Catatan Perjalanan Pulang Kampung (Mudik Lebaran) 2016 ke Sumatera


Catatan Perjalanan Pulang Kampung (Mudik Lebaran) 2016 ke Sumatera, sebuah postingan yang sudah sangat telat. Malahan sudah mulai lupa, apa saja yang akan dituliskan.

Berangkat Dari Kediaman

Saya dan keluarga mulai jalan dari daerah sekitar tempat tinggal sekitar pukul 20.00 WIB, tanggal 1 Juli 2016. Ini disebabkan karena kendaraan yang mau dibawa jalan jauh ini baru keluar ‘paksa’ dari bengkel * Waktu perbaikannya sangat dikebut, sebab budgetnya baru didapat, dan terbatas pula, tapi harus tetap dibawa jalan 😳 *.

Saya sempat deg-deg-an karena mobil yang baru keluar dari bengkel ga dijajal dulu. Walaupun keluar dari tempat perbaikan, biasanya, ada saja hal lain yang terlewatkan oleh orang bengkelnya. Ini langsung dibawa jalan jauh. Phiufff.

Perjalanan menuju pelabuhan Merak bisa dibilang standar, ga macet yang gimana-gimana.

Nyampai Merak, sempat nunggu kapal bentar, karena kapal yang ada saat kita sampai, sudah penuh.

Bisa menyebrang sekitar pukul 24.00 WIB, dapat parkiran di bawah, pengap. Kita milih naik ke atas. Pelabuhan Merah penuh oleh cahaya lampu. Saya mengambil beberapa foto keadaan pelabuhan penyebrangan Merak di malam hari dengan kamera ponsel.

Catatan Mudik 2016 Merak Malam Hari
Pelabuhan Merak di Malam Hari

Junior sempat merebahkan badannya sebentar di lantai kapal. Berhubung saya lupa membawa tiker dari mobil, badannya hanya dialasi jaket. Ternyata, tangan dan kakinya yang ga tertutup, jadi hitam kena kotoran lantai kapal. Untung bawa tisu basah 😀 .

Kita pun pindah ke ruangan yang ada kafenya, buat ngisi perut.

Kursi-kursi yang tersedia penuh, bukan oleh sesaknya penumpang, tapi oleh barang-barang yang juga ditaroh di bangku, atau dipakai buat tidur rebahan. Padahal, sangat banyak penumpang lain yang memerlukan tempat duduk. Mereka pada cuek, walau ada himbauan dari petugas sekalipun. Empati pada sesama itu sudah mulai menipis.

Sekitar jam 2 dini hari, kita sudah berada di tanah Sumatera, mulai menyusuri pelabuhan Bakauheni Lampung. Kita memilih lewat Lintas Tengah Sumatera.

Saya lupa, berhenti sahur dimana.
Alhamdulillah, selama melakukan perjalanan mudik, semenjak junior sudah mulai puasa penuh dari TK B, ia tetap mau menjalankan ibadah puasa. Tentunya dengan memberikan pengertian, apa dia tidak sayang puasanya akan batal, karena sebuah perjalanan, yang dia sendiri lebih banyak tidurnya selama perjalanan itu. Hanya si Bapak aja yang ga puasa, karena perlu nyamil agar tetap konsentrasi dan terjaga.

Kita melintasi Lampung ditemani cahaya matahari pagi. Langit Lampung terlihat sangat cantik.

Catatan Mudik 2016 Matahari pagi di Lampung
Matahari pagi dan langit biru Lampung

Kami istirahat hanya di pom bensin, saat ngisi bahan bakar, atau jika sudah pukul 1 dini hari dan perjalanan masih di dominasi oleh hutan.

Biasanya, setelah istirahat sekitar 3 jam-an, pak sopir sudah merasa bugar kembali,  baru melanjutkan perjalanan lagi. Tapi, nanti akan berhenti lagi sebentar untuk sholat Subuh.

Ada beberapa titik jalan yang rusak di Lintas Tengah Sumatera, harus lewat satu-satu, bergantian dengan pengguna jalan yang berlawanan arah.

Secara keseluruhan, perjalanan saat berangkat pulang kampung, lancar-lancar aja. Junior dan bapaknya sempat mandi dan berganti pakaian, sebelum memasuki wilayah Sumatera Barat. Saya enggak 😳 .

Kita memasuki daerah Sumatera Barat, pada hari Minggu dini hari tanggal 3 Juli 2016. Berhubung saya ga bisa gantiin nyetir :mrgreen: dan Si Bapak sudah sangat ngantuk, ia dan junior memilih mandi lagi dan berganti pakaian, kemudian tidur di sebuah mushola.

Yang seharusnya sudah nyampai kampung halaman pada siang hari, karena kita sering berhenti dan istirahat justru di wilayah Sumatera Barat, baru nyampe rumah orangtua sekitar pukul 19.30 WIB.

Pulang kampung, dari rumah di perantauan ke rumah orang tua di Sumatera Barat, ditempuh dalam waktu 48 jam. Ini merupakan waktu tempuh terlama kami selama mudik dari perantauan.

Catatan Mudik 2016 Laut Bungus Sumbar
Laut dan Perahu di daerah Bungus Sumbar

Kegiatan di Kampung

Saya takjub dengan pertumbuhan keponakan yang sudah pada mulai ABG, yang sudah lebih dulu sampai di kampung. Ada yang sudah melewati tinggi saya. Mulai merasa tua dan pendek 😳 .

Saya juga disibukkan oleh kegiatan persiapan lebaran, karena ibunda sudah sangat sepuh.

Saya sempat membantu membuat satu jenis kue. Kue-kue tradisional lain sudah dicicil membuatnya oleh adek dan ibunda, sebelum saya datang.

Sempat juga membantu mempersiapkan membuat lemang *sebelum-sebelumnya ga pernah, hanya terima Lemang yang sudah matang*. Baru membantu pengapiannya sebentar. Phiuff,, saya merasa sangat panas, mana puasa. Etek tempat menumpang mengapikan lemang itu, malah sempat mengalami dehidrasi 😥 *

Karena banyak yang baralek (pesta pernikahan), saya dan adek juga sempat bantu-bantu memasak di rumah yang punya hajat, menggantikan kewajiban ibunda.

Di kampung saya, kalau ada yang pesta, masak memasaknya masih dilakukan oleh tetangga, dan kerabat dekat maupun jauh. Sekarang ini sih udah mulai ada yang membayar jasa orang lain.

Semenatara itu, jari kaki kanan saya, yang ketika berangkat mudik, sempat kena kutu air, dan sudah kering, mulai basah lagi. Bahkan, bagian bawah jari manis jadi luka dan perih.

Pulang kampung kali ini saya baru benar-benar merasa, hanya sedikit bagian anggota tubuh yang sakit, tapi membuat badan jadi ga bersemangat, males untuk kemana-mana. Saya hanya sempat mampir ke pantai Sago.

Bukan hanya badan yang berasa kurang fit, tapi kendaraan juga mulai berulah.

Jika ngerem mendadak, ban kanan jadi terkunci. Sudah dua kali bolak-balik ke bengkel, tapi ga ada perubahan. Namanya kampung saat lebaran, bengkel ga pernah sepi. Orang bengkelnya sampai kewalahan, sepertinya yang menurutnya tidak terlalu parah-parah amat, hanya dilihat aja.

Waktunya Balik ke Perantauan Lagi

Karena anak sekolah masuk tanggal 18 Juli 2016, kami memutuskan untuk balik ke perantauan lagi pada hari Kamis, 14 Juli 2016. Niatnya akan jalan pagi, sekitar pukul 8.00 WIB.

Eh, ban kanan belakang kendaraan, ngunci lagi.

Di bongkar lagi oleh saudara. Baru ketahuan juga kalau ada paku yang nancap di ban sebelah kiri.

Setelah selesai diperbaiki, kita baru jalan, dengan perasaan ga enak atau agak was-was.

Mana kaki saya yang sakit, yang awalnya lukanya dibagian bawah, ternyata bagian atas yang terlihat kering, tapi gatel, malah mengeluarkan cairan. Jangan-jangan bernanah. Duh!

Arah balik kali ini kita juga membawa 2 orang keponakan, yang satu seusia junior, satunya lagi baru mau naik kelas 4 SD. Keduanya sangat mandiri, beda jauh sama junior.

Rencananya, arah balik ini kita mau lewat Lintas Timur Sumatera. Nantinya, di daerah Jambi, kita akan mengantar dua ponakan ini ke rumah orang tua mereka yang ada di perantauan.

Kita juga dibekali nasi bungkus oleh saudara yang mempunyai usaha warung nasi di kampung. Alhamdulillah. Enaknya punya banyak saudara 😆 .

Pamitan, jalan. Mampir bentar ke bengkel pertama yang ditemui untuk mencabut paku yang ada di ban kiri belakang.

Sekitar pukul 12.WIB, kita lanjut menuju Padang kota, lewat by pass.

Niat awalnya mau masuk kota sebentar. Selain mau beli keripik balado, siapa tau saya bisa janjian ketemu sama sahabat-sahabat yang berdomisili di Padang kota. Sayangnya, si Bapak yang nyetir udah ga mau mampir-mampir lagi. Dia bilang, ‘oleh-oleh ntar beli di jalan aja’ 😥 .

Penumpang ga berani membantah :mrgreen: .

Dari by pass arah Teluk Bayur, di perempatan Lubuk Begalung, kami berbelok ke arah Solok, lewat Sitinjau Lawik (Sitinjau Laut), hujan turun sangat deres.

Berhasil melewati Sitinjau Laut yang jalannya membuat deg-deg-an. Hujan pun reda.

Sebelum masuk kota Solok, banyak pedagang penjual markisa dan terong belanda di pinggir jalan.

Saya minta berhenti bentar, untuk membeli terong belanda dan markisa. Ternyata, tanpa di olah menjadi jus, hanya saya yang menyukainya. Junir, ponakan, dan teman hidup, tidak ada yang mau nambah lagi setelah nyobain satu buah 😳 .

Catatan Mudik 2016 Pemandangan Alam Sumbar
Sawah setelah panen di daerah Sumatera Barat

Setelah lewat daerah Solok, kami ngisi bahan bakar pertama, dan sekalian sholat Ashar. Disini, kendaraan mulai agak susah di starter. Perkiraan si Bapak, mungkin ‘banjir’ atau bahan bakarnya kurang bagus.

Sekitar pukul 19.00, kita berhenti di sebuah pom bensin sebelum daerah Sungai Dareh (masih wilayah Sumbar). Berhenti karena saya berkomentar, kenapa lampu kendraan kok kayak redup.

Si Bapak pun memeriksa lampu jauh dan dekat, redup. Lampu kabut malah ga nyala.

Si bapak langsung menduga bahwa dinamo charger mobil bermasalah, sehingga aki tidak mengisi, akibatnya lampu jadi redup.

Kondisi seperti ini bisa bahaya kalau tiba-tiba mesin kendaraan mati di tengah hutan, karena ga bakal bisa di-starter, sapa yang mau dorong?

Si Bapak pun bertanya ke orang warung yang ada di dekat pom bensin. Orang warung memberi tahu bahwa bengkel terdekat ada sekitar 30 km lagi. Tapi, sekarang sudah malam, mereka tutup, dan ga bakal mau dipanggil.

Saya mengusulkan untuk menunggu pagi di situ aja, anggap aja kita sedang berpetualang. Si bapak merasa sayang, waktu terbuang percuma.

Keponakan yang seusia junior, sibuk menelpon ayahnya yang berangkat belakangan dari kampung, dan beberapa sopir truk lintas Sumatera kenalan ayahnya.

Ayahnya yang mendapat telpon, ternyata menelpon ke kampung. Maksudnya agar adik saya yang masih di kampung, mencarikan nomer telpon orang kampung yang tinggal di sekitar tempat kendaraan kami ngadat.

Ibu dan adik saya jadi mencemaskan kondisi kami.

Untungnya, si adek menelpon saya.

Saya bisa menjelaskan, jangankan kendaraan tua yang dibawa jalan jauh, kendaraan keluaran terbaru aja, ada yang mongok. Saat ini, yang kami perlukan orang bengkel yang tau dinamo. Bengkel satu-satunya yang ada di dekat situ sudah tutup, dan ga mau dipanggil. Pilihannya ya menunggu pagi disitu. Tempatnya rame, banyak yang berhenti juga di sana. Ada warung buat ngopi-ngopi, toilet, area untuk merebahkan badan, mushola. Komplit. Kalau memberitahu yang bukan orang bengkel, malah akan membuat repot mereka aja.

Adik saya bisa memahami situasi yang ada. Ibu saya tidak cemas lagi.

Tapi, si ponakan yang ikut, tetap aja cemas. Ia sibuk menelpon. Saya ingatkan, jika kenalan ayahnya bukan orang bengkel, itu akan percuma. Malah akan mengganggu kesibukan mereka.

Si ponakan tetap yakin bahwa salah satunya pasti bisa. Teman hidup, teman perjalanan saya yang sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh, jadi ikut terpengaruh, kalau memang ada yang bisa membantu, kenapa tidak.

Saat kami makan sate, nongol satu orang kenalan ayahnya yang tinggal di derah situ. Ngobrol-ngobrol, dia ga bisa bantu, hanya memberikan informasi yang sama dengan yang diberikan orang warung sebelumnya.

Sekitar pukul 24, singgah sebuah truk yang tadi ditelpon si keponakan. Truk itu mau ke Jambi. Ternyata, yang mengemudikannya orang satu kampung, bahkan istrinya adalah teman SD saya dulu. Begitu melihatnya, saya langsung tau, kalau dia bukanlah orang bengkel. Dugaan saya tidak salah.

Si bapak ngobrol sama ayahnya si keponakan lewat telpon. Dia diyakinkan bahwa di dekat bengkel terdekat itu, ada rumah makan. Si bapak pun tergiur untuk lebih dekat ke bengkel yang dimaksud *padahal, kita kan baru nyate? Masih kenyang. Ngapain ke rumah makan?*.

Diputuskan, kami akan jalan mengikuti truk sebagai penerang, dan antisipasi kalau kendaraan ngadat. Kendaraan pun didorong sebentar agar bisa nyala.

Catatan Mudik 2016 Jembatan di Palembang
Salah satu jembatan di daerah Palembang, Sumatera Selatan

Lebih kurang 30 menit jalan, di pinggir perbukitan, rumah hanya ada satu dua, truk berhenti.

Si suami teman itu menghampiri kendaraan kami yang langsung mati begitu berhenti. Ia memberi tahu bahwa bengkel dinamo yang dimaksud itu, ada agak diatas bukit, jadi memang harus nunggu pagi juga.

Hah! Jalan sempit, kendraan yang lewat rame, tapi tempatnya sepiiiii…
Mending di pom bensin tadi.

Keponakan yang tadi sibuk telpon, semakin cemas dengan kondisi tempat kami berhenti, yang bukannya lebih baik, malah menyeramkan.

Sebelumnya, setelah kami bergerak dari pom bensin dan mengikuti truk, ayah si keponakan minta berbicara dengan saya, ia memberi tau bahwa tak jauh dari bengkel itu ada penginapan.

Beuh,, saya tau arahannya. Saat ini, saya bukan butuh penginapan, tapi bengkel. Lha, mau ke penginapan juga udah tanggung, udah pukul 1 dinihari, dan si Bapak yang nyetir juga ga bakal bisa istirahat, percuma aja!

Si Bapak, agak lama terdiam, setelah memahami keadaan. Dia nampak agak menyesal ga mempertimbangkan pendapat saya, terlalu mendengarkan suara-suara yang terkesan niat membantu.

Saya yang dari tadi nyinyir, agar menunggu pagi di daerah pom bensin yang lebih rame, memilih diam.

Untungnya, si Bapak orang lapangan, yang terbiasa menemui kondisi yang jauh lebih sulit daripada situasi yang kami hadapi saat ini.

Akhirnya, setelah mengamati keadaan sekeliling, si Bapak minta tolong kendaraan didorong agar menepi ke tempat yang agak lega dan terang, beberapa meter ke depan. Ke dekat bangunan yang paling terang yang terlihat dari tempat kami saat ini.

Ternyata, bangunan itu sebuah toko yang menjual spare part kendaraan. Di halaman toko itu juga ada beberapa kendaraan yang parkir.

Dua ponakan, daripada ikutan menunggu pagi disitu, mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan dengan truk kenalan ayahnya tersebut, karena truk tersebut juga akan melewati tempat tinggalnya.

Rupanya, dia begitu cemas dari tadi itu karena belum mendaftar ke SMP. Rencananya, Jum’at (hari terakhir pendaftaran) nyampe Jambi, ia akan langsung ke sekolah bersama ibunya.

Akhirnya, daripada menunggu, lebih baik lanjut. Rencana mendaftar sekolahnya tidak akan terganggu.

Saya dan keluarga kecil memilih menunggu pagi yang hanya beberapa jam lagi.

Kaca kendaraan diturunkan sedikit, junior mengatur bangku agar bisa rebahan, begitu juga dengan si Bapak. Saya memilih merebahkan badan di bangku tengah.

Karena di daerah pegunungan, udara sejuk.
Kami coba memejamkan mata.

Pukul 5 pagi, saya membuka mata. Junior dan si Bapak masih pules. Rumah-rumah penduduk yang hanya ada satu dua, lampunya masih menyala.

Saya kebelet kencing. Akhirnya, mengambil air mineral gelas, menggunakannya buat kumur dan membasuh wajah.

Saya pun pindah ke bangku belakang, kemudian menjadikan gelas air mineral kosong itu buat wadah kencing. Anggap saja sedang dalam rangkaian pemeriksaan kesehatan, tes urine 😆 Bersucinya dengan tisu basah. Jorok? Emang! Tapi kan darurat. Daripada ditahan jadi penyakit 😛 .

Subuhan.
Hari tau-tau hujan, lumayan deras. Buangan air kencing saya pun larut bersama hujan. Tidak akan menyebabkan bau pesing bagi sekitar :mrgreen: .

Pukul 5.30, belum juga ada tanda beraktifitas dari penduduk setempat.

Saya pun membangunkan si Bapak. Memberikan payung. Cowok mah kalau hanya mau kencing, gampang ya, tinggal cari semak-semak. Karena hari hujan, jadi ga perlu mencari air mengalir untuk melepas hajat itu 😛 .

Si Bapak, kemudian menuju ke arah bengkel dinamo yang diperkirakan tadi malam. Tapi,, dalam situasi terang sudah kelihatan jelas semuanya, yang ada hanya papan penunjuk bengkel dinamo. Bengkelnya tidak terlihat.
Apes.

Pukul setengah delapan, petugas toko yang menjual spare part, yang kami berhenti dipinggirnya, mulai membuka rolling door tokonya.

Si Bapak menghampirinya, bertanya tentang bengkel dinamo di seberang. Ternyata memang sudah pindah ke lokasi arah kami datang semalam. Nasib.

Si Bapak kemudian menceritakan permasalahan yang dialami kendaraan kami. Si petugas tidak bisa membantu, tapi akan bertanya dulu ke pemilik toko yang baru datang. Kemudian dia membangunkan rekan kerjanya yang lain, melanjutkan membuka semua tokonya.

Pemilik toko mau coba membantu, ia punya kenalan yang bisa dinamo.

Tak berapa lama, muncul kendaraan sejenis dengan kendaraan kami. Aki mobil itu dilepas.

Si Bapak memberitahu saya, jika dinamo kendaraan ngisi, walau akinya dilepas, kendaraan akan tetap nyala. Saya mengangguk-angguk.

Dua kendaraan itupun bertukar aki. Kendaraan kami pun langsung bisa di-starter dan lampu-lampu kembali terang.

Kendaraan kami dipindahkan ke lokasi yang nyaman untuk diotak atik oleh orang toko tersebut.

Hujan masih menyisakan gerimisnya.

Setelah salah satu orang bengkel beberapa kali bolak balik dengan motor membawa si dinamo *pastinya ke bengkel dinamo*.

Sekitar setengah sepuluh, kendaraan pun dinyatakan permasalahannya teratasi. IC dinamo charger nya harus diganti. Total bayarnya lumayan juga.

Kami pun melanjutkan perjalanan.

Saya beranjak dari wilayah Sumatera Barat menuju batas provinsi jadinya hari Juma’at, 15 Juli 2016.

Kaki saya yang sakit, mulai terasa semakin berdenyut.

Karena sudah mendekati batas provinsi, kita hanya melewati kampung kecil dan hutan, tidak ada apotek.

Setelah masuk wilayah provinsi Jambi, sebelum beralih ke Lintas Timur, baru ketemu apotek. Belilah kain kasa dan cairan infus buat membersihin luka di kaki yang sudah berair dan membengkak.

Lintas Timur Sumatera, kondisi jalan lebih baik dari Lintas Tengah Sumatera. Tapi kendaraan tidak bisa ‘lari’, karena saingan sama truk yang sangat banyak. Ada beberapa titik jalan yang juga sedang diperbaiki. Sempat beberapa kali disiram hujan deras, hingga kendaraan harus bergerak sangat pelan.

Sempat juga ban kanan kendaraan ngadat di tengah hujan deras tersebut, karena ngeremnya agak kasar. Sempat deg-deg-an lagi, apa harus mencari bengkel lagi?

Tapi, setelah dimundurkan, kendaraan bisa jalan lagi.

Catatan Mudik 2016 Penyebrangan Bakauheni Lampung

Sekitar pukul 21.45, Sabtu, 16 Juli 2016 kita sampai di Bakauheni. Nunggu kapal sebentar.

Sebelumnya, sempat mampir di daerah Palembang, icip-icip mpek-mpek, dan beli kerupuk ikan.

Di kapal, dapat parkir atas, di pinggir. Alhamdulillah, saya ga perlu turun dari mobil. Cukup membuka kaca mobil.

Minggu, 17 Juli 2016, pukul 3.45 kita nyampai di rumah. Setelah shalat Subuh, kami pun merebahkan diri. Istirahat. Eh, si junior yang memang banyakan tidur selama perjalanan, memilih bermain game.

Pagi harinya, pun dimulai kesibukan mempersiapkan kelengkapan junior untuk menyambut hari pertamanya sebagai anak SMP pada hari Senin. Catatannya bisa di baca ditulisan cerita hari pertama sekolah SMP.

Begitulah catatan perjalanan kami mudik lebaran 2016 ke Sumatera kemaren. Perjalanan yang takkan pernah terlupakan.

Kendaraan setelah dibawa lagi ke bengkel di sekitar tempat tinggal, sudah pulih kembali, tapi ya sesuai dengan umurnya 😳 .

Pesan moralnya, kendaraan yang mau dibawa jalan jauh itu harus benar-benar dipastikan dalam kondisi sehat. Apalagi baru keluar dari bengkel yang pengerjaannya dikebut. Jika kendaraan sudah dipersipakan, tapi masih ngadat juga, ambil aja hikmahnya, siapa tau itu pertanda bakal dikasih rejeki kendaraan baru 😀 .

*Catatannya ternyata panjang juga ya 😀

Iklan

25 comments

  1. Aih… aku bikin juga ah cerita perjalanan mudik kemarin… tapi foto-fotonya kemanaa yak … gak aku niatkan foto berseri …. padahal banyak cerita seru kemarin …

    btw itu alam desanya masih banyak banget yak …sawah dan jarang rumah gitu… aduh… senangnya

      • mau tidur pasti banyak suara jangkrik dan binatang malam

        bangun tidur… pasti udaranya seger banget tuh …

        pagi hari makan lesehan ngadep sawah … oh indahnya

        • Ngebolang dong Om ke Sumatera Barat makanya, tapi jangan hanya Padang Kotanya. Kalo sempat nginap di daerah Padang Panjang atau arah Bukittinggi, Puncak mah lewat Om *menurut saya sih..

          • Oke… “chelenge accepted” tinggal nunggu waktu sama modal nih tante… butuh kendaraan yang lebih bandel kayaknya nih

            Huaaa… nyupir sendiri… berapa lama yak

              • Biyuh … 36 jam … nyerah deh …. saya 12 jam aja jkt-pwt dah kudu pijet …

                eh tapi seru kayaknya bisa jalan jauh dengan suasana baru yak

                apalagi 48jam … horor

                • Hahah, dicoba Om, biar ga penasaran.
                  Etapi, kalo di pulau Jawa, walau hanya 12 jam, kan banyak ngeremnya, jadi pegel. Kalau Lintas Sumatera, paling pantat yang terasa panas dan kantuk yang harus bisa dilunasi dengan hanya nyandar/rebahan 1 -3 jam. Kalau mau nyantai, tinggal mampir-mampir disetiap kota nyari penginapan.

                  • Oh iya lancar yaaa… jalanan aman kaya tant… imej orang jawa sini jalanan sumatera banyak penjahatnya …

                    iya banyak ngeram ama kaki pegel …

                    • Kalau menurut saya, aman tidaknya sebuah perjalanan tergantung kitanya. Bedanya, di Sumatera jalan lintasnya masih di dominasi hutan, sementara di Pulau Jawa udah padat penduduk. Tinggal atur waktu aja melintasi hutannya itu. Di Jawa juga banyak terdengar kejahatan dijalankan? Semua sama aja.

    • Iya, saya setiap lewat Sitinjau, sy yang penumpang serasa ikutan ngerem pake kaki dan nahan pakai tangan,, 😀 Tp kemaren pemandangannya udah ketutup sama rimbunan pohon, kecuali memang sengaja menepi kepinggir jalan lama yg belokannya sangat tajam yg sekarang dijadikan tempat melihat pemandangan aja.

    • Hahaha,, perjuangan menjalani tradisi tahunan. Kalau sempat jalan-jalan masih mending, lha, ini ngetem doang di rumah ❓ #eh kan niatnya menjalin silaturrahim 😳

    • Kalau mudik lebaran itu rame kok,, rawannya hanya karena banyak melewati hutan yg sepi. Kalau pulang saat libur sekolah biasa,,, itu baru agak sepi jika lewat tengah. Tapi sekarang udah ga sesepi dulu lagi. Kebayang kayak di film yg gimana2 yaa 🙂

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.