Gimana Cara Melupakan ‘Bahasa Kebun Binatang’ Yang Telah Terlontar Saat Emosi?


Apa bisa, melupakan semua ‘bahasa kebun binatang’ yang telah terlontar saat emosi melanda? Pertanyaan tersebut masih mendengung di kepala saya sampai saat ini.

Kenapa memangnya?

Sabtu pagi, saya yang sibuk dengan suara mesin cuci yang sudah sampai pada proses pengeringan, tiba-tiba ditanya oleh junior sepintas lalu, “Mam, itu tetangga sedang ngapain? Kok suaranya berisik amat? Suara ibu-ibu lagi”.

Saya yang gak punya pikiran apa-apa, menjawab dengan nyantai, “Sedang ketawa ama ngobrol kencang-kencang, maksudnya?”.

Junior yang udah asyik dengan gamenya, nyahut, “Bukan ketawa, tapi nangis-nangis kayaknya.”

Saya heran dan gak percaya, soalnya dia suka ngisengin emaknya, “Masa? Kamu ngisengin Mama ya, ntar kamu bilang, Mama ketipuuu, makanya jangan kepo, Ma?”

Junior menunjukkan wajah serius, “Kalo Mama gak percaya, lihat aja ke keluar. Berisik banget tau.”

‘Bahasa Kebun Binatang’ Saat Marah?

Sosok yang terlihat tenang, cuek dalam keseharian, bukan jaminan kalo marah gakΒ  berkata kasar. Ini saya saksikan sendiri secara langsung.

Saya yang mendapatkan informasi dari anaknya pun turun. Sampai di bawah, saya kaget dengan suara tangisan salah satu tetangga yang meraung sambil teriak-teriak.

Saya masih gak percaya dengan pendengaran saya. Masa iya? Orang yang biasanya terlihat acuh, terkesan gak peduli sama tetangga, walau dia punya beberapa anak perempuan yang masih kecil-kecil, dia seperti tak berminat untuk sekedar ber say hello.

Bahkan, anak perempuannya yang tertua, bersekolah di sekolah yang sama dengan junior. Saat saya menjemput junior, anak gadisnya yang beberapa tahun di bawah junior sudah senyum-senyum saat melihat saya. Emaknya mah cuek bae.

Saya gak terlalu mengambil pusing, menganggapnya selalu diburu waktu, antara anak-anak dan pekerjaannya.

Saya memilih menegur anaknya. Secara, itu anak, kalau pulang sekolah dengan jemputan dan bibi yang jaga adek-adeknya sedang keluar, pernah nangis karena terkunci dan gak bisa masuk rumah, akhirnya sering nunggu di rumah. Emaknya, gak ada sepatah katapun yang keluar untuk ‘menitipkan’ anaknya.

Pernah, si anak tinggal di rumah sama neneknya yang baru datang. Si nenek saat buang sampah keluar, pintunya tanpa sengaja dikunci oleh anak yang nomer dua. Si nenek gak bisa masuk, si anak begitu menyadari dirinya terkunci dan terpisah dari nenek, menangis kejer, gak dengar instruksi dari si nenek.

Anak yang tua yang sudah tidur, gak merasa terganggu sedikitpun dengan suara tangisan, gedoran pintu, teriakan satpam dari luar.

Si anak baru ia terbagun setelah lebih dari satu jam, dan membukakan pintu. Apa mungkin ini efek dari seringnya ia mendengar ibunya meraung? Entahlah.

Setelah kejadian itu, si ibu mulai sempat ngobrol dengan saya. Saya menganggap biasa, anggap aja itu sudah kepribadian si ibu, malesh berbasa basi. Di hormati aja, karena saya juga gak nyaman sama tetangga yang mau tau aja urusan orang lain.

Kembali ke cerita Sabtu pagi, dengan suara tangisan yang meraung sambil teriak-teriak itu, sepertinya itu sebuah jawaban dari sikap si ibu yang pada dasarnya orangya ramai, tapi kemudian memilih seperti menutup diri. Ternyata banyak pikiran.

Saya yang tak percaya, mempertajam kuping, hampir saja sampai ke pagar rumah *emak-emak penasaran πŸ˜› * Untung di “ssttt” sama teman hidup yang ternyata sedang duduk di teras, sedang bersihin mata kucing Wizi *saking penasarannya, saya sampai gak lihat dia duduk 😳 *

Saya bertanya pada teman hidup, “ada apa?”. Dia hanya angkat bahu sambil menggeleng-geleng. Untung saja raungan dan teriakan si ibu dalam bahasa daerah tempat kami tinggal, jadi saya gak terlalu paham.

Orang-orang yang lewat pada memperlambat kendaraannya, yang ada di rumah pada keluar, satpam bersiaga di jarak tertentu dari rumah TKP.

Si ibu mencaci maki suaminya yang hanya terdengar bersuara sekali-sekali dan pelan. Suara Bibi yang kerja di rumah itu juga terdengar mencoba menenangkan. Si ibu tak peduli, ia semakin meraung, “Biarkan saja tetangga pada dengar, biar pada tau semua!”

Saya memilih kembali ke mesin cuci, sambil berharap tak terjadi KDRT dalam keluarga tersebut. Saya melanjutkan urusan ‘upik abu’ 😳 .

Setelah lebih dari satu jam, suami si ibu keluar naik motor dengan jaket dan helm tertutup rapat. Meninggalkan rumah yang masih dipenuhi raungan dan teriakan makian si ibu.

Bagaimana Cara Melupakan Bahasa Kebun Binatang Yang Terlontar Saat Emosi
Binatang aja dibentak dengan kasar, juga mengkerut, apalagi manusia?

Si bapak yang lebih banyak bersosialisi di lingkungan tempat tinggal, seharusnya akan malu banget nantinya. Bagaimana bisa dia akan menegakkan kepalanya bertemu orang-orang yang biasa ngobrol dengannya? Setelah istrinya memberinya predikat nama binatang yang dianggap hina oleh sebagian orang, dianggap lelaki tak berguna, dan banyak lagi.

Marah pada Pasangan dengan Bahasa Kasar, Cari Tempat Aman!

Efek kata-kata kasar bagi orang lain yang mendengar, kan bikin awkward ya. Makanya, kalo mau ‘ngamuk’, Mending cari tempat yang pas. Marahin deh tuh pasangan yang bikin emosi jiwa.

Saya sebenarnya syok dengan kemarahan si ibu yang seperti itu. Seorang sarjana, punya jabatan bagus di pekerjaan. Marah kok seperti itu? Mana anak-anaknya ada di rumah, bibi yang ngebantu-bantu malah yang jadi penengah. Emosi memang membuat buta, melumpuhkan semua logika.

Tapi, setelah emosi reda, emang ada rasa puas sudah mempermalukan suami ke semua orang?

Apa gak mikir, walau bagaimanapun, lelaki yang dipermalukan itu, adalah ayah dari anak-anak. Bukan hanya satu, tapi tiga? Kalau gak punya anak, masih bisa di tolerir lah πŸ˜€

Emang gak bisa melampiaskan kemarahan dengan cara yang takkan menyakiti perasaan anak-anak dan gak membuat risi tetangga.

Iya, kalau setelah berantam kayak gitu, kemudian pisah.
Lha, kalau nanti ternyata masih berstatus istri lelaki itu lagi, gimana menjelaskkan pada anak-anak *abaikan saja tetangga yang terlanjur mendengar*.

Kalau anak yang masih TK, mungkin gak begitu paham, tapi yang sudah mau remaja, penjelasan seperti apa agar alam bawah sadar si anak lupa tentang semua yang sudah terjadi?

Ibu, keluarga itu gak ada yang mulus-mulus aja kayak dalam cerita dongeng. Pasti ada kendala di dalamnya. Kalau lelaki yang kita nikahi ternyata tak sesuai standar yang kita harapkan dan dia melakukan kesalahan yang sama lagi, dan lagi. Pilih jalan yang terbaik, tanpa menyakiti perasaan anak-anak. Anak-anak harus tetap respek pada kedua orangtuanya. Kalau ada kekurangan di salah satu pihak, pasti ada alasan di baliknya.

Kalau masih mau bertahan dalam pernikahan, dengan orang yang sama, carilah jalan keluar yang terbaik dan bersiaplah berlapang dada untuk melihat konsekuensi yang memang tidak disukai. Tapi tolong, jangan keluarkan sumpah serapah dalam bahasa binatang yang didengar oleh semua orang. Cukup suami istri aja yang tau.

Ke pinggir pantai berdua sana, pilih yang agak sepi, kemudian berteriaklah sepuasnya, mau meluapkan kemarahan dengan bahasa apa saja, terserah.

Bagi Tips, Buat Melupakan Kata-Kata Kasar Itu Dong

Etapi, yang masih jadi pikiran saya, kalau nanti akur lagi, bagaimana cara melupakan semua kata-kata kebun binatang yang udah terlontar saat emosi itu ya?

Serius, saya pengen tau soalnya, secara, saya termasuk yang sulit melupakan kata-kata yang pernah menyakiti perasaan. Apa saya jenis pendendam? Engga juga, tapi kalau saya pribadi, semuanya takkan bisa sama lagi seperti sebelumnya. Mungkin bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja, tapi hati? Siapa yang tau.

Dan satu lagi yang saya herankan, suami istri yang berantemnya dengan bahasa binatang gitu, ada lagi yang setelahnya hamil lagi, punya anak lagi, berantem lagi. Kok bisa?

Ahh,, cinta memang gak bisa di nalar dengan logika, tapi bahasa binatang yang terlontar, harusnya bisa ditata dengan lebih baik kan yaa .

Tapi, marah kan salah satu eksistensi manusia dalam mempertahankan diri ya. Bingungkan? Sama πŸ˜‰ .

Bagi teman yang punya pengalaman pernah berdamai dengan bahasa kebun binatang saat emosi, bagi tipsnya yaa?

Iklan

15 comments

    • Kayaknya,,, lha,, sekarang udah akur lagi,,, saya yg kena polusi suara masih keliyengan πŸ˜† Istilah anak sekarang, mrk berdua mungkin sikapnya, “itu mah derita kuping loe, emang gw pikiran”

      Suka

  1. orang yang kukenal ada seperti itu, nggak nyampai nyebut kebun binatang sih.., tapi tetap kasar
    setelahnya dia bersikap seolah tak ada apa2, tapi kita yang kena semprot ini kan masih merasa ada luka di hati

    Suka

    • Kita yang mendengarkan, masih merasa aneh, tapi, mereka berdua udah mesra lagi, seperti ga terjadi apa-apa, benar banget, kak. Aneh juga ya? Berarti udah dianggap kebiasaan yg saling dipahami, tp giliran anak2 yg ngomong begitu, pasti dicap ga sopan πŸ˜€

      Suka

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma….

    itu satu contoh kehidupan yang sudah hilang kasih sayangnya. Kalau punya akal waras dan masih ada iman, pasti masih ada toleransinya walaupun saat bergaduh ya. Kasihan anak2 dan yang diperlakukan kata jelek seperti itu. Pasti hatinya terluka berat dan sukar sembuh walau senyum menghiasi bibir.

    Kalau saya, banyakkan istighfar, berdiam diri dan mendoakan keampunan buat yang sedang marah. Usahakan jangan menyebut bahasa kebun binatang ini agar tidak nyesel dan malu di kemudian hari.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. πŸ™‚

    Suka

    • Waalaikumsalam bunda Fatimah, benar sekali,
      tapi sepertinya kita yang ga sengaja mendengarkan yang jadi sungkan, mereka seperti ga terjadi apa-apa. Standar toleransi ucapan saat marah setiap pasangan mungkin berbeda-beda yaa πŸ˜€

      Suka

      • iya mbak, saya setuju. Standar itu bergantung kepada kesabaran dan ilmunya. Saya selalu bilang kepada diri sendiri, jangan sampai dikalahkan setan laknatullah, nanti setan ketawa sama kita sedangkan Allah berfirman bahawa Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar.

        namun, kalau sudah melangkau kehormatan kita dan diinjak-injak, iya itu perlu dijawab tegas kan mbak. Sudah tidak bisa kompromi lagi kayak gitu.

        Suka

  3. Aku ada tips mbaa, biasanya kalo aku lagi esmosi tingkat dewa nih mendingan aku pergi ninggalin orang itu. Perginya untuk tenangin diri biar reda, trus aku diemin dulu sampe hatiku reda dan normal lagi.

    Baru deh setelah itu ngomongin masalahnya sampe kelar πŸ™‚

    Aku sih belom nikah, tapi berhubung ada kesempatan bagi tips yasutraaaaaa πŸ˜›

    Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.