Dilema Ibu Bekerja dan Solusinya


Dilema ibu bekerja dan solusinya. Wuih kesannya saya berlagak sudah seperti seorang pakar saja. Jangan salah paham dulu. Ini hanya cerita seorang perempuan yang mendapat ide menulis dari apa yang dilihat dan dialami. Sebab, belakangan ini boleh dibilang setiap pagi mendengar tangis anak tetangga saat ibunya berangkat kerja. Jadi teringat waktu dulu jadi wanita pekerja. Kala itu berangkatnya malah sebelum matahari muncul dan nyampe rumah hari sudah gelap. Pada akhir bulan terkadang baru bisa nyampe rumah sangat larut malam.

Ibu dan AnakDulu itu saya sempat mengalami dilema ibu bekerja (tetapi bukan karena anak. Anak saya baik-baik saja), tapi ada kondisi lain yang mengganggu. Saat itu saya memilih solusinya dengan mundur dari aktivitas di luar rumah.

Tetapi untuk jaman sekarang, dilema ibu bekerja itu merupakan sebuah pilihan yang sangat sulit. Karena perempuan sekarang juga dituntut untuk mandiri secara finansial. Sungguh sebuah dilema.

Kalau tergesa-gesa memutuskan berhenti bekerja, atau tidak dipikirkan secara matang, masalah lain akan muncul.

Seorang ibu yang terbiasa dengan aktivitas padat, berangkat pagi pulang malam. Kemudian dihadapkan dengan hanya mengurus rumah tangga, maka akan mudah menjadi stres secara emosional. Efeknya juga tak baik untuk kesehatan keluarga, apalagi jika ditambah lagi dengan perubahan dalam keuangan keluarga *pengalaman pribadi šŸ˜‰ *.

Jika ibu sudah memantapkan niat dan diri dengan pilihan di rumah saja mengurus anak dan suami. Ternyata itu hanya dinikmati sampai anak sebelum usia sekolah. Setelah itu, seorang ibu harus mencari kegiatan positif lain. Ini ditujukan sebagai apresiasi terhadap diri sendiri. Secara anak sudah mulai mempunyai lingkup pergaulan, tidak sepenuhnya tergantung bundanya.

Kalau kita sebelum menjadi seorang istri dan ibu tidak mempunyai hobby yang spesifik. Lumayan jumpalitan juga akhirnya untuk menemukan minat yang akan dikembangkan dalam mengisi waktu luang itu.

Jadi, dilema ibu bekerja dan solusinya bagaimana?

  • Tetap bekerja. Perbaharui dan mantapkan niat. Bekerja bukan untuk diri sendiri aja, tetapi dalam rangka mempersiapkan mimpi generasi berikutnya, yaitu anak-anak.
  • Bekerja dengan cinta, selesaikan semua urusan pekerjaan di kantor sesuai jamnya dan segera kembali ke rumah tanpa membawa lagi pekerjaan tambahan.
  • Sebelum berangkat kerja, jangan pernah meninggalkan anak dalam kondisi menangis. Kalau tidak, si ibu bekerjanya gak tenang, anak di rumah bakal rewel seharian, kasihan anak dan yang momongnya.
  • Sebelum berangkat kerja, usahakan bermain sama anak terlebih dulu, mungkin jalan fajar pagi sebentar keliling komplek. Pulang kerja kalau anak belum tidur, setelah cuci kaki tangan, sempatkan bermain dulu sama mereka sebelum mereka berangkat tidur. Waktu saya masih kerja, kalau cuaca bagus pukul 4 pagi saya sudah menggendong si kecil jalan-jalan sebentar, setelah itu lanjut menyiapkan bekalnya hari itu. Pukul 5.30 WIB sudah harus jalan dari rumah. Pulang kerja, walaupun malam, bermain lagi sebentar. Benar-benar bermain, ga disambi ini itu. Anaknya ditinggal kerja baik-baik saja.
  • Titipkan anak pada pengasuh yang dapat dipercaya. Kalau jaman sekarang sudah menjamur tempat penitipan anak yang profesional. Jadi ibu bekerja tak perlu kuatir lagi.
  • Kalau tidak ada telpon rumah, pengasuh di rumah dibekali hape murah yang berisi nomor hape, nomer kantor kita dan suami. Serta kerbat lain, yang bisa dihubunginya saat keadaan darurat.
  • Berbaik-baik dengan tetangga. Minimal waktu libur sekali-sekali ngobrol, sekalian minta tolong ‘liatin’ anak-anak di rumah, ketika kita sedang kerja. Sebab tetangga adalah saudara terdekat saat ini.

Saya pernah berada di lingkungan yang anaknya setiap pagi nangis kejar melepas orangtuanya berangkat kerja. Tangisan anak benar-benar bikin tetangga kiri-kanan kaget. Siangnya si anak juga rewel terus. Saat ibunya pulang kerja, anaknya nangis kencang lagi.

Yang momong mengklarifikasi ke lingkungan tempat tinggal bahwa si anak hanya ingin bermain sama ayah bundanya. Tapi ayah bundanya sudah capek pulang kerja, ga mau diganggu dengan alasan mainnya kan sudah sama bibik tadi, sekarang waktunya sama-sama istirahat.

Ketika anak si bibik yang momong kecelakaan, dia perlu pulang cepat, si bibik tak tahu harus kemana mengabari majikannya. Gak ditinggalin nomor telpon. Si bibik minta tolong tetangga lain untuk menghubungi majikannya.

Tentu saja tetangga hanya bisa merespon dengan geleng-geleng kepala, si bibik yang dititipin momong anak cantik-cantik gak dikasih nomor telpon. Apalagi tetangga šŸ˜• Dan yang lebih parahnya lagi, si bibik nanya nama majikannya sama tetangganya juga :mrgreen:

Tetangga lain yang seumuran sudah pada sinis aja, mana si ibu kalau papasan dengan tetangga lain, boro-boro senyum. Disenyumin malah ga ada respon.

Saya yang termasuk generasi tua, hanya bisa geleng-geleng ngelihat sikap ibu-ibu muda di sebuah komplek perumahan itu.

Jangan sampai ibu-ibu muda bekerja yang sudah memiliki anak, jangan sampai melakukan hal tersebut. Tetap gapai karir dengan bersemangat dan juga anak-anak di rumah tumbuh dalam pengasuhan yang baik dan aman.

23 comments

  1. setelah menatapkan pilihan…. di mana selalu ada konseskuensinya… maka selanjutnya adalah keteguhan untuk menjalankan pilihan tersebut. kalau setengah2… bisa susah sendiri

    Suka

  2. Ini sebuah kenyataan yang harus dihadapi ibu-ibu yang bekerja, dan sebenarnya ini bukan masalah ibu-ibu saja sih, soalnya anak kan tanggung jawab kedua orangtuanya. Jadi suami juga punya andil.

    Suka

  3. “berbaik-baik dengan tetangga” itu yang sekarang rasanya sudah mulai sulit, dan sudah mulai ditinggalkan karena kesibukannya masing-masing.

    Suka

  4. Anak di design oleh sang pencipta dengan naluri yang tajam untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, yaitu kebutuhan akan kasih sayang, terlebih kasih sayang seorang Ibu yang merupakan Madrasah bagi anaknya (secara default). Maka hal yang sangat normal, jika anak tidak mendapatkan sesuatu yang memang basic needs akan memberontak (dengan menangis ketika melihat ibu nya bekerja, atau bahkan mencari perhatian di tempat lain). Dari pengamatan saya pribadi tentang pola hidup anak selama ini, sedikit mengalami pergeseran (saya membandingkan masa kecil saya dengan kebanyakan anak2 masa kini di daerah urban/perkotaan).
    Dahulu kala ketika sang anak mengalami masalah, entah itu masalah dengan temannya, pelajaran di sekolah atau apapun, mereka akan mengadu, bersimpuh, curhat, menangis dan berkeluh kesah dan mencurahkan masalahnya kepada Ibu atau bapaknya. Sekarang ketika anak mengalami masalah, maka sesuatu yang dicari sebagai pelepasannya segala masalahnya adalah sahabatnya, facebook, suster nya atau mengunci kamar seorang diri. Tak ada lagi kedekatan dengan orang tua. Jangan salahkan sang anak jika kita merasa mereka tidak pernah dekat dengan kita, tapi tanya pada diri kita sendiri, seberapa besar upaya kita untuk dekat kepada anak.

    Suka

    • semoga saya dan sahabat yang sempat membaca artikel dan komen ini masih menjadi orang terpercaya bagi anak-anak untuk dijadikan tempat bergurau dan berkeluh kesah. Mari menjadi sahabat terbaik anak.

      Suka

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.