Orangtua Tempat Bercerita & Mengadu Seorang Anak


Kemaren saat jalan sore, saya lihat beberapa ibu sedang berkumpul, sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius, ada seorang bapak juga disitu. Kebetulan seorang anak yang ada disitu saya kenali (sebut aja bernama Oki, bukan nama sebenarnya), secara ia sering main ke rumah bersama junior. Kalau sama ibunya belum saling kenal. Si Oki menunjuk-nunjuk ke arah saya, maka saya menghampiri ibu-ibu tersebut.

Rupanya para ibu sedang membicarakan anaknya yang kelas 1 SD (bernama Iwan, bukan nama sebenarnya juga) mendadak ga mau ke masjid. Setiap disuruh ibunya ke masjid si Iwan malah menangis, si ibu kebingungan dan curhatlah sama Bundanya Si Oki. Ternyata bundanya Oki sebelumnya di kasih tau sama Oki jika si Iwan ketangkep basah di masjid sedang mengambil pentil sepeda motor seorang bapak. Ternyata Iwan dan temannya juga pernah mengambil pentil sepedanya junior.

Ibu dan AnakSi bapak yang mengenali orangtua si anak (Bapaknya Iwan kebetulan juga sering ke masjid) dan melihat Iwan juga banyak memegang pentil ditangannya, si Bapak berpikir,’Ini anak sering ngambilin pentil sepeda motor dan sepeda orang, dan sepertinya orangtuanya tidak tau ulah si anak’.

Si Bapak kemudian menasehati si anak, supaya jangan mengulangi lagi perbuatan seperti itu, kalau ga, si Bapak akan kasih tau tingkah si anak ke orangtuanya. Si anak langsung kabur. Dia takut kalau si bapak benar-benar lapor ke Ayahnya! Makanya si Iwan selalu menolak setiap disuruh atau diajak ke masjid.

Begitu mendapat informasi tersebut, Ibu Iwan yang juga kenal sama si bapak yang pentil sepeda motornya diambil, berinisiatif menemui si bapak, untuk menyuruh anaknya meminta ma’af kepada si bapak.

Sebelumnya Ibu Iwan dan Bundanya Oki menanyai Iwan, kenapa suka mengambil pentil sepeda orang, ternyata si Iwan disuruh oleh seorang anak yang sudah duduk di kelas 6 SD. Nanti pentil-pentil yang dia ambilin itu akan disetorkan ke yang menyuruh. Jika dia tidak mau, maka dia diancam, tidak akan ditemani.

Si anak kelas 6 SD ini ternyata menjual pentil-pentil tersebut, duh! *kecil-kecil udah suka mengintimidasi dan mengambil yang bukan haknya*.

Seorang ibu sempat nyelutuk,”Wan, Wan,, kok yang diambil pentil sepeda motor yang ga ada nilainya, yang ada orang ngambil motor”.

Mendengar itu saya spontan bereaksi, secara lingkungan ini adalah lingkungan junior bermain juga, berbahaya sekali respon celutukan iseng yang diberikan si ibu, “Lho Bu, bukan berapa nilai rupiah dari barang yang diambil. Tapi anak mengambil yang bukan miliknya, sama aja namanya mencuri. Jika tindakan kecil seperti ini dianggap tidak salah, tidak menutup kemungkinan jika si anak besar nanti memang motor orang yang bakal dia curi. Belum lagi dia mendapat intimidasi dari teman yang lebih besar. Bukan di hukum yang gimana sih, tapi diingatkan dan dikasih tau”.

Ibu si Iwan juga cerita jika anaknya selama libur sekolah kemaren sering main diluar, pulang-pulang dengan muka cemang cemong oleh kotoran hitam kayak oli. Jika ditanya dari mana, si anak hanya menjawab kalau dia habis latihan. Mainnya waktu itu ya sama anak kelas 6 SD yang menyuruhnya mengambil pentil itu. Sore kemaren itu ibu Iwan baru ngeh, kalau anaknya selama liburan waktu itu, dilatih ‘mencuri, mengambil pentil sepeda motor orang’ 😥 .

Menyedihkannya lagi, ibu Iwan takut mau ngasih tau suaminya tingkah si anak akhir-akhir ini. Dia takut Ayahnya Iwan akan marah besar ke anaknya.

Saya dan beberapa ibu lain mengingatkan, “Iwan itu anak dari kedua orangtuanya, si Ayah juga berhak tau perkembangan sikap Iwan. Caranya ibu menyampaikan informasi ke si Ayah dengan baik. Bahwa ibu sudah cukup ‘memarahi Iwan’, tugas Ayah mengingatkan dengan cara seorang Ayah, tapi bukan dengan pukulan yang membuat anak malah bilang Ayahnya jahat”.

Si Ibu mengangguk-angguk saat diingatkan juga jika salah satu cara melindungi anak sekaligus menghilangkan rasa takut terhadap intimidasi anak yang lebih besar itu, bisa dengan ‘sosok’ Ayah yang selalu ada bagi si anak.

Orangtua jaman sekarang bukan untuk ditakuti seorang anak karena sikap otoriternya, tetapi orangtua adalah tempat anaknya bercerita, mengadu dan bertanya semua hal dengan perasaan nyaman.

Setiap anak akan memilih salah satu dari sosok orangtuanya untuk tempat curhat. Jika anak saya, untuk hal-hal yang bersifat mimpi, imajinasi, keinginan, kesehariannya, curhatnya ke saya. Tapi untuk urusan ‘permainan game’ dkknya, lebih memilih bapaknya.

Hmmm, tugas sebagai orangtua itu ternyata tidak mudah dan tidak ada pula sekolahnya.

Iklan