Festival Dongdang dalam Gebyar Muharam 1438H di salah satu desa di Kabupaten Bogor, tepatnya dilaksanakan oleh keluharan Situsari.
Saya yang membaca salah satu selebaran tentang pengumuman ini, menjadi penasaran tentang acara ini. Menurut informasi yang saya dapat, acara ini juga tidak berlangsung setiap bulan Muharam datang. Mungkin karena membutuhkan budget lumayan bagi peserta yang mau ikut berpartisipasi. Mudah-mudahan ke depannya menjadi agenda tahunan.
Ternyata, kabupaten Bogor punya tradisi juga dalam menyambut bulan Muharam. Kalau yang sering diberitakan TV Nasional kan acara 1 Syuro yang dilaksanakan di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya.
Apa Itu Dongdang?

Dongdang itu kalau bahasa Indonesia ternyata sama dengan sangkar.
Maka Festival Dongdang yang dimaksud di sini, merupakan miniatur bangunan yang dihias sedemikian rupa dan juga diisi dengan makanan berupa tumpeng, buah, rebusan hasil bumi, jajanan pasar, cemilan, yang kesemuanya disusun atau ditampilkan secantik mungkin, kemudian diarak menuju tempat penilaian.
Miniatur bangunan yang ditampilkan terbuat dari bahan yang beragam, ada yang dari papan, bilah bambu, styrofoam yang disatukan dengan lidi. Semua tergantung anggaran yang dipunyai beserta.
Dongdang bisa juga miniatur bangunan yang dibentuk dari susunan buah atau hasil bumi mentah. Kreatif.
Karena peruntukannya dalam rangka gebyar Muharam, miniatur yang lazim diusung adalah berbentuk masjid.
Bentuk-bentuk Dongdang yang kemaren ditampilkan selain miniatur masjid, ada juga miniatur perahu, miniatur rumah, miniatur kantor, miniatur gedung yang berhias naga, dan banyak lagi.

Festival Dongdang di Situsari Kabupaten Bogor
Namanya festival yang dilombakan tentunya peserta yang ikut ambil bagian berharap bisa mencatatkan nama lingkungan tempat tinggal yang mereka wakilkan keluar sebagai pemenang. Terlepas dari hadiah yang bisa menutupi modal membuat dongdang 😳 . Akan tetapi yang terpenting adalah berpartisipasi dalam acara dengan suka cita.
Dasar Penilaian
Pada selebaran yang saya baca diinformasikan juga garis besar dasar penilaian, diantaranya:
- Bentuk Dongdang atau komposisi miniatur yang dibuat.
- Kelengkapan sajian dongdang, tumpeng dan semua pernak perniknya. Karena perayaan ini ditujukan sebagai bentuk syukur atas tahun lalu yang sudah terlewati dengan baik dan menyambut tahun baru, maka kelengkapan makanan yang tersaji sangat penting. Ini dimaksudkan sebagai bentuk syukur. Makanan lengkap yang dimaksudkan terdiri dari makanan utama, camilan, minuman, buah dan sayur.
- Peserta pengiring. Namanya sebuah festival, tentunya selain menunjukkan kreativitas juga kebersamaan. Selain bentuk dongdang dan sajiannya, jumlah dan kekompakan peserta yang berpartisipasi dalam hajatan juga jadi salah satu yang menentukan.
Jalannya Acara
Dalam selebaran tertulis bahwa acara akan dimulai pukul 8.00 WIB, di kantor desa kelurahan Situsari. Saya membathin, alamak, yang ikut ambil bagian, tentunya mereka sudah harus begadang dari sebelumnya, untuk mempersiapkan semuanya. Salut.
Saking penasarannya, saya pun tidak mau telat. Saya sampai di tempat acara sekitar pukul 8 lewat dikit, dalam hati sempat berpraduga, “acaranya bakal ngaret ga ya?”
Ternyata pemikiran saya salah, acara dimulai tepat waktu.
Panggung penyambutan peserta sudah memainkan musik tradisional. Panitia lewat pengeras suara sudah mempersilahkan peserta yang ternyata sudah pada datang untuk menuju area berkumpul.
Tim pendata peserta sudah mulai bergerak mendata peserta festival dongdang. Mereka menanyakan perwakilan dari RT mana, tema dongdang, dan jumlah peserta.
Saya yang datang karena rasa penasaran, mulai memperhatikan dongdang peserta, mengambil foto dan merekam videonya secara amatir 😳 .

Karena peserta ditempatkan bukan di lapangan, tapi di jalan yang menuju arah kantor desa. Saya yang datang dari arah kantor desa, terus berjalan menyusuri barisan peserta. Barisannya lumayan panjang.
Saat asyik melihat dan memfoto, baru setengah deretan peserta yang saya amati, saya mendengar suara mercon. Para peserta sontak berdiri rapi dan bersiap mau mengusung dongdang yang mereka bawa.
Oalah, suara mercon itu sebuah aba-aba menuju titik kumpul utama. Saya sudah capek jalan menyusuri barisan peserta untuk melihat dongdang yang ikut berpartisipasi, ternyata, si dongdang ini akan diarak menuju pelataran kantor desa (tempat saya awal datang) 😛

Phiuf,,, elap keringat karena kepanasan.
Tau begini, mending saya nunggu di tempat strategis untuk ngambil foto di sekitar halaman kantor kelurahan yang di depannya juga ada masjid yang lumayan besar aja.
Karena sudah kejagian, saya merasa nanggung, saya tetap melanjutkan melihat dongdang kebarisan terakhir. Malah saya melihat ada peserta yang baru datang.
Peserta yang duluan datang, berada dibagian depan, alias yang paling dekat dengan kantor kelurahan mulai bergerak mengusung dongdang mereka.
Ada dongdang yang diiringi dengan grup rebana ibu-ibu dengan sholawat.
Ada yang pengiringnya diam aja.
Ada yang tim pengusung dongdang kecapek-an, karena ukuran dongdang yang diusung lumayan besar, sementara jumlah pengiring laki-laki pas-pasan, sedang tempat start mereka kejauhan. Ga ada teman untuk gantian. Kasihan.
Saya aja yang hanya jalan ngambil foto, udah ngos-ngosan, apalagi yang jadi tim pengusung.
Mungkin mereka menyemangati diri sendiri seperti saya pada diri, “Mak, kau capek, karena harus bolak balik dari awal barisan peserta sampai ujung. Kemudian balik lagi ke titik awal. Itu namanya bagian dari kepuasan atas rasa penasaran terhadap jalannya sebuah festival 😳 “
Dongdang-dongdang itu kemudian ditaruh di halaman kantor kelurahan.
Hari sudah menunjukkan pukul 9.30 WIB. Acara masih terus dan panjang, tapi saya sudah kehausan dan kelaparan, karena lupa membeli minuman dan makanan ringan saat baru datang. Jam segitu, semua warung dan penjual makanan sudah penuh dikelilingi pembeli. Daripada pingsan, saya memutuskan untuk meninggalkan tempat acara berlangsung.
Dari bisik-bisik peserta saya mengetahui bahwa setelah penilaian, acara festival itu akan dilanjutkan dengan makan bersama para peserta.
Simak juga tulisan Kegiatan Pergantian Tahun Hijriyah Seorang Hamba.
Video Festival Dongdang Gebyar Muharam 1438 H yang diadakan kabupaten Bogor.
Kerjasama Tim Sangat Penting
Dari pantauan saya *ceilah * kerjasama tim sangat diperlukan untuk bisa sukses berpartisipasi dalam acara ini.
Menurut saya, Tim yang harus dipersiapkan:
- Tim pembuat dongdang alias miniatur bangunannya (mungkin bapak-bapak yang jago arsitek dan tukang).
- Tim pembuat isian (ibu-ibu yang jago masak)
- Tim penghias dongdang dan isian sehingga menghasilkan harmoni bangunan sebagai wadah sajian makanan yang cantik.
- Tim pengusung dongdang ke tempat penilain dan juga tim pengiring. Karena merupakan perayaan, alangkah baiknya semua warga yang sehat ikut berpartisipasi.
Semua tim itu harus dikoordinir dengan baik agar semuanya semangat, tak ada yang merasa ‘paling’.
Hal-hal yang jangan lupa dipersiapkan saat hari-H :
- Membawa minuman untuk semua peserta
- Membawa camilan ringan
- Membawa obat pusing, obat urut, untuk jaga-jaga.
Kesimpulan
Festival Dongdang di kelurahan Situsari Kabupaten Bogor berlangsung baik.
Sebuah festival yang ditujukan untuk memperingati sesuatu, hendaknya bisa mengingatkan makna dari perayaan tersebut. Yang ambil bagian dan yang melihat acara bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, leboh toleran. Acara secara keseluruhan juga membawa kebaikan bagi alam dan lingkungan. Jangan sampai usai acara sampah bertebaran mengotori lingkungan.
Waduuuh, menarik banget ya. Jadi malu eeeuy. Saya yang orang Bogor malah gak kenal banget sama tradisi itu. Mungkin karena numpang lahir doang di Bogor.
SukaDisukai oleh 1 orang
Berarti, disuruh berkunjung lagi ke tanah kelahiran, untuk cari tahu tradisinya, Kang 🙂
SukaDisukai oleh 1 orang
Itu yang miniatur perahu keren, btw dongdang itu terbuat dari bambu ukuran kecil2 yang sama kayak bambu yg digunakan buat sangkar ya?
SukaDisukai oleh 1 orang
Macam-macam bahan utama pembuatannya, ada yang dari bambu, ada yang dari kayu bilah dan kasau, ada yang dari styrofoam. Tergantung kreativitas dan budget kayaknya.
SukaDisukai oleh 1 orang
Ramee banget 🙂
SukaDisukai oleh 1 orang
lumayan 🙂
SukaDisukai oleh 1 orang
Aku bacanya dongdong, Mbak. Hahah.. Oon banget sik 😀
Bikin perahu en masjidnya itu gimana ya.. Pasti susah banget deh 😦
SukaDisukai oleh 1 orang
Aku awalnya nyebutnya dingdong, Beb. Kayaknya arsitek yang harus membuatnya, atau setidaknya yang bisa bertukang.
Apa kabar Beb? Sudah lama ga main ke ‘rumah’ Beby euyy.
SukaDisukai oleh 1 orang
Udah pernah dengar/tahu perayaan suran di suroloyo (perbatasan jateng dan jogja) juga kah?
SukaDisukai oleh 1 orang
Belum tuh masbrow. Dibahas dalam tulisan dong.
SukaDisukai oleh 1 orang
Ok mbak..
Kapan-kapan saya munculin di blog
SukaDisukai oleh 2 orang