Catatan Kegiatan Ketika Teman-Teman Lain Mengejar Gerhana Matahari Total


Ini adalah postingan tertunda, tapi, anggap aja ini catatan kegiatan emak pada hari ‘bersejarah’ tersebut. 9 Maret 2016 merupakan pagi yang ditunggu-tunggu oleh teman-teman yang ‘mengejar’ gerhana matahari total, dengan terbang ke wilayah yang dilewati gerhana. Berhubung emak satu ini hanya di rumah, tempat tinggalnya tidak dilewati gerhana, jika di hari H tidak ada halangan, sudah pasang niat mau ikut shalat gerhana di masjid komplek perumahan.

Informasi tentang waktu pelaksanaan shalat gerhana sempat berubah-rubah. Tanggal 7 Maret, pengumuman shalat gerhana matahari, jama’ah yang mau ikutan, diminta berkumpul pukul 6.30 WIB. Dalam pikiran emak-emak ini, “wah pagi, pekerjaan rumah pagi dihari itu harus dimajuin nih”.

Tanggal 8 Maret, setelah Magrib, pengumuman berubah, jamaah diminta berkumpul pukul 7.30 WIB. Emak senang, pagi sebelum shalat masih bisa beberes, santai dulu aaahh.

Tanggal 9 Maret, setelah Subuh, terdengar lagi pengumuman, yang mau ikutan shalat gerhana matahari diminta berkumpul di masjid pada pukul 6.30 WIB.

Waduh, emak kelimpungan, mulailah gaduh meminta anaknya yang masih malas-malasan agar bersiap. Emak sendiri gerubukan nyari buku, ingin memastikan tata cara pelaksaan shalat gerhana.

Catatan Kegiatan Emak Saat Gerhana Matahari Total 2016

Cahaya matahari pagi ditanggal 9 Maret 2016, pukul 06.16 WIB

Ternyata, sebelum shalat, imam menjelaskan juga tata cara pelaksanaan shalat sunat gerhana matahari yang akan dilaksanakan. Dianjurkan berjam’ah. Terdiri dari dua raka’at. Setiap rakaat terdiri dari 2 rukuk, 2 bacaan Al Fatihah dan 2 surat. Sebenarnya bacaannya tidak dinyaringkan, berhubung surat yang akan dibaca imam panjang-panjang, makmum daripada shalat sambil ngelamun, lebih baik bacaan dinyaringkan. Makmum bisa menyimak bacaan surat tersebut. Shalat sunat gerhana matahari berjalan lancar, walau diselingi suara bayi menangis.

Berhubung pada hari itu mau ada pertemuan ibu-ibu dalam satu RT, usai sholat gerhana di masjid, emak pun mulai merapikan rumah. Biar tamu yang datang merasa dihormati *baca: biar ga ketahuan kalo rumahnya biasa berantakan 😛 *.

Belum selesai beberes, satu teman sekolah junior datang berkunjung. Ga berapa lama, datang satu orang lagi, diantar orangtuanya yang ingin tau anaknya main di rumah teman yang mana. Soalnya si anak ngambek, mau berangkat naik sepeda aja. Hari sebelumnya, kedua anak itu juga udah main ke rumah. Selidik punya selidik, ternyata, bocah-bocah itu ada tugas sekolah, mencari artikel tentang gerhana matahari. Tapi, bermain game yang mereka lakukan pertama. Mereka baru gradak gruduk ngeprint tugas sekitar pukul 14.00, setelah emak mengingatkan berkali-kali. *Emak tentu tak lupa ‘melayani’ para tamu cilik ini.

Saat beberes rumah itu, emak juga baru tau, kalo pagi itu, juga akan diadakan fogging. “Ahh, paling sebelum Dzhuhur udah selesai foggingnya”. Ternyata, mesin foggingnya macet. Menjelang Ashar, baru terdengar lagi kalo fogging masih berlanjut. Mana cuaca udah mulai mendung. Emak udah pasrah aja kalo acara ketempatan pertemuan ibu-ibu bakal kurang nyaman 😥 .

Pukul 16.00 WIB, ibu-ibu mulai berdatangan. Tetangga sebelah rumah juga sedang membenahi keramik carport, sore itu suara mesin potong keramik masih lumayan berisik. Dengan memasang senyum ramah, emak pun melongokkan wajahnya ke sebelah, bertanya, apa tukang masih akan memotong keramik lagi. Si tukang pun dengan tak kalah ramahnya memberitau kalo suara berisik barusan, adalah potongan keramik terakhirnya hari itu. Emak menarik nafas lega.

Ketika ibu-ibu sibuk membahas kepengurusan majlis taqlim RT yang akan dibentuk, terdengar suara mesin fogging sudah mendekat. Emak sebagai tuan rumah, buru-buru menghampiri petugas fogging, memberitaukan kalo kediamannya lagi ada para ibu-ibu manis, baik hati dan pengertian, sedang mengadakan pertemuan sambil ngemil cantik. Petugas fogging pun lewat, pindah ke tempat lain dulu.

Belum selesai pertemuan ibu-ibu, hujan turun dengan derasnya. Acara yang awalnya di teras, akhirnya dipindah ke dalam. Emak dibantu ibu-ibu lain, akhirnya angkat-angkat karpet dan teman-temannya lagi 😛 .

Alhamdulillah, sampai acara pertemuan usai, hujan masih setia menyirami bumi. Semoga pertemuan ibu-ibu, semua kegiatan pada hari gerhana matahari total 2016 membawa kebaikan. Seperti hujan yang membawa berkah bagi bumi.

Kadang, disetiap pertemuan ibu-ibu, mulut jadi lebih aktif bicara dari sebelumnya, mata seakan lebih awas, lebih mudah menilai orang lain. Semoga emak dan ibu-ibu lain selalu ingat:

bahwa saat kau mulai membicarakan aib/ kejelekan/ kekurangan orang lain, sejatinya kau sudah mulai membuka kran waktu untuk terbukanya aibmu sendiri. Berhati-hatilah dengan mulut dan rasa ingin tahumu terhadap urusan orang lain.

***Yang sempat membaca tulisan ini, dalam hati akan berkomentar, “mak, catatan kegiatanmu pada hari gerhana matahari total 2016, benar-benar aneh, ga ada pesona keindahan penampakan mataharinya. Anggap aja ini adalah cerita ‘matahari kehidupan’ *halah*.

Iklan