Melihat Pancaran Kebahagiaan, Indahnya Bisa Berbagi


Melihat pancaran kebahagiaan, indahnya bisa berbagi, anugerah ini bisa saya amati beberapa waktu lalu. Saat itu saya sedang terkantuk-kantuk diatas angkot yang membawa saya ke tempat seorang sahabat yang sudah lumayan lama tidak saling berkunjung. Karena berbagai alasan, salah duanya kesehatan saya yang sedang kurang baik beberapa waktu terakhir *mulai merasakan efek usia yang sebenarnya, ga bisa pura-pura muda lagi :mrgreen: *

Padahal beberapa bulan lalu, sahabat saya itu baru saja ketambahan seorang anggota baru, dan beberapa waktu lalu, dia kehilangan seorang kakak yang ‘pulang ke rumah keabadian’ dengan begitu tiba-tiba.

Setelah saling bertukar kabar dengan beberapa teman saat mendengar informasi gempa yang mengguncang Mentawai terakhir, saya dan seorang sahabat, sepakat bahwa esoknya, apapun yang terjadi, hujan dan walau harus ngeteng, kami janji ketemuan di depan komplek perumahan sahabat yang akan dikunjungi tersebut.

Pancaran Kebahagiaan di Indahnya Berbagi

Salah satu gerbang perumahan yang dilewati, anak SD pun berbagi boncengan motor 😉

Pada hari H, awalnya saya memutuskan akan berpenampilan dengan ‘pakain kebesaran’, celana jins. Tapi, setelah membuka almari pakaian, saya berubah pikiran, “masa iya, setelah satu tahunan ga ketemu, saya ga ada perubahan ke arah yang lebih baik juga. Berpenampilan agak kalem dikit gitu, biar ga dikira seperti perempuan, padahal memang perempuan beneran 😛 “. Saya pun memilih gamis yang biasa dipakai buat pengajian bulanan, simple dan ga ribet juga. Teman-teman yang udah mengenal saya tahunan, tetap tau kalau itu tetap sosok ysalma, manis tanpa printilan aneh2 *teman2 saya yang baca ini langsung nyiramin air, biar saya sadar 😆 *.

Kembali ke cerita saya sudah terkantuk-kantuk diatas angkot dalam perjalanan menuju rumah salah satu sahabat, tiba-tiba telinga saya di sentakkan oleh suara motor yang seperti ‘jeritan’. Kepala saya pun menoleh ke arah suara motor itu.

Sebuah motor tua, yang lampu belakangnya udah copot, di naiki oleh suami istri yang baru pulang dari pasar, terlihat dari keranjang penuh belanjaan yang terdapat dibagian depan. Kedua suami istri itu berbincang-bincang. Saya terus memperhatikan wajah suami istri tersebut. Wajah mereka bahagia, bertolak belakang dengan penampilan pakaian dan motor yang mereka naiki.

Saat melewati ‘peminta’ sumbangan di tengah jalan, yang entah untuk keperluan apa. Si suami yang membawa motor, memelankan laju motor tuanya, si istri mengulurkan tangan ke keranjang sumbangan, memasukkan sedekah mereka hari itu. Saat bersamaan, angkot yang saya tumpangi menyalip motor pasutri tersebut.

Deg! hati saya tiba-tiba berdesir, wajah kedua pasangan yang naik motor tua itu terlihat semakin begitu damai, kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka setelah berhasil memberikan sumbangan yang nominalnya tidak lebih besar dari ongkos angkot yang saya naiki, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya spontan mengucapkan Alhamdulillah, karena mata saya dituntun untuk terus memperhatikan suami istri itu sebelumnya.

Sepanjang sisa perjalanan, saya merenung, betapa keikhlasan berbagi yang tulus, tidak harus menunggu ‘cukup punya uang lebih’, akan memberikan rasa damai pada pelakunya. Saat merasa rezeki hari ini lebih dari cukup, langsung tergerak untuk berbagi, sepertinya ada rasa bebas yang mengaliri aliran darah.

Dan saya percaya, ekspresi pasutri di motor tua yang saya lihat itu, pasti terbiasa dengan kebiasaan berbagi tersebut. Bahkan sepertinya mereka justru akan terlihat dengan ekspresi susah jika tidak bisa melakukan hal itu. Mereka sedang tidak pura-pura atau bangga dengan tangan mereka yang diatas. Tidak, ekspresi itu begitu damai dan tulus. Padahal, tampilan fisik keduanya, malah layak mendapat santunan juga.

Duh, saya mendapat ‘tamparan’ dalam perjalanan hari itu. Saya, masih saja sibuk memperhatikan penampilan fisik, pakain yang akan dipakai, agar terlihat santun di mata sahabat. Saya justru tidak memikirkan penampilan saya di mata pemberi titipan rezeki tersebut. Saya malu, merasa masih saja kekurangan ditengah begitu banyak nikmat yang sudah saya terima. Padahal, saya sudah membulatkan tekad di Desember, Bulan terakhir di penghujung tahun, saatnya evaluasi diri. Hanya sebatas wacana.

Berbagi masih belum menjadi sebuah rutinitas. Saya merasa belum bisa berbuat banyak. Padahal, kalau tidak mulai dari hal-hal kecil, kapan kita akan dititipkan sesuatu yang besar? Benar adanya, indahnya berbagi.

Iklan