Selamat Datang Wizy -Kucing Anakan Persia Medium, ‘Liar’ & Kumal


Selamat datang di rumah kami, Wizy. Itulah ucapan pertama Junior ketika pulang sekolah, sekitar sepuluh hari yang lalu saat melihat seekor kucing anakan Persia medium kumal, ada di rumah.

Saat itu, kucing yang aslinya berbulu putih, tapi terlihat kumal, sangat kelaparan dan stress saat diantarkan ke rumah *serasa jadi rumah penampungan hewan 😛 *. Benar-benar ga terurus.

Selamat Datang  Wizy

Entah perlu waktu berapa lama membuat Wizy benar-benar bersih dan jadi kucing rumahan yang manis

Ketika disodorkan nasi campur ikan *saya udah ga punya stok makanan kucing lagi, semenjak Bronzy dikembalikan*. Si kucing langsung melahapnya, bahkan sampai keselek saking buru-burunya menelan. Ia juga ketakutan saat mendengar suara kencang dan berisik.

Awalnya saya ga berminat untuk merawat ini kucing, karena masih trauma dengan sikap Bronzy yang jadi liar saat ada kucing kecil betina belang tiga lain yang datang ke rumah, dan mendapat perhatian dari seisi rumah.

Catatan putusnya hubungan saya dengan seekor kucing ada di tulisan ini: Rasa cemburu kucing juga menimbulkan luka. #Emak-emak lagi sensitif.

Kalau boleh memilih, saya lebih memilih memberi makannya aja saat dia bertandang, kemudian pergi. Apalagi setelah melihat gelagat si kucing yang menuju tempat sampah dan bermain disitu, dia sangat menikmatinya. Sepertinya, sudah jadi kebiasaannya, padahal baru saja diberi makan. Kucing peranakan persia medium ini sudah jadi kucing liar. Makanya, saya belum mengijinkannya masuk rumah.

Begitu Junior pulang sekolah dan mengucapkan kalimat diatas. Saya perlu membuat perjanjian dengannya. Dia memberi nama si kucing “Wizy”. Si junior langsung memohon, mengucapkan janji, akan merawat si kucing dengan baik. Tidak akan seperti sebelum-sebelumnya, malah emak bapaknya yang merawat si kucing.

Emak memberi kesempatan pada Junior dan juga si kucing kumal, “Ok. Mungkin aja ini kucing, jawaban dari do’a kamu malam sebelumnya, yang sangat berharap bisa memiliki kucing lagi. Tapi Mama ga mau membelikannya. Janji akan merawatnya ya”. Junior mengangguk cepat.

Emak pun membawa si kucing kumal ke pet shop, untuk dimandiin dan vaksin. Awalnya, si kucing sempat ditolak dimandiin dengan alasan kucingnya masih stress, nanti malah ga mau makan. Alasan sebenarnya, petugasnya enggan memandikan si kucing, saking kumalnya.

Dengan setengah memaksa dan mengatakan saya akan bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan si kucing, akhirnya dimandiin juga. Si kucing kulitnya kena jamur, hampir semuanya #hadeh. Kasian. Ternyata usianya baru empat bulan. Usia yang sedang lucu-lucu dan lagi manja-manjanya, seharusnya. Tapi malah mainannya tempat sampah dan tak terurus 😥 .

Setelah Wizy bersih, dia pun diijinkan masuk ke dalam rumah. Seminggu berikutnya harus dimandiin lagi.

Malam pertama Wizy di rumah, berjalan dengan baik. Saat kita tidur, dia dimasukkan kandang bekas Bronzy dulu. Hari pertama berjalan dengan baik, setelah perutnya kenyang, ia kebanyakan tidur.

Hari kedua, Wizy sudah sangat lincah, mulai menjelajahi rumah. Tapi, ada yang aneh, saat dia lapar, dia masih belum kembali ke tempat makan dan minumnya di taroh. Ia malah mencium-cium lantai, dan nyampe lagi ke tempat sampah. Duh! Untuk kencing dan pup, kalo melihat gelagat aneh, saya naroh dia ke pasirnya.

Hari ketiga, Wizy semakin kelihatan bersemangat dan mulai terlihat seperti kucing sehat. Tapi, kebiasaan lamanya, yang mendapatkan makan dari tempat sampah, belum juga hilang. Emak mulai agak putus asa, dan mau melepaskan si kucing. Mungkin naluri kucingnya bukan lagi kucing rumahan. Junior kembali memohon.

Hari ke empat, si Wizy yang bermain, bukan hanya belum bisa menemukan tempat makan dan minumnya, tapi karena saya juga ga bisa merhatiin dia terus dan Junior asyik main game, si Wizy kencing dan pup sembarangan. Emak membersihkan semuanya sambil ngomal-ngomel.

Junior melancarkan jurus memelas, “bersihin kotoran si Wizy, Mama aja yaa. Nanti mainnya lebih ku awasi lagi deh. Please,,,”, dengan wajah memohon.

Emak jadi ga tega. Ya sudah, kalo lagi ga ada yang nemenin, biar ga jadi kucing liar dan kumal lagi, Wizy dikandangkan.

Selamat bergabung di rumah kami, semoga bisa jadi kucing sehat dan pinter ya. Emak ga perlu ngomel dan Junior ga usah ngogombal janji akan merawat.

*** Ini hanya catatan emak dan anaknya yang sedang berusaha akur lagi dengan kucing peliharaan 🙂

Iklan