Dilema Ibu Bekerja dan Solusinya


Dilema ibu bekerja dan solusinya. Wuih saya berlagak seperti seorang pakar aja ya. Jangan salah paham dulu. Ini hanya cerita seorang perempuan yang mendapat ide menulis, secara setiap pagi mendengar tangis anak tetangganya. Sangat memilukan hati ibu-ibu yang mendengarnya πŸ˜₯ .

Ibu dan AnakSaya dulu sempat mengalami dilema ibu bekerja ini (tetapi bukan karena anak, anak saya baik-baik aja). Yang kemudian memilih solusinya dengan mundur dari aktifitas diluar rumah. Tetapi untuk jaman sekarang, itu merupakan sebuah pilihan yang sangat sulit. Karena perempuan sekarang dituntut untuk mandiri juga secara finansial, sungguh sebuah dilema.

Kalau memutuskan berhenti bekerja masalah lain akan muncul. Seorang ibu yang terbiasa dengan aktifitas padat, berangkat pagi pulang malam. Kemudian dihadapkan dengan hanya mengurus rumah tangga, akan stres secara emosional. Efeknya juga tak baik untuk kesehatan keluarganya apalagi keuangan keluarganya ya. Pengalaman pribadi πŸ˜‰ .

Kemudian ibuΒ  memantapkan niat dan diri dengan pilihan dirumah aja mengurus anak dan suami. Ternyata itu hanya dinikmati sampai anak sebelum sekolah. Setelah itu harus mencari kegiatan positif sebagai apresiasi terhadap diri sendiri. Secara anak sudah mulai mempunyai lingkup pergaulannya sendiri.

Nah lo, kalau kita sebelum menjadi seorang istri dan ibu tidak mempunyai hobby yang spesifik. Jumpalitan juga akhirnya untuk menemukan minat yang akan dikembangkan dalam mengisi waktu luang.

Jadi dilema ibu bekerja dan solusinya bagaimana?

  • Luruskan niat bekerja. Bukan untuk diri sendiri aja, tetapi dalam rangka mempersiapkan mimpi generasi berikutnya, yaitu anak-anak.
  • Bekerja dengan cinta, selesaikan semua urusan pekerjaan di kantor.
  • Sebelum berangkat kerja, jangan pernah meninggalkan anak dalam kondisi menangis. Kalau tidak, si ibu bekerjanya gak tenang, anak di rumah bakal rewel seharian, kasihan anak dan yang momongnya juga.
  • Sebelum berangkat kerja, usahakan bermain sama anak terlebih dulu, mungkin jalan fajar pagi sebentar keliling komplek. Pulang kerja kalau anak belum tidur, setelah cuci kaki tangan. Bermain dulu sama mereka sebelum mereka berangkat tidur. Waktu saya masih kerja, kalau cuaca bagus pukul 4 pagi saya sudah menggendong si kecil jalan-jalan sebentar, kemudian baru menyiapkan bekalnya hari itu. Pukul 5.30 WIB udah harus jalan dari rumah. Pulang kerja, walaupun malam, bermain lagi sebentar. Anaknya ditinggal kerja baik-baik aja.
  • Titipkan anak pada pengasuh yang dapat dipercaya. Kalau jaman sekarang sudah menjamur tempat penitipan anak yang profesional. Jadi ibu bekerja tak perlu kuatir lagi deh.
  • Kalau tidak ada telpon rumah, mbok pengasuh dirumah dibekali hape murah yang berisi nomor hape, nomer kantor kita dan suami. Serta kerbat lain, yang bisa dihubunginya.
  • Berbaik-baik dengan tetangga. Minimal waktu libur sekali-sekali ngobrol, sekalian minta tolong liatin anak-anak dirumah, ketika kita sedang kerja. Tetangga adalah saudara terdekat saat ini.

Bagaimana cerita anak tetangga diatas yang setiap pagi nangis kejar melepas orangtuanya berangkat kerja. Sampai tetangga kiri-kanan kaget. Siangnya juga rewel terus. Ibunya pulang kerja, anaknya nangis lagi.

Kata yang momong si anak hanya ingin bermain sama ayah bundanya. Tapi ayah bundanya udah capek pulang kerja, lagian mainnya kan udah sama bibik tadi.

Trus ketika anak bibik yang momong kecelakaan, si bibik tak tahu harus kemana menghubungi majikannya. Gak ditinggalin nomor telpon.

Si bibik minta tolong tetangga lain untuk menghubungi majikannya. Bibiknya yang dititipin dua orang anak cantik-cantik aja gak dikasih nomor telpon. Apalagi kita tetangganya ya πŸ˜• .

Dan yang lebih parahnya lagi, si bibik nanya nama majikannya ke tetangganya juga :mrgreen: πŸ˜† . Tetangga lain yang seumuran mereka sudah sinis aja, mana si ibu kalau papasan dengan tetangga lain, boro-boro senyum. Disenyumin malah ga ada respon πŸ˜† .

Saya yang termasuk generasi tua disana. Hanya geleng-geleng ngelihat sikap ibu-ibu muda di sebuah komplek perumahan.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk membicarakan kekurangan oranglain. Tetapi dilema ibu bekerja dan solusinya bisa diambil. Semoga bermanfaat.

Iklan

23 comments

  1. setelah menatapkan pilihan…. di mana selalu ada konseskuensinya… maka selanjutnya adalah keteguhan untuk menjalankan pilihan tersebut. kalau setengah2… bisa susah sendiri

  2. Ini sebuah kenyataan yang harus dihadapi ibu-ibu yang bekerja, dan sebenarnya ini bukan masalah ibu-ibu saja sih, soalnya anak kan tanggung jawab kedua orangtuanya. Jadi suami juga punya andil.

  3. Anak di design oleh sang pencipta dengan naluri yang tajam untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, yaitu kebutuhan akan kasih sayang, terlebih kasih sayang seorang Ibu yang merupakan Madrasah bagi anaknya (secara default). Maka hal yang sangat normal, jika anak tidak mendapatkan sesuatu yang memang basic needs akan memberontak (dengan menangis ketika melihat ibu nya bekerja, atau bahkan mencari perhatian di tempat lain). Dari pengamatan saya pribadi tentang pola hidup anak selama ini, sedikit mengalami pergeseran (saya membandingkan masa kecil saya dengan kebanyakan anak2 masa kini di daerah urban/perkotaan).
    Dahulu kala ketika sang anak mengalami masalah, entah itu masalah dengan temannya, pelajaran di sekolah atau apapun, mereka akan mengadu, bersimpuh, curhat, menangis dan berkeluh kesah dan mencurahkan masalahnya kepada Ibu atau bapaknya. Sekarang ketika anak mengalami masalah, maka sesuatu yang dicari sebagai pelepasannya segala masalahnya adalah sahabatnya, facebook, suster nya atau mengunci kamar seorang diri. Tak ada lagi kedekatan dengan orang tua. Jangan salahkan sang anak jika kita merasa mereka tidak pernah dekat dengan kita, tapi tanya pada diri kita sendiri, seberapa besar upaya kita untuk dekat kepada anak.

    • semoga saya dan sahabat yang sempat membaca artikel dan komen ini masih menjadi orang terpercaya bagi anak-anak untuk dijadikan tempat bergurau dan berkeluh kesah. Mari menjadi sahabat terbaik anak.

  4. jam 4 pagi si kecil sudah bangun mbak? wuih hebat.. hihi..
    iyaa memang dilema ya… tapi sejauh yang saya tau, justru anak-anak yang ibunya bekerja itu lebih pengertian… jadi mereka baik2 saja dgn si mbak… kalau saya alhamdulillah ada eyangnya… bersyukur bangett…
    mungkin anak tetangga sedang sakit atau apa ya… kasihan juga,,,
    makasih tips nya mbak… top bgt… ^_^

    • iya, dulu sebelum subuh, kalau udara bagus.
      harusnya memang lebih mandiri dan pengertian.
      tapi kalau ‘perhatian’ nya terpenuhi secara kualitas.
      anak tetangganya sehat-sehat aja mbak, kurang perhatian aja akayaknya πŸ˜‰

  5. wahh… barusan komen ngilang kmana yah? hihihi… maafkan kalau komenku jadinya doble nanti yo mbak…

    pokok’e makasih tipsnya… insya Allah pasti bermanfaat yaa… aamiiin… ^_^

Terima Kasih Untuk Jejak Komentarmu, Temans.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.