Teman, Materi Bukanlah Pondasi Persahabatan


Teman, materi bukanlah pondasi persahabatan, ini merupakan kesimpulan dari percakapan saya dengan seorang sahabat yang sudah saling kenal dari masa sekolah.

Masa dimana geng atau kelompok masih sangat diagungkan oleh beberapa orang, terutama yang merasa dirinya terlahir dari keluarga bukan seperti keluarga kebanyakan siswa di sekolah. Mereka yang merasa jabatan, harta, dan nama besar orangtua merupakan perisai diri. Hingga begitu mudahnya memandang sebelah mata pada murid lain.

Kami sudah tidak bertemu bilangan tahun, tapi FB mempertemukan kami dalam komunitas sekolah. Sudah lama juga ga telpon-telponan.

Beberapa waktu lalu, sahabat saya itu menelpon, membagi berita bahagia salah satu sahabat kami.

Si sahabat juga curhat tentang kegalauannya melihat komunitas sekolah yang orang-orangnya masih sangat mudah memandang remeh orang lain *ntar jereng lho πŸ˜† *

Waktu Bisa Mengubah Segalanya

Itu sebuah pepatah bijak bahwa seseorang yang terluka karena perlakuan, atau sikap orang lain di masa lalu, setelah mema’afkan, maka waktulah yang telah jadi penawar atau penghilang rasa sakitnya.

Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dan menjalin komunikasi, saya dan sahabat yang ngerumpi lewat telpon, berpikir bahwa teman-teman sudah berubah cara pandangnya dalam menilai seseorang.

Apalagi melihat foto-foto dan sikap ramah yang ditampilkan dalam semua status dan respon yang diberikan di media sosial.

Alhamdulillah, teman sukses dan jadi orang besar, kita juga ikut tersenyum bahagia melihatnya.

Tapi,,,
Ternyata, perubahan perbaikan itu hanya milik mereka yang mau belajar.

Bukan belajar di bidang akademis hingga membuat namanya semakin panjang oleh berbagai gelar. Tapi, untuk mereka yang mau belajar dan mencari tahu, “siapa sih sesungguhnya manusia di muka bumi ini?”

Manusia hanyalah seorang khalifah yang seharusnya membawa kebaikan dimanapun dia berada. Hidup terlalu singkat, sayang jika hanya digunakan untuk saling meremehkan.

Materi Masih Prioritas Utama Dalam Menilai

Tidak semua sih yang masih seperti. Tapi hanya segelintir.
Cilakanya, yang segelintir itu adalah mereka yang berada dipusaran perhatian. Kalau bahasa kekiniannya, mereka itu “selebnya” komunitas :mrgreen: .

Saya sendiri, diawal-awal sempat juga aktif berha-ha-hi-hi. Senang mengingat masa sekolah saat masih jadi anak belia dulu.

Tapi, ketika saya menanyakan keberadaan seorang sahabat pada teman yang termasuk Seleb itu. Jawaban yang saya dapatkan diluar perkiraan.

Si teman Seleb ga kenal dengan sahabat yang saya maksud.
“Kok bisa?”

Saya sendiri mengenal si Seleb waktu sekolah dulu itu karena dia bersahabat dengan teman yang saya tanyakan keberadaannya sekarang. Mereka berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama.

Ga mau berprasangka. Ya, sudahlah. Mungkin lupa, jarang ketemu juga mereka.

Ada juga woro-woro kegiatan. Saya bertanya lagi ke salah satu PJ acara, seleb dong ya tentunya. Jawaban yang saya terima, ga semanis jawaban yang dia berikan kepada teman yang lain. Basa basi.

Saya ga mau ambil pusing, mungkin dia sedang lelah, satu angkatan itu kan banyak. Ga pernah sekelas pula. “Lah, dulu kan juga hanya kenal wajah. Gimana sekarang mau sok akrab? Emang lu siapa Salma? Hanya emak-emak rumahan yang ga berkarir cemerlang πŸ˜† “

“Etapi, gua kan ga ngerepotin mereka-mereka 😳 .”

“Sudahlah. Lo lagi sensi aja.”

Setelah komunitas di media sosial berjalan dalam hitungan tahun, saya yang memilih jadi pengamat pasif, jadi bertanya-tanya dalam hati, “komunitas ini berisi anak-anak pintar waktu sekolah. Dan sebagian besar sudah menjadi orang suksesΒ  dalam karir profesional masing-masing. Kenapa, anggotanya semakin tak terlihat? Yang ketemu, ya, itu-itu lagi. Yang ngobrol yang itu-itu juga. Mereka yang se-geng waktu sekolah dulu. Apa yang salah?”

Ada beberapa teman yang sempat komen di grup medsos tersebut, bahwa dia termasuk dalam kelompok mereka yang biasa-biasa saja saat sekolah dulu, begitupun sekarang.

Dia memberikan komen seperti itu, karena waktu itu ada yang nge-share tulisan yang membahas tentang sebuah komunitas media sosial sekolah, ada kegiatan yang membuat sebagian anggotanya minder untuk ikut berpartisipasi dalam acara yang diadakan, seperti reunian.

Ada yang merespon teman yang komen itu bahwa dia juga masih biasa-biasa saja, “tidak semua teman di grup ini melihat semuanya dari sudut pandang materi. Tapi itu hanya sebagian kecil, sih.”

Pembahasan jadi semakin liar. Banyak yang saling nyahut.
“Maksud pernyataan melihat tidak semua dari sudut pandang materi ini gimana? Yang lain cara pandangnya gimana, dari materi aja gitu?”

Akhirnya, ada yang membuat kesimpulan:
“Suka tidak suka, kau yang biasa-biasa aja waktu sekolah dulu, sekarang juga masih biasa-biasa aja. Kelaut aja.
Kau yang dulu dianggap biasa, bukan anak ‘pejabat’ atau ‘seseorang’ dan sekarang sudah sukses, belum tentu bisa ‘dianggap’, karena bukan dari lingkar pertemanan mereka saat sekolah.”

Hadeh! Hari gini? Uban sudah terlihat di setiap kepala anggotanya, masih saja melihat seseorang dari sudut materi 😳 .

teman-materi-bukanlah-pondasi-persahabatan

Penasaran, Mungkin Hanya Salah Duga!

Sahabat saya yang menelpon, memang ibu rumah tangga juga, tapi sudah berhasil membangun sebuah bisnis, terlepas dari embel-embel nama suaminya. Tentunya ini dari sudut pandang dirinya sendiri dan kami yang mengenalnya dengan baik.

Sahabat saya itu agak lebih ‘gila’ dari saya.
Dia penasaran dengan teman-teman sekolah, mungkin penilaiannya hanya salah duga, karena ga bertatap langsung.
Dia pun semangat ambil bagian, ikut reunian saat mudik lebaran.

Sebelum hari H, PJ acara reunian sibuk menelponnya, memastikan kedatangannya dengan suara sangat manis. Dan tentu saja sangat mengharapkan kedatangannya.

Mendapat telpon seperti itu, sahabat saya ini semakin optimis dan tersenyum bahagia, ternyata media sosial menipu. Buktinya teman ini sudah berubah, mau berkomunikasi dengan teman-teman yang dulu masuk anak kebanyakan dalam kaca mata mereka *padahal, si teman ini anak seorang dokter, apalagi yang bukan ya 😦 *.

Dengan semangat penuh pikiran positif, sahabat saya pun datang ke acara. Bertemu dengan PJ acara reuni sekolah *bukan perwakilan kelas*. Ia membayar biaya acara yang tidak murah itu *menurut saya*. Tapi bagi sahabat saya yang sudah sukses, itu mah kecil. Ga bakal sebanding dengan silaturrahim yang akan terjalin baik.

Setelah menerima bayaran acara, senyum pun hilang dari wajah si PJ reuni untuk si sahabat. Dia pun memasang senyum pada teman lain yang baru datang.

Saat acara berlangsung, tak ada pembauran. Saat sekolah akrabnya dengan siapa, ngobrolnya juga dengan yang itu juga. Yang dulu ga akrab, ya, tetap seperti dua orang asing. Temen saya yang datang sendiri, sebelum teman sekelas ada yang datang, sempat bengong dan bersungut, ‘tau masih seperti ini, mending gw ga datang deh’ πŸ˜† .

Kalau menurut sahabat saya, masih mending bertemu orang asing yang belum pernah kenal sebelumnya, kita bisa saling berkenalan dan bercerita. Ada peluang untuk menambah saudara. Lha, ini teman sekolah, orang asing yang saling kenal, tapi seperti ga mau kenal πŸ˜† .

Hingga acara usai, si PJ tetap seperti tak kenal dengan si sahabat. Bahkan, saat mau pulang, karena dilihatnya si PJ seperti sedang menunggu, sahabat saya pun menawarkan untuk pulang bareng, karena arah rumah mereka sama. Si sahabat tak keberatan mengantarkannya. Si PJ hanya melengos, bahkan saat teman se-gengnya datang, mereka semua tidak menganggap sahabat saya yang ada di situ, yang sedang menawarkan niat baik.

Saya pun merespon curhatan sahabat saya, “kau jangan bilang dia masih sombong. Mungkin si PJ minder sekarang berhadapan dengan kau, karena sekarang kau sudah sukses, hahaha.”

Sahabat saya nyengir.

Sahabat saya pun curhat banyak hal lainnya, salah duanya tentang teman sekelas kami yang juga termasuk selebnya komunitas, yang akhirnya mengeluh juga tentang sikap geng seleb sekolah yang menurutnya ga menggunakan, “raso pareso dalam bakawan.” Image yang dibangun lewat media sosial, sangat jauh berbeda dari kenyataan.

Bahkan, si A yang sepertinya akrab dengan si B dan si C, malah saling menjelekkan satu sama lain saat di belakang.

Sahabat dan saya yang sedang menggosip jadi sama-sama berpikir, “Apa yang sebenarnya yang sedang kita cari, Teman?”

Simak juga tulisan, teman lama, sahabat untuk mentertawakan masa lalu.

Materi Bukanlah Pondasi Persahabatan

Materi memang diperlukan untuk bisa melangkah melihat dunia. Tapi materi bukanlah penentu kebahagiaan seseorang.

Menurut mereka yang berhasil mempertahankan pertemanan masa sekolah, bahkan bisa meningkatkannya menjadi persahabatan, sering mengatakan bahwa kuncinya adalah pinter-pinter membawa diri.

Saat berkumpul dengan teman sekolah, lepaskanlah semua predikat suksesmu. Berbicaralah sebagai seorang ‘anak sekolah’ yang sudah lama tak bertemu. Tertawalah atas kekonyolan dan kebodohan sikap saat dulu masih mencari jati diri. Komunitas sekolah bukanlah perusahaan tempatmu menjadi CEO. Jadi santailah.

Jika kebetulan bertemu dengan teman yang kurang beruntung dalam hidupnya, baik secara materi ataupun hal lain. Jika bisa bantu mencari jalan keluarnya, silahkan, tapi kau tak punya hak untuk menjatuhkan penilaian.

Ketidakberuntungan temanmu dalam hidup, tidak akan menyebabkan kesuksesanmu berkurang.
Bahkan sebaliknya, dengan adanya teman yang kurang beruntung itu, kau terlihat semakin cemerlang.
Itu bukan berarti kau bisa menepuk dada pongah dan mengarahkan telunjuk merendahkan pada seseorang yang hanya teman sekolah yang man kau tidak pernah mempunyai andil apa-apa dalam hidupnya. Bersyukurlah bahwa Tuhan sudah menyempurnakan kehidupan duniamu ❀ ❀ ❀ .

Pesan Untuk Sahabat Yang Galau

Sahabat saya juga curhat tentang salah satu sahabat kami yang sedang merasa galau, merasa hidupnya kurang sempurna, tidak lengkap, walau sudah sukses menapaki jenjang karir.

Teman, seorang sahabat tidak akan melihat materi dalam menjalin kembali tali silaturrahim yang terpisah oleh kesibukan dan jarak. Yakinlah, saat dibelakangmu, mereka tidak akan sibuk menghitung kekuranganmu.

Bahkan, saat kau berada di titik kegelisahan kehidupan, tidak bisa membedakan mana teman tertawa dan mana teman yang sesungguhnya, seorang sahabat akan menunjukkan kelebihan yang sudah kau miliki. Menunjukkan jalan lain yang lebih baik yang bisa kau lalui. Membuka matamu sehingga kau bisa melihat siapa yang ada disekelilingmu.

Dulu, dia tidak akrab denganmu. Kemudian dia bisa sok begitu akrab dan mengaku sahabatmu, setelah mengetahui kemurahanmu dalam soal materi. Begitu tahu kekurangan hidupmu, dia pun memanfaatkan kelabilan emosimu untuk mengambil keuntungan. Tapi di belakangmu tanpa sungkan mereka memperbincangkan kekuranganmu.

Seorang sahabat, akan melihat dari jauh saat kau terlihat bergelimang bahagia dan tawa, tapi dia akan menyapa dengan pelukan hangat saat dia merasa kau sedang gelisah. Jangan curiga. Berceritalah padanya saat kau siap berbagi beban pikiran, setidaknya itu bisa mengurangi sesak dadamu.

Menjauhlah sejenak dari riuh rendah fatamorgana pertemanan yang tiba-tiba kau temukan dalam komunitas teman lama, yang dulu sama sekali tak mengenal sosokmu, walau dulu sering berpapasan. Merenunglah, “jika aku tidak memiliki materi, masihkah mereka akan berakrab-akrab denganku?”

Sangat mudah mencari dan menemukan seribu musuh, daripada satu sahabat. Beruntunglah kau yang memiliki beberapa sahabat.

Selamat bereuni dengan bahagia bersama teman sekolahmu, tanpa harus kehilangan jati diri hanya karena ingin dianggap ‘seseorang’ ❀ .

Β 

23 comments

  1. Dari dulu saya kurang gaul. Tapi ada sih rasa minder klo mo ketemu teman2 yg sudah sukses besar. Rasanya nggak pantas aja.

    Apalagi klo masalah sikap, rata2 udah berubah dan jaim. Gak seperti dulu.

    Disukai oleh 1 orang

    • Kalau menurut ku, biasa aja, ga perlu minder, kita kan sama sekolah. Sekarang dia sukses, ikut bangga aja, kenapa harus merasa ga pantas? Kita tidak pernah merepotkan merekakan?
      Kalo yg jaim dan berubah karena dia merasa sukse, anggap saja mereka masih mencari identitas diri πŸ˜€ .

      Suka

  2. Kalau reuni sama temen mah lebih enak cerita- cerita tentang masa sekolah duu… terutama temen sma sih hahaha… Susah sih ya kalau berteman tapi masih memandang dari segi materi… padahal kan yang penting bisa saling bersilaturahmi nya ya πŸ™‚

    Suka

  3. kalau reuni ya itu sih, seringnya yang ngumpul ya yang merasa dirinya sudah mampu (secara finansial). nah yang lain, akhirnya terpinggirkan dan hilang. Acara reuni berubah dari sekedar ngumpul- ngumpul, jadi ajang pamer kendaraan, pamer gaya hidup, dan sebagainya. 😦 ahh.. *malahcurhatdisini

    Suka

    • Apa sampai sekarang masalalu itu msh tak mau dijadikan teman, Kang?
      Berarti disuruh fokus ke masa kini aja, sehingga bisa jadi masa lalu bersahabat dimasa mendatang πŸ™‚

      Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.