Rindu Keperkasaan dan Kekuasaan


Keperkasaan dan KekuasaanRindu Keperkasaan dan Kekuasaan menjadi nyanyian ku akhir-akhir ini. Setiap tarikan nafas, do’a pun ku panjatkan agar semua kembali dalam genggaman. Aku melakukan orasi setiap hari, menjanjikan kedamaian kepada siapapun seperti dulu.

Sepi nan menyiksa mulai menggerogoti keseharianku. Begitu cepat semua berubah.

Tahun kemaren saat keperkasaan dan kekuasaan menjadi milikku,Β  dengan akar yang merambat kemana-mana dan menancap kuat ke bumi. Sehingga aku tak mudah digoyahkan oleh angin badai yang menerjang tanpa permisi.Dahan rindangku penuh oleh daun hijau bergelayutan, memberikan keteduhan siapapun yang ingin bernaung.

Burung dengan riang berkicau dan mencericit setiap pagi menyambut munculnya mentari. Mereka membuat sangkar dan membesarkan anak-anaknya di dahanku. Sebuah generasi baru terlahir disini.
Ulatpun tak mau ketinggalan mencicipi segarnya daun mudaku. Setelah kenyang, ulatpun bersemedi dengan tenang, sampai akhirnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cantik. Tanpa sungkan, kupu-kupu ini kembali menghisap madu bungaku, tak bersisa. Buah pun bermunculan di dahanku.

Kumbang dan serangga lain mulai berdatangan mengunjungi buah-buah ranum yang bergelantungan itu. Mereka tak sekedar memakan, tetapi juga membawa biji-biji kehidupanku ke tempat lain.

Aku tak mempermasalahkan. Aku menikmati semua itu. Untuk itulah aku ada. Semua semakin menunjukkan kebesaran akan keperkasaan dan kekuasaan yang kumiliki saat itu.Β  Betapa mereka semua sangat bergantung dengan keberadaanku. Bangga menjadi nafasku.

Aku tersentak kaget, pohon-pohon muda cantik, gagah perkasa mulai bermunculan di sekitarku. Entah darimana datangnya, aku tak menyadari keberadaan mereka sebelumnya.

Perlahan tapi pasti, kekuasaan tunggal yang ku kira abadi mulai menunjukkan adanya persaingan.
Semua yang awalnya bercokol hidup di kerindangan yang kupunya mulai berpindah.

Bahkan yang tak ku mengerti, daun-daun yang awalnya selalu memunculkan kuncup-kuncup mudanya, sepertinya mulai enggan melakukannya. Mereka lebih senang rontok, jatuh dan tertiup angin, berhenti menjadi tumpukan humus di pokok pesaingku. Menyedihkan. Aku ditinggalkan merana sendirian, dengan batang tua dan dahan ringkih.

Rindu keperkasaan dan kekuasaan harus kembali ketanganku. Tua tanpa kekuasaan dalam kesepian ini sungguh menyakitkan. Aku tak mampu mengatasi rasa sepi dan perih ditinggalkan. Apakah tak terlihat lagi hikmah dari keberadaanku selama ini. Aksi apa lagi yang harus kulakukan untuk menjemput semuanya kembali πŸ˜•

Iklan