Perempuan Pulang Pagi Membuat Tetangga Curiga


Perempuan pulang pagi membuat tetangga curiga, khususnya perempuan-perempuan yang suka bergosip. Apalagi diluar rutinitas yang biasa dikerjakan si perempuan yang digosipkan.

TogetherPerempuan yang sikapnya ketika bersosialisasi  suka ‘nge-boss’, memberi kesan dia lebih tau segalanya. Dia merasa lebih profesional dalam berorganisasi, karena dia sudah malang melintang di berbagai kepengurusan. Sehingga tetangga lain harus ikut semua sarannya.

Saat bersosialisasi dengan tetangga sambil mengatur semuanya. Dia juga cerita pekerjaan dan kesuksesannya secara detail. Tetangga yang mendengar hanya manggut-manggut . Dan merasa bersyukur punya seorang tetangga yang sudah punya banyak pengalaman. Diharapkan bisa punya banyak kegiatan yang bermanfaat.

Senin pagi, tetangga dihebohkan oleh suara orang menelpon yang hampir setengah berteriak, marah-marah. Kemudian suara gedor-gedor pagar rumah sambil memohon-mohon untuk dibukakan pintu.

Disaat yang lain masih mengumpulkan nyawa untuk memulai hari dengan semangat. Diluar rumah kok sudah ada ‘kehebohan’. Semua pada melongok keluar rumah. Ternyata si perempuan profesional pulang pagi dan anaknya tidak mau membukakan pintu pagar.

Mulailah perempuan-perempuan lain curiga dan berbisik-bisik. Kok itu perempuan pulang pagi, pekerjaannya kan mengikuti jadwal anak sekolahan. Anaknya kan anak baik yang gak pernah membantah orangtuanya, sopan pada tetangga lain, sayang sama yang kecil, hormat sama yang tua.

Kok anaknya sampai membiarkan ibunya teriak-teriak kesal sampai gedor pagar dan tak mau membukakan pintu. Memberi kesan, biar tetangga pada tau tuh kelakuan ibunya. Apa siperempuan punya pekerjaan sampingan menjadi kupu-kupu malam profesional?.  Kasak kusuk diantara perempuan pun dimulai.

Perempuan professional yang dibilang suka terima tamu laki berganti-ganti ketika sedang sendiri dirumah, apalagi suaminya kerja diluar kota. Sebelumnya mereka hanya memperhatikan kehidupan perempuan itu dan tak diusik.Tetapi karena kejadian Senin pagi, semua jadi pembicaraan.

Saya hanya mendengar dan mengamati kehebohan serta kasak-kusuk yang dibawa perempuan itu. Saya merasa hidup di perantauan, maka saudara terdekat saya adalah tetangga. Saling menghormati perbedaan dan jalan hidup yang dipilih masing-masing. Apalagi tinggal diperumahan yang dindingnya tersambung.

Hikmah dari kejadian itu, orang menilai kita bukan dari seberapa sopan pakaian yang menutup tubuh kita. Bukan dari seberapa besar kesan baik dan kesuksesan yang ingin kita tampilkan. Tetapi sikap dan perbuatan sehari-hari yang sesuai antara omongan dan kenyataan. Jauh lebih dihargai dan memberikan respek. Tak akan dicurigai apakah perempuan pulang pagi atau pulang malam.

Iklan