Nasib Tanaman Sikas


Nasib Tanaman Sikas yang sudah di pelihara lebih dari 8 tahun sangat terlihat mengenaskan, merana. Sepertinya itu semua akibat salah urus!

Saya menanamnya di pot, potnya di taroh di teras yang agak teduh,  daunnya hijau dan panjang-panjang tipis, tetapi bonggol batangnya yang kecoklatan itu tetap aja kecil, walau usianya sudah lumayan.

Sikas

Saat tukang tanaman keliling *langganan beli kompos* melihat tanaman sikas itu, dia memberi tau kalau tanaman sikas perlu perawatan. Saya setuju.

Perawatan yang diberikan : Sikas harus di keluarkan dari pot, daun dan akar-akarnya di potong semua. Kemudian baru tanam kembali dengan media tanam baru. Tempatkan di tempat yang kena cahaya, dia menunjuk lokasinya *saya ingatnya, kata ‘di tempatkan yang kena cahaya matahari’*. Padahal lokasi yang dipilih oleh tukang tanaman cuma kena cahaya matahari pagi aja 😛 . Harus di siram 2X sehari, pagi dan sore. Hasilnya tanaman sikas tumbuh dengan daun yang lebih hijau, tebal dan bonggol batang baru tumbuh dengan sangat baik ❤ .

Kuncup muda tanaman sikas yang mirip kuncup pakis.
Kuncup muda tanaman sikas dianatara rumput, mirip kuncup pakis.

Foto kuncup muda daun sikas yang berbulu dan mirip gelungan daun pakis muda pada umumnya. Makanya tanaman sikas ini juga mempunyai nama Pakis Haji (Pakis Aji) tapi bukan anggota tumbuhan berspora tersebut.

Kuncup muda daun sikas
Kuncup muda daun sikas

Saya memilih menanam tanaman sikas ini karena bentuknya yang anggun bahkan kadang berkesan angkuh *tanaman aja punya kesan ya 😛 *. Apalagi kalau rajin melap daunnya, berkesan daun hijau buatan padahal tanaman asli. Ini menandakan kalau sebenarnya tanaman sikas bisa juga dijadikan tanaman indoor. Perawatannya tak terlalu ribet, dan yang paling penting, termasuk tanaman bandel.

Saking yakinnya dengan asumsi kalau tanaman ini bersifat bandel, saya sampai lupa kalau tanaman ini juga sangat rentan dengan hama seperti bintik-bintik putih di daun hijaunya yang cantik itu. Kalau sudah kena hama tersebut, lupa membersihkan dan memotongnya, perlahan tapi pasti, daun sikas akan kuning dan kering.

Saat beberes, saya menempatkan si sikas ini di tempat panas *hampir seharian kena cahaya matahari langsung* Beranggapan kalau tanaman sikas ini termasuk palem yang pada umumnya suka panas. Eh, tanaman sikas bukannya makin segar, tapi semakin ga jelas wujudnya. Saya ga ngeh, “mungkin akarnya sudah penuh di pot”, bongkar, taroh lagi di tempat panas itu. Ga sehat-sehat juga. Akhirnya menyerah dan tanya ke mbah google.

Tanaman sikas termasuk tanaman yang tak tahan panas! Sangat jauh kekerabatannya dengan palem, hanya sebatas kemiripan susunan daun aja. Hadeh, saya salah urus tanaman. Duh, Nasib tanaman sikas jadi merana, hidup segan mati tak mau!

SIkas Merana

Iklan

33 comments

  1. Merawat tanaman memang pe-er ya Mbak, harus cari-cari info yang benar agar tidak salah kaprah. Saya baru tahu kalau akar dan daun dipotong bisa menyegarkan tanaman sikas ini. Bayangannya sih pasti mati..

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Ysalma…

    Apapun tanaman yang kita tanam itu perlukan kepada minat dan kasih sayang ya. Jika tidak pasti semuanya melayu dan sayu. Saya termasuk orang yang ibarat “hangat-hangat tahi ayam” dalam menanam pokok walaupun minat tetapi kesibukan selalu menyita waktu untuk bermanja dengan tanaman sehingga banyak pokok tananam saya hidup segan mati tak mahu. Apa pkok sikas itu perlu diberi baju sekali seminggu ya mbak.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • Waalaikumsalam Bunda Fatimah,
      sepertinya tanaman sikas memang lagi merajuk,
      minta kasih sayang dan kehangatan dari yang menanamnya,
      tak cukup air dan pupuk kandang aja 🙂

  3. Semoga setelah repotting ganti media tanam sikasnya kembali segar ya Uni. Pot sikas kami di halaman diminati penggemar lalu diangkat tanpa izin hehe ya sudah asal dipelihara aja…
    Salam

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.