Catatan Perjalanan Pulang Kampung (Mudik Lebaran) 2016 ke Sumatera


Catatan Perjalanan Pulang Kampung (Mudik Lebaran) 2016 ke Sumatera, sebuah postingan yang sudah sangat telat. Malahan udah mulai lupa apa saja yang akan dituliskan.

Berangkat Dari Kediaman

Mulai jalan dari daerah sekitar tempat tinggal sekitar pukul 20.00 WIB, tanggal 1 Juli 2016. Ini disebabkan kendaraan yang mau dibawa jalan, baru keluar paksa dari bengkel *budgetnya baru didapat, dan terbatas pula, waktu sangat mepet 😳 * Sempat deg-deg-an karena akan langsung dibawa jalan jauh.

Perjalanan menuju pelabuhan Merak bisa dibilang standar, ga macet yang gimana-gimana. Nyampai Merak, sempat nunggu kapal bentar, karena kapal yang ada saat kita sampai, sudah penuh.

Bisa menyebrang sekitar pukul 24.00 WIB, dapat parkiran di bawah, pengap. Kita milih naik ke atas, ngambil beberapa foto keadaan pelabuhan penyebrangan Merak di malam hari dengan kamera ponsel.

Catatan Mudik 2016 Merak Malam Hari

Pelabuhan Merak di Malam Hari

Junior sempat merebahkan badannya sebentar di lantai kapal, berhubung lupa bawa tiker, jadi hanya dialasi jaket. Ternyata tangan dan kakinya yang ga tertutup, jadi hitam kena kotoran lantai kapal. Untung bawa tisu basah.

Kita pun pindah ke ruangan yang ada kafenya buat ngisi perut, kursi-kursi yang tersedia penuh, bukan oleh sesaknya penumpang, tapi oleh barang-barang yang juga ditaroh di bangku, atau dipakai buat tidur rebahan. Padahal sangat banyak penumpang lain yang memerlukan tempat duduk. Mereka pada cuek, walau ada himbauan dari petugas. Empati pada sesama itu sudah mulai menipis.

Sekitar jam 2 dinihari, kita sudah mulai menyusuri pelabuhan Bakauheni Lampung, Sumatera, memilih lewat Lintas Tengah Sumatera.

Saya lupa, berhenti sahur dimana. Alhamdulillah, selama melakukan perjalanan mudik, semenjak junior sudah mulai puasa penuh dari TK B, ia tetap mau menjalankan ibadah puasa, dengan memberi pengertian, apa tidak sayang puasanya akan batal karena sebuah perjalanan yang dia sendiri lebih banyak tidurnya selama perjalanan itu. Hanya si Bapak aja yang ga puasa, karena perlu nyamil agar tetap konsentrasi dan terjaga.

Kita melintasi Lampung ditemani cahaya matahari pagi.

Catatan Mudik 2016 Matahari pagi di Lampung

Matahari pagi dan langit biru Lampung

Istirahat hanya di pom bensin saat ngisi bahan bakar atau jika sudah pukul 1 dinihari dan perjalanan masih di dominasi hutan. Setelah istirahat 3 jam-an, baru melanjutkan perjalanan lagi, nanti berhenti lagi sebentar untuk Subuh.

Ada beberapa titik jalan yang rusak di Lintas Tengah Sumatera, harus lewat satu-satu, gantian dengan pengguna jalan yang berlawanan arah.

Secara keseluruhan perjalanan saat berangkat pulang kampung, lancar-lancar aja. Junior dan bapaknya sempat mandi dan berganti pakaian.

Kita memasuki daerah Sumatera Barat, Minggu dinihari tanggal 3 Juli 2016. Berhubung saya ga bisa nyetir :mrgreen: dan Si Bapak sudah sangat ngantuk, ia dan junior memilih mandi lagi dan berganti pakaian, kemudian tidur di sebuah mushola. Yang seharusnya nyampai kampung halaman siang hari, karena kita sering berhenti dan istirahat justru di wilayah Sumatera Barat, baru nyampe rumah orangtua sekitar pukul 19.30 WIB.

Pulang kampung dari rumah di perantauan ke rumah orang tua di Sumatera Barat di tempuh dalam waktu 48 jam (waktu tempuh terlama selama mudik dari perantauan).

Catatan Mudik 2016 Laut Bungus Sumbar

Laut dan Perahu di daerah Bungus Sumbar

Kegiatan di Kampung

Takjub dengan pertumbuhan keponakan yang sudah mulai ABG, yang sudah lebih dulu sampai di kampung.

Disibukkan oleh kegiatan persiapan lebaran, karena ibunda sudah sangat sepuh.

Sempat membantu membuat satu jenis kue, kue-kue tradisional lain sudah di cicil adek dan ibunda sebelum saya datang. Sempat membantu mempersiapkan membuat lemang *sebelum-sebelumnya ga pernah*, membantu pengapiannya sebentar *phiuff,, sangat panas, mana puasa. Etek tempat menumpang mengapikan lemang itu malah sempat mengalami dehidrasi 😥 *

Karena banyak yang baralek (pesta pernikahan), saya dan adek juga sempat bantu-bantu memasak di rumah yang punya hajat, menggantikan kewajiban ibunda. Di kampung, kalau ada yang pesta, masak memasaknya masih dilakukan oleh tetangga dan kerabat dekat maupun jauh. Sekarang sih udah mulai ada yang membayar jasa orang lain.

Jari kaki kanan saya yang awalnya kena kutu air, tapi sudah kering, mulai basah lagi, bahkan bagian bawah jari manis jadi luka dan perih.

Disini saya benar-benar merasa, hanya sedikit bagian anggota tubuh yang sakit, tapi membuat badan jadi ga bersemangat, males untuk kemana-mana. Hanya sempat mampir ke pantai Sago.

Ditambah lagi kendaraan mulai berulah, jika ngerem mendadak, ban kanan jadi terkunci. Udah dua kali bolak-balik ke bengkel. Tapi, yang namanya pulang kampung saat lebaran, bengkel ga pernah sepi. Orang bengkel sampai kewalahan.

Balik ke Perantauan Lagi

Karena anak sekolah masuk tanggal 18 Juli 2016, kami memutuskan untuk balik ke perantauan lagi hari Kamis, 14 Juli 2016. Niat jalan pagi sekitar pukul 8.00 WIB.

Eh, ban kanan belakang kendraan, ngunci lagi. Di bongkar lagi oleh saudara. Ketahuan juga kalau ada paku yang nancap di ban kiri.

Setelah selesai diperbaiki, kita baru jalan dengan perasaan ga enak. Mana kaki saya yang sakit, yang awalnya lukanya dibagian bawah, ternyata bagian atas yang terlihat kering, tapi gatel, malah mengeluarkan cairan. Jangan-jangan bernanah. Duh!

Arah balik ini kita juga membawa 2 orang keponakan, yang satu seusia junior, satunya lagi baru mau naik kelas 4 SD, tapi keduanya sangat mandiri, beda jauh sama junior.

Rencananya, arah balik ini kita mau lewat Lintas Timur Sumatera. Nantinya, di daerah Jambi, kita akan mengantar mereka ke rumah orang tua mereka yang ada di perantauan.

Kita juga di bekali nasi bungkus oleh saudara yang mempunyai usaha warung nasi di kampung. Enaknya punya banyak saudara 😆 .

Pamitan, jalan, mampir bentar ke bengkel untuk mencabut paku yang ada di ban kiri belakang.

Sekitar pukul 12.WIB, kita lanjut menuju Padang kota lewat by pass. Niat awalnya mau masuk kota sebentar, selain mau beli keripik balado, siapa tau bisa janjian ketemu sama sahabat-sahabat yang berdomisili di Padang kota. Sayangnya, si Bapak yang nyetir udah ga mau mampir-mampir lagi, ‘oleh-oleh ntar beli di jalan aja’ 😥 .

Berbelok ke arah Solok lewat Sitinjau Lawik (Sitinjau Laut), hujan turun sangat deres. Lewat Sitinjau yang jalannya membuat deg-deg-an, hujan pun reda. Sebelum masuk kota Solok, banyak pedagang penjual markisa dan terong belanda di pinggir jalan. Saya minta berhenti bentar untuk membeli terong belanda. Ternyata, tanpa di olah jadi jus, hanya saya yang menyukainya.

Catatan Mudik 2016 Pemandangan Alam Sumbar

Sawah setelah panen di daerah Sumatera Barat

Setelah lewat daerah Solok, ngisi bahan bakar pertama dan sekalian Ashar. Disini, kendraan mulai agak susah di starter. Perkiraan si Bapak, mungkin ‘banjir’ atau bahan bakarnya kurang bagus.

Sekitar pukul 19.00 kita berhenti di sebuah pom bensin sebelum daerah Sungai Dareh (masih wilayah Sumbar), karena saya berkomentar kenapa lampu kendraan kok kayak redup.

Si Bapak pun memeriksa lampu jauh dan dekat, redup. Lampu kabut malah ga nyala. Si bapak langsung menduga bahwa dinama charge bermasalah, sehingga aki tidak mengisi, akibatnya lampu jadi redup. Ini bisa bahaya kalau tiba-tiba mesin kendraan mati di tengah hutan, karena ga bakal bisa distarter, sapa yang mau dorong?

Si Bapak pun bertanya ke orang warung yang ada didekat pom bensin. Orang warung memberi tau bahwa bengkel terdekat ada sekitar 30 km lagi, tapi sekarang udah malam, mereka tutup dan ga bakal mau dipanggil.

Saya mengusulkan untuk menunggu pagi di situ aja, anggap aja kita sedang berpetualang. Si bapak merasa sayang, waktu terbuang percuma.

Keponakan yang seusia junior sibuk menelpon ayahnya yang berangkat belakangan dari kampung, dan beberapa sopir truk lintas Sumatera kenalan ayahnya.

Ayahnya yang mendapat telpon, pun menelpon ke kampung agar adik saya yang masih di kampung, mencari nomer telpon orang kampung yang tinggal di sekitar tempat kendraan kami ngadat. Ibu dan adik saya jadi mencemaskan kondisi kami.

Untungnya, si adek menelpon saya, dan saya jelaskan, jangankan kendaraan tua yang dibawa jalan jauh, kendraan keluaran terbaru aja ada yang mongok. Saat ini yang kami perlukan orang bengkel yang tau dinamo, dan bengkel satu-satunya yang ada di dekat situ sudah tutup dan ga mau dipanggil. Pilihannya ya menunggu pagi disitu. Tempatnya rame, banyak yang berhenti disana. Ada warung buat ngopi-ngopi, toilet, area untuk merebahkan badan, mushola. Kalau memberitahu yang bukan orang bengkel malah akan membuat repot mereka aja.

Tapi, si ponakan yang ikut, tetap cemas. Sibuk menelpon. Saya ingatkan jika kenalan ayahnya bukan orang bengkel, itu akan percuma. Malah akan mengganggu kesibukan mereka. Dia tetap yakin bahwa salah satunya pasti bisa. Si bapak ikut terpengaruh, kalau memang ada yang bisa membantu, kenapa tidak.

Saat kami nyate, nongol satu orang kenalan ayahnya yang tinggal di derah situ. Ngobrol-ngobrol, dia ga bisa bantu, hanya memberikan informasi yang sama dengan yang diberikan orang warung sebelumnya.

Sekitar pukul 24, singgah sebuah truk yang tadi di telpon si keponakan. Truk itu mau ke Jambi, ternyata yang mengemudikannya orang satu kampung, bahkan istrinya adalah teman SD saya dulu. Begitu melihatnya, saya langsung tau kalau dia bukanlah orang bengkel. Dugaan saya tidak salah.

Si bapak ngobrol sama ayahnya si keponakan lewat telpon, dia diyakinkan bahwa di dekat bengkel terdekat itu, ada rumah makan. Dia pun tergiur untuk lebih dekat ke bengkel *padah kita kan baru nyate?*.

Di putuskan, kami akan jalan mengikuti truk sebagai penerang dan antisipasi kalau kendaraan ngadat. Kendaraan pun di dorong sebentar agar bisa nyala.

Catatan Mudik 2016 Jembatan di Palembang

Salah satu jembatan di daerah Palembang, Sumatera Selatan

Lebih kurang 30 menit jalan, di pinggir perbukitan, rumah hanya ada satu dua, truk berhenti. Si suami teman itu menghampiri kendraan kami yang langsung mati begitu berhenti, ia memberi tau bahwa bengkel dinamo yang dimaksud itu ada agak diatas bukit, jadi memang harus nunggu pagi juga. Hah! Jalan sempit, kendraan yang lewat rame, tapi tempatnya sepiiiii… Mending di pom bensin tadi.

Keponakan yang tadi sibuk telpon, semakin cemas dengan kondisi tempat kami berhenti, yang bukannya lebih baik, malah menyeramkan.

Sebelumnya, setelah kami bergerak dari pom bensin dan mengikuti truk, ayah keponakan minta berbicara dengan saya, ia memberi tau bahwa tak jauh dari bengkel itu ada penginapan. Beuh,, saya tau arahannya, saat ini saya bukan butuh penginapan, tapi bengkel. Lha, mau ke penginapan juga udah tanggung, udah pukul 1 dinihari, dan si Bapak yang nyetir juga ga bakal bisa istirahat, percuma aja!

Si Bapak, lama terdiam setelah memahami keadaan. Saya yang dari tadi nyinyir agar menunggu pagi di daerah pom bensin yang lebih rame, memilih diam.

Akhirnya, setelah mengamati keadaan, si Bapak minta tolong kendraan di dorong agar menepi ke tempat yang agak lega dan terang, ke dekat bangunan yang ternyata sebuah toko, yang menjual spare part kendaraan. Di halaman toko itu ada beberapa kendaraan yang parkir.

Dua ponakan, daripada nunggu pagi disitu, mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan dengan truk kenalan ayahnya tersebut, karena truk tersebut juga akan melewati tempat tinggalnya. Rupanya, dia begitu cemas, karena belum mendaftar ke SMP. Rencananya, Jum’at nyampe Jambi ia akan langsung ke sekolah bersama ibunya. Daripada menunggu, lebih baik lanjut, rencana mendaftar sekolahnya tidak akan terganggu. Baguslah.

Saya dan keluarga kecil memilih menunggu pagi yang hanya beberapa jam lagi. Kaca kendaraan diturunkan, junior mengatur bangku agar bisa rebahan, begitu juga dengan si Bapak. Saya memilih merebahkan badan di bangku tengah. Karena di daerah pegunungan, udara sejuk. Kami coba memejamkan mata.

Pukul 5 pagi, saya membuka mata. Junior dan si Bapak masih pules. Rumah-rumah penduduk yang hanya ada satu dua, lampunya masih menyala.

Saya kebelet kencing. Akhirnya mengambil air mineral gelas, menggunakannya buat kumur dan membasuh wajah. Saya pun pindah ke bangku belakang, kemudian menjadikan gelas air mineral kosong itu buat wadah kencing. Anggap saja sedang dalam rangkaian pemeriksaan kesehatan, tes urine 😆 Bersucinya dengan tisu basah. Jorok! Emang! Tapi kan darurat, daripada ditahan jadi penyakit 😛 .

Subuhan. Hari tau-tau hujan, lumayan deras. Buangan air kencing saya pun larut bersama hujan. Tidak akan menyebabkan bau pesing bagi sekitar :mrgreen: .

Pukul 5.30, belum juga ada tanda beraktifitas dari penduduk setempat. Saya pun membangunkan si Bapak. Memberikan payung. Cowok mah kalau hanya mau kencing, gampang ya, tinggal cari semak-semak, karena hari hujan, jadi ga perlu mencari air mengalir untuk melepas hajat itu 😛 .

Si Bapak, kemudian menuju ke arah bengkel dinamo yang diperkirakan tadi malam. Tapi,, dalam situasi terang sudah keliahatan jelas semuanya, yang ada hanya papan penunjuk bengkel dinamo. Bengkelnya tidak terlihat. Apes.

Pukul setengah delapan, petugas toko menjual spare part yang kami berhenti dipinggirnya, mulai membuka rolling doornya. Si Bapak menghampirinya, bertanya tentang bengkel dinamo di seberang. Ternyata memang sudah pindah ke lokasi arah kami datang semalam. Nasib.

Si Bapak kemudian menceritakan permasalahan yang dialami kendaraan kami. Si petugas tidak bisa membantu, tapi akan bertanya dulu ke pemilik toko yang baru datang. Kemudian dia membangunkan rekan kerjanya yang lain, melanjutkan membuka semua tokonya.

Pemilik toko mau coba membantu, ia punya kenalan yang bisa dinamo.

Tak berapa lama, muncul kendaraan sejenis dengan kendaraan kami. Aki mobil itu dilepas. Si Bapak memberitahu saya, jika dinamo kendaraan ngisi, walau akinya dilepas, kendaraan akan tetap nyala. Saya mengangguk-angguk.

Dua kendaraan itupun bertukar aki. Kendaraan kami pun langsung bisa di starter dan lampu-lampu kembali terang. Kendaraan dipindahkan ke lokasi yang nyaman untuk diotak atik oleh orang toko tersebut. Hujan masih menyisakan gerimisnya.

Setelah salah satu orang bengkel beberapa kali bolak balik dengan motor membawa si dinamo *pastinya ke bengkel dinamo*. Sekitar setengah sepuluh, kendaraan pun dinyatakan permasalahannya teratasi. IC dinamo charger nya harus diganti. Total bayarnya lumayan juga.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya beranjak dari wilayah Sumatera Barat jadinya hari Juma’at, 15 Agustus 2016.

Kaki saya yang sakit mulai terasa semakin berdenyut. Karena sudah mendekati batas provinsi, kita hanya melewati kampung kecil, hutan, tidak ada apotek.

Setelah masuk wilayah provinsi Jambi, sebelum beralih ke Lintas Timur, baru ketemu apotek. Belilah kain kasa dan cairan infus buat membersihin luka di kaki yang udah berair dan membengkak.

Lintas Timur Sumatera, kondisi jalan lebih baik dari Lintas Tengah Sumatera, tapi kendaraan tidak bisa ‘lari’ karena saingan sama truk yang sangat banyak. Ada beberapa titik jalan yang juga sedang diperbaiki. Sempat beberapa kali disiram hujan deras, hingga kendaraan harus bergerak sangat pelan. Sempat juga ban kanan kendaraan ngadat di tengah hujan deras tersebut karena ngeremnya agak kasar. Sempat deg-deg-an lagi, apa harus mencari bengkel lagi?

Tapi, setelah di mundurkan, kendaraan bisa jalan.

Catatan Mudik 2016 Penyebrangan Bakauheni Lampung

Sekitar pukul 21.45, Sabtu, 16 Juli 2016 kita sampai di Bakauheni. Nunggu kapal sebentar.

Sebelumnya, sempat mampir Palembang, icip-icip mpek-mpek dan beli kerupuk ikan. Di kapal, dapat parkir atas, di pinggir, Alhamdulillah, saya ga perlu turun.

Minggu 17 Juli 2016, pukul 3.45 kita nyampai di rumah. Setelah shalat Subuh, kami pun merebahkan diri, istirahat. Eh, junior yang memang banyakan tidur selama perjalanan, memilih bermain game.

Pagi harinya, pun dimulai kesibukan mempersiapkan junior untuk menyambut hari pertamanya sebagai anak SMP. Catatannya bisa di baca ditulisan cerita hari pertama sekolah SMP.

Begitulah catatan perjalanan kami mudik lebaran 2016 ke Sumatera kemaren. Perjalanan yang takkan pernah terlupakan.

Pesan moralnya, kendaraan yang mau dibawa jalan jauh harus benar-benar dipastikan dalam kondisi sehat. Masih ngadat juga, ambil aja hikmahnya, siapa tau itu pertanda bakal dikasih rejeki kendaraan baru 😀 .

*Catatannya ternyata panjang juga 😀

Iklan