atau kajian.

Ahh, itu hanya lingkup pergaulanmu saja YSalma.

Mungkin.

Karena, menurut mereka yang bijak, orang-orang terdekat yang berada dalam lingkup pergaulan kita adalah cerminan dari pribadi kita.

Sehingga, jika penerapan empati terasa sulit di lingkup pergaulan saya, itu bisa jadi sebagai gambaran bahwa saya juga masih sulit untuk berempati dengan orang lain. Masih suka memilih-milih πŸ˜₯ .

Padahal, sudah paham kalau empati itu menembus semua ruang perbedaan yang ada.

Ia mengambil tindakan nyata saat ikut merasakan ada yang kehilangan, mendapat musibah, dsbnya.

Aktual pelaksanaannya? Sangat jauh berbeda.

Hal-Hal Yang Membuat Empati Terasa Susah Dipraktekkan

Suka Melihat & Menimbang Siapa Yang Mau Dibantu

Semakin kesini, sepertinya semakin berhitung. Masih merasa rugi kalau empati itu harus direalisasikan dalam bentuk nyata. Sudah merasa cukup dengan ucapan ikut bersimpati, berduka atau belasungkawa.

Suka membuat kesimpulan sendiri sebelum melakukannya bahwa sumbangsih yang akan diberikan tak kan ada efeknya bagi si penerima.

Padahal sudah paham juga bahwa bukan nominal yang dilihat, tapi nilai kepedulian itu sendiri dalam bentuk nyata.

Sering Mempertanyakan Apa Manfaatnya Bagi Diri (Ada Maunya)

Karena sekarang jaman digital, semua informasi bisa disebarkan dengan cepat. Termasuk si tajir baru. Diri, sepertinya langsung memberi respon untung rugi.

Jika merasa akan memberikan manfaat lebih pada diri, dengan semangat akan melakukannya.

Mengatas namakan empati. Bukan dilandaskan niat tulus atau ikhlas, tapi lebih kepada ada udang dibalik bakwan.

Pada Berpikir Bahwa Sudah Banyak Yang Melakukan

Merasa diri bukan siapa-siapa dibanding yang lain.
Karena memang jamannya bahwa yang merasa bisa melakukan lebih, suka menjembreng apa yang bisa dia berikan dan lakukan, walau sebelumnya sudah berkoar-koar bahwa membantu seikhlasnya.

Akhirnya, yang masih merasa nominal adalah segalanya, dan tidak bisa mensejajarkan itu memilih menyurutkan niat. Mencari jalan lain untuk mengasah empati.

Ga salah juga sih. Kembali ke poin bahwa kita akan mencari lingkungan yang merasa kita diterima dan bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu takut diberi penilaian ini itu.

Merasa Masih Kekurangan Dibanding Yang Akan Diberi Empati

Walau sering mendengar ucapan bijak bahwa tak perlu menunggu kerkecukupan dulu untuk berbuat baik.

Tetap aja saat ada sebuah kasus, pikiran langsung menguasai bahwa diri merasa masih jauh merasa kurang dibanding yang akan dibantu πŸ˜₯ .

Tetapi, persoalannya akan berbeda kalau itu bersifat seremoni yang akan memperkuat ‘nama’. Seperti acara kumpul-kumpul sembari tertawa menghitung kesuksesan atau ada kemungkinan menemukan relasi baru yang bisa dimanfaatkan. Saya dan juga mungkin yang baca, selalu saja bisa menyisihkan budget dan waktu untuk itu, sepelik apapun keadaan.

Bahkan saya masih memilih-milih grup mana saya akan menunjukkan empati, grup mana yang hanya sebagai penonton. Bahkan bersuara untuk memberikan ide pun tidak πŸ˜₯ .

Saya masih sangat perlu belajar banyak lagi tentang berempati, bukan sebatas pembahasan. Sempat juga bergalau-galau dengan beberapa sahabat dan akhirnya saling mengingatkan untuk saling berprasangka baik.

Temans, pada punya tambahan apa yang membuat empati ini terasa berat untuk dipraktekkan? Atau kamu sudah berhasil menerapkannya dalam hidup? Bagaimana kiatmu agar bisa terus berempati dalam kehidupan seperti benar-benar selesai buang hajat? Lega dan tak dipikirkan lagi sisa makanan dari perut itu akan berakhir dimana.

Iklan