[Catatan Belajar di Majelis Ilmu] : Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat Dengan Menuntut Ilmu


Judul tulisan yang ada dalam kurung itu kesannya gimana ya, “Catatan belajar di Majelis Ilmu“, berat. Hmm, sebenarnya ini memang hanya sebuah catatan bagi emak-emak yang mulai ikut ngumpul-ngumpul di kelompok ibu-ibu muda yang menyatakan tujuan mereka berkumpul itu untuk belajar, dan pertemuan itu mereka sebut sebagai majelis ilmu.

Emak-emak yang ingatannya udah ga seperti masa jaya dulu, udah mulai cepat lupa, perlu mencatatkannya diblog ini, biar saat browsing dimanapun bisa dibuka dan dibaca lagi.

Majelis Ilmu Meraih Kebahagiaan Dunia Akhirat

Nah, kalo yang “meraih kebahagiaan dunia akhirat dengan menuntut ilmu“, itu merupakan tema yang disampaikan oleh seorang uztadzah muda “Bu Siti Khatidjah”. Beliau ini tetap dengan semangat mendatangi ibu-ibu yang mau belajar, untuk membagi ilmunya, padahal kondisinya dalam keadaan hamil 7 bulan dan juga punya seorang balita yang belum genap satu tahun. Salut, si balita juga anteng saat umminya sedang bersi’ar.

Disitu saya sebagai emak-emak yang udah ga termasuk muda lagi, tapi sangat malas untuk rajin mendatangi majelis ilmu secara langsung, sangat tertohok. Dulu, malasnya dengan berbagai alasan, anak masih kecil, masih ribet dengan urusan di rumah, ga enak anaknya mengganggu kenyaman yang lainnya. Setelah umur bertambah, alasannya beda lagi, ingatan untuk mengingat udah agak berkurang, mata udah agak berair kalo melihat tulisan kecil-kecil.

Kemudian melakukan pembenaran sendiri untuk semua alasan tersebut, menuntut ilmu itu banyak caranya, bisa dengan mendengarkan siaran di TV, bisa mendengarkan radio, bisa dengan membaca buku. Kalo ngumpul-ngumpul, kadang lidah kurang bisa dikontrol, suka keseleo nyahutin omongan ibu-ibu lain yang sedang bergosip. Akhirnya semuanya jalan ditempat.

Keutamaan Menuntut Ilmu

Setelah dijelaskan oleh ‘guru’ diatas, baru ingat lagi bahwa keutamaan menuntut ilmu datang ke majelis ilmu itu adalah:

  • Menurut Rasullullah, mereka yang sedang duduk dalam mejelis ilmu sama dengan duduk ditaman-taman surga.
  • Bersilaturrahmi dengan pembelajar yang lainnya.
  • Bertatap langsung dengan guru, sehingga akhlak baik dari si guru bisa ditiru atau menginspirasi.

Belum lagi saat dijelaskan bahwa ada 3 kesibukan yang sangat dicintai oleh Allah SWT:

  • Sibuknya seorang suami yang sedang mencari nafkah halal
  • Kesibukan seseorang dalam menuntut ilmu
  • Sibuknya seseorang yang sedang mengurus keluarga

Kenapa kesibukan seseorang menuntut ilmu termasuk dalam hal yang dicintai Allah?

Tentu saja ilmu yang dipelajari itu adalah ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum Allah (seperti: halal, haram, wajib, sunnah, mubah, dan lainnya) dan juga ilmu yang berkah (ilmu yang membawa kebaikan).

Tujuan Menuntut Ilmu (belajar)

Sehingga, tujuan dari seseorang yang menuntut ilmu (belajar) itu tercapai, yaitu jadi tau mana benar dan salah.

Dalam Al-Quran ada sekitar 800 ayat yang menjelaskan tentang seruan pada manusia agar menuntut ilmu. Salah satunya QS:58, Al-Mujaadilah (11):

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Beridirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hadis Rasullullah juga menyebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah satu dari tiga amalan manusia yang tak pernah putus. Walau si yang empunya ilmu sudah berkalang tanah.

Selain itu, menuntut ilmu juga dicintai oleh makhluk ciptaan Allah lainnya yaitu Malaikat Rahmat dan hewan-hewan dilaut. Itulah sebabnya surat pertama turun adalah surat Al-Alaq 1-5: Iqra’,,, Bacalah.

Dengan berilmu, manusia tentunya juga bisa membaca alam, sehingga keseimbangan hidup di bumi akan terjaga. Manusia tidak akan semena-mena pada makhluk lainnya.

Seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya juga harus tau ilmunya, dia harus bisa menjadi seorang dokter bagi anaknya, menjadi psikolog bagi sang anak, menjadi tempat bertanya pertama bagi anak-anaknya.

Seorang ibu harus punya ilmu tentang tahapan pendidikan islam anak pada usia dini dan akil baliq. Jika anaknya masih usia dini, dia bisa mengajarkan ilmu aqidah pada anaknya lewat nyanyian, kegiatan menyenangkan lainnya. Pada usia 7 tahun, dia sudah memperkenalkan ilmu ibadah, hukum-hukum islam lainnya. Sudah tau diberi batasan antara anak perempuan dan anak laki. Saat usia 9 tahun, jika anak belum melaksanakan ibadah, walau sudah diingatkan, si anak boleh dipukul tapi dengan syarat tidak boleh kelihatan ketiak si ibu (alias pukul sayang ye).

Dengan menuntut ilmu, diharapkan bisa mengantarkan menjadi manusia yang lebih baik. Baik secara pribadi maupun keluarga dan lingkungan pergaulannya. Sehingga kebahagiaan dunia, maupun akhirat insyaAllah akan tergapai. Aamiin.

Demikianlah catatan saat menghadiri majelis ilmu pada tanggal 31 Maret 2016 *ketahuan, menuliskan kembali aja juga malas ini emak 😥 *. Semoga bisa bermanfaat juga bagi sahabat yang sempat membacanya. Sekali lagi bukan untuk menggurui, atau syok agamais, hanya mencatatkan siapa tau juga ada yang tergugah 🙂 .

Iklan