Mengejar Rezeki


Selama ini rezeki itu selalu identik dengan harta benda yang sudah kita miliki. Kemudian kita membanding-bandingkannya dengan rezeki yang di punyai orang lain. Akhirny kita bukan mensyukuri apa yang sudah dipunya, tetapi sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.

RezekiDemi memenuhi semua keinginan menjadi yang ter,,, dalam mengumpulkan materi, mati-matianlah bekerja. Semua kesempatan yang datang di embat. Semua bisnis yang sepertinya menjanjikan keuntungan yang memuaskan, dilakoni.

Karena niatnya hanya untuk mengumpulkan yang bernama rezeki itu, bukan menjemput rezeki dalam rangka memenuhi kebutuhan dari rezeki halal yang di sediakan Allah, makanya si rezeki justru semakin berjalan menjauh. Modal ludes, tenaga terkuras. Keimanan semakin terkikis menuju titik nadir, karena mulai mempertanyakan keadilan Tuhan itu ada dimana. Kurangnya apalagi? Kejar setoran dari pagi buta sampai matahari kembali keperaduannya, tapi yang di dapat tak sesuai yang diinginkan.

Pernah juga mendengar kata-kata mereka yang sudah ‘sukses’ menurut kaca mata manusia,”anda masih kerja keras, belum kerja pintar”. Kurang pinter apa lagi? Sebagian uang di sudah investasikan, di kelola oleh mereka yang profesional dibidangnya, tetap aja keuntungan itu masih menjauh, malah buntung yang semakin mendekat. Apa yang kurang dan salah?

Mari merenung dan belajar lagi yang mudah-mudahan belum telat, demi sebuah kesadaran. Betapa banyak rezeki dari NYA yang sudah diterima. Mulai dari anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, keluarga yang saling peduli dan tentunya rezeki sehat. Terakhir rezeki kesadaran, bahwasanya semua hanya titipan.

Sesungguhnya rezeki mu yang sebenarnya adalah rezeki yang habis untuk kebutuhan mu, sandang, pangan dan papan, juga rezeki yang dihabiskan di jalan kebaikan.

Syukur adalah kunci kecukupan.

Walaupun ini itu banyak dan lengkap, tapi tidak bisa dinimati karena terkukung waktu kerja yang ketat atau selalu dihantui ketakutan akan kehilangan. Rezeki yang sudah terkumpul banyak itu menjadi rezeki orang-orang disekitarmu yang bisa menikmatinya, termasuk supir pribadi dan pembantumu, sementara kau mendapat capeknya kerja aja.

Sebuah catatan saat menguping khotbah Jum’at di satu hari.

Iklan