Penasaran Dengan Delima Si Buah Surga & Keberuntungan, Juga Lambang Kesuburan dan Keharmonisan


Saya sudah penasaran dengan delima si buah surga dan dipercaya juga sebagai buah keberuntungan ini semenjak mendengar pepatah “bibirnya bak delima merekah” pada saat belajar peribahasa di kelas 6 SD dulu *udah kapan tahun itu ❓ *.

Peribahasa tersebut untuk menggambarkan bentuk dan penampilan mulut dan gigi, terutama seorang gadis atau perempuan yang sangat bagus atau terawat, yaitu bibir merah, gigi rata, putih dan bersih.

Rona Merah Buah Delima Membuat Penasaran

Waktu itu, dikampung saya katanya ada orang yang punya pohon delima ini, tapi saya tidak pernah melihatnya berbuah. Saya baru tau bentuk si buah delima ini dari foto di majalah yang saya baca.

Saat SMP yang terletak di kampung tetangga, saya melihat pohon delima yang mewakili pepatah diatas, dihalaman rumah orang yang berpagar dan pintunya selalu tertutup *setiap saya pulang dan berangkat sekolah tentunya*. Buah delimanya bergelantungan dengan warna merah yang begitu menggoda saya untuk bisa menggenggamnya. Tapi apa daya, saya hanya bisa mengagumi si delima ini dari balik pagar saat berkesempatan lewat *lebay*.

Delima si Buah Surga dan Keberuntungan

Jenis delima putih yang warnanya kurang menarik 😦

Saya semakin penasaran dengan si delima ini karena saya tidak pernah melihat orang yang menjualnya. Padahal jaman saya masih baru mau abege itu, jika musim buah, buah yang ada pohonnya dikampung, sangat berlimpah, mulai dari durian, rambutan, mangga, manggis, jeruk, duku, jambu bol dan lainnya *yang sekarang semua buah itu udah seperti barang langka, kecuali durian yang masih ada kalau lagi musim*.

Singkat cerita, saya masih penasaran untuk mencicipi langsung rasa delima ini. Walau dari buku sudah dapat gambarannya bahwa salah satu buah yang disebutkan dalam kitab suci (QS. Al An’am:99 dan QS: Ar Rahman:68) ini agak berasa sepat dan mempunyai biji yang banyak.

Rasa penasaran saya terhadap rasa buah delima ini baru terjawab setelah berusia 26 tahunan dan kebetulan sudah merantau ke pulau Jawa untuk kerja. Salah satu rekan kerja ada yang hamil, dan dalam tradisi Jawa, saat kehamilan berusia 7 bulan mereka mengadakan syukuran 7 bulanan dengan salah satu seremoninya membuat rujak tujuh bulanan.

Salah satu bahan dasar dari rujak tujuh bulanan itu adalah delima. Walau sudah ditumbuk dan tercampur bumbu rujak, kebetulan rasa delimanya tetap dominan, agak sepat. Rasa penasaran terhadap buah delima yang udah menahun ini terjawab sudah. Saya ga tertarik lagi untuk mencicipinya 😳 .

Karena di kampung saya tak ada tradisi tujuh bulanan, maka saya pun bertanya-tanya tentang rujak yang katanya khusus itu. Salah dua alasan ke khususan itu karena nyari buah delima ini memang lumayan susah.

Delima dipakai karena dipercaya sebagai simbol dari kemakmuran dan kesuburan. Juga melambangkan banyak keturunan yang setia dan berbakti, bisa mencapai kesuksesan dan kehormatan.

Tapi kenapa nyari buah ini susah ya? *saya aja penasaran dari usia sekitar 13 tahun, baru bisa terjawab setelah lebih dari 10 tahun kemudian ❓ *. Mungkin ini disebabkan oleh rasanya yang kalau dimakan langsung, rasa sepatnya itu kurang menarik, sehingga masyarakat malas untuk menjadikan salah satu tanaman yang dikebunkan.

Atau alasan lain, biar nanti aja ketemunya di surga? Entahlah, saat itu olahan si delima tidak semudah mendapatkan olahan buah zaitun dan anggur *buah yang sama-sama disebutkan khusus dalam Al-Qur’an”.

Buah Delima Sebagai Pengobatan

Padahal, di tilik dari informasinya, si delima ini ternyata juga sering digunakan untuk pengobatan tradisional. Kulit cabang dan akarnya dipercaya sebagai obat yang sangat mujarab mengobati penyakit cacing pita dan penyakit cacingan lain yang merasuki usus.

Batang, daun, buah mentah dan kulit buah, air rebusannya juga bermanfaat untuk mengobati diare dan disentri, tapi rasanya yaitu tadi, sepat. Rasa sepat itu karena ada zat Tanin yang terkandung di dalamnya.

Setelah rasa penasaran saya pada si buah delima hilang, saya seperti melupakan buah yang satu ini. Sampai kemudian setelah menjadi blogger, saya kembali terpapar dengan informasi lain mengenai delima ini.

Saat itu, banyak blogger yang me-riveuw produk olahan si buah delima yang sudah jadi minuman jus kemasan, katanya sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Kembali si buah delima menarik perhatian dan rasa penasaran saya.

Ternyata, si buah delima ini setelah di teliti oleh para ilmuwan mengandung banyak manfaat:

Kaya Antioksidan
Tau dong ya kalau si antioksidan ini sangat bermanfaat untuk memerangi radikal bebas yang merusak sel-sel dalam tubuh yang nantinya bisa berujung ke penyakit kanker, jantung dan alzheimer. Kandungan antioksidan yang yang terdapat dalam delima lebih besar daripada antioksidan anggur merah, teh hijau maupun bluberry.

Bagi ibu hamil yang menkonsumsi jus buah delima *lebih baik buatan sendiri tentunya*, bisa melindungi otak bayi saat proses persalinan. Asam folat yang tinggi dalam buah delima juga bisa mencegah kecacatan sel syaraf yang bisa berakibat fatal pada kerusakan sumsum tulang belakang. Konsumsi buah delima yang teratur juga bisa menghindarkan melahirkan bayi bibir sumbing.

Untuk Kecantikan wanita, kandungan gula dalam buah delima bisa dimanfaatkan sebagai skrub untuk mengangkat sel kulit mati. Kulit akan terasa segar dan kencang.

Bisa untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dan menurunkan tekanan darah.

Mengkonsumsi buah delima bisa mencegah kerusakan tulang rawan sehingga bisa terhindar dari radang sendi. Juga untuk mengurangi pembentukan plague gigi.

Delima buah yang membuat saya penasaran ternyata buah yang kaya manfaat. Saya pun berniat mempunyai sepokok pohon delima dalam pot.

Delima Pohon Surga dan Keberuntungan

Pohon Delima yang saya tanam, masih penasaran dengan jenisnya, putih, merah atau ungu *Nasib ga tau cara membedakannya* 😥

Pohon Delima Simbol Keberuntungan

Awal tahun 2014, saat saya berkunjung kembali ke tempat adik di kota Tanjung Pinang, saya baru menyadari bahwa tetangganya yang dominan keturunan Tionghoa, semuanya mempunyai pohon delima yang ditanam di pot.

Saat saya berkunjung itu, semuanya dalam kondisi berbuah dan sedang ranum-ranumnya, tapi tak dipetik, dibiarkan jatuh. Di halaman rumah yang rata-rata sudah tak ada tanah sisa itu, hanya punya satu tanaman, yaitu pohon buah delima. Saya pun heran.

Ternyata, para tetangga adik saya itu mempercayai jika pohon delima adalah pohon keberuntungan. Makanya mereka semua pada punya, bukan menanam karena ingin memetik buahnya yang udah merah ranum itu.

Dalam konsep Feng Shui yang mereka jadikan panduan dalam membangun hunian, mereka mempercayai bahwa pohon delima sangat memberi aura positif. Diharapkan bisa membawa nilai keharmonisan serta keakraban suami istri dan keluarga.

Delima ini bukan hanya sebagai buah rujak tujuh bulanan dalam tradisi Jawa, tapi di negara Turki buah delima dipercaya sebagai makanan pembawa keberuntungan. Warna merah melambangkan hati manusia, simbol kehidupan dan kesuburan. Bijinya melambangkan kemakmuran. Manfatnya dalam pengobatan melambangkan kesehatan.

Jenis Buah Delima

Dengan begitu banyaknya informasi yang saya serap tentang buah delima, yang sudah membuat penasaran tahunan ini, niat saya memiliki sebatang pohon delima pun saya wujudkan. Saya pesan ke penjual tanaman yang biasa keliling. Saya ingin melihat proses delima dari berbunga sampai menjadi buah yang merah. Dan dengan penuh harap agar nanti buahnya banyak, saya menanamnya di pot.

Beberapa waktu lalu, salah satu tetangga yang rumahnya tak ditempati, mengantarkan buah ke rumah. Katanya itu buah dipetik di halaman rumahnya, dan menurutnya itu buah delima.

Saya pun kaget, memang mirip buah delima, tapi kok warnanya hijau kusam begitu, *seperti di foto atas*, bukan delima merah merona yang bikin menggoda itu? Apa masih muda, tapi kok udah merekah? Setelah saya cicipi, rasanya sama dengan delima merah.

Saya pun kembali penasaran, langsung nanya mbah google. Alamaakk,,,, ternyata buah delima ada tiga jenis, putih *seperti yang diberikan tetangga*, merah *seperti gambaran menahun delima dalam kepala saya* dan juga ada delima ungu.

Amboi, yang saya tanam di pot itu jenis delima yang mana? Saya tanya penjualnya, dia taunya pokoknya itu pohon delima. Hadeh, saya kembali penasaran, kali ini dengan pohon delima yang sudah bardiri melambai di halaman rumah yang seuprit itu, apakah dia akan menghasilkan buah-buah delima merah seperti yang saya inginkan?

Emak siih, asal pesan doang. Yaa gitu, dapatnya juga asal pohon delima aja. Ahh, sudahlah, yang penting pohon delima 😛 .

Iklan