Bumiku Indonesia


Bumi tempatku berpijak yang bernama Indonesia beberapa waktu terakhir ini perubahan cuacanya sangatlah ekstrim. Saat udara lagi cerah-cerahnya, dengan tiba-tiba bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Seperti kemaren, pukul tiga sore yang seharusnya terang benderang dalam sekejap, suasana berubah seperti menjelang magrib, gelap, dan diujung kaki langit tampak kilatan cahaya yang serasa di depan mata, seperti ingin menghanguskan semua yang menghalanginya dalam penyatuannya dengan bumi, kemudian diikuti oleh suara gelegar halilintar, Subhaanaallaah, apakah gerangan yang terjadi dengan Bumiku??

Bumiku, kau seakan mengungkapkan rasa marah yang tak habis-habisnya ke haribaan Negeriku Indonesia. Mungkin kau sudah sampai pada batas kejenuhanmu, melihat tingkah makhluk bernama manusia yang mendiamimu.

Kami yang dengan sombongnya menjarah pohon-pohon yang berada dihutanmu, sampai akar-akarnya tercerabut dari cengkraman perutmu. Yang kami dengar hanyalah suara gaduh nyanyian mesin pemotong kayu, sahut bersahut dari satu hutan ke hutan lain. Telinga kami seakan tuli mendengar cericit burung yang sudah berupa rintihan protes karena habitatnya yang semakin berkurang, atau malah laporan kekecewaan yang mereka laporkan kepadamu dalam tasbih,  bumi.

Tanpa perasaan bersalah terhadap generasi yang akan datang, walaupun sudah dicantumkan dalam Undang-Undang yang kami buat sendiri, bahwa semua yang ada diBumi Indonesia ini merupkan titipan anak cucu. Kami kalap, kami tak peduli.  Kami keruk bebatuan berharga dari perutmu, tanpa memikirkan rasa perih yang mencabik-cabikmu. Bahkan pasir-pasir pantaipun kami jadikan komuditi ekspor ke negara tetangga. Wajar kau marah, makhluk tak berperasaan macam apa yang mendiamimu ini.

Bumiku Indonesia, Merapi yang menancapkan kakinya di perutmu tak henti-hentinya memuntahkan lava dan awan panas ke wilayah sekitarnya, Merapi Meletus. Belum juga usai Merapi, lempeng yang berada di wilayah Sumatera terus bergeser yang menimbulkan gempa tektonik di kepulauan Mentawai 7,2 SR , yang disusul dengan muntahan air laut setinggi pohon kelapa menyapu daratan, Mentawai diterjang tsunami. Gunung-gunung berapi di bumiku Indonesia mulai batuk-batuk. Batuknya anak krakatau mulai meningkat tinggi dan mengeluarkan gas beracun. Entah bencana alam apalagi yang siap menunggu.

Oh bumiku, Indonesia adalah negeri tempatku berteduh, rakyatnya harus menerima semua amukan  kemarahanmu dengan sabar dan ikhlas, secara semua karena ulah tangan-tangan kami yang tak bertanggung jawab kepadamu.

Bumiku Indonesia yang dulunya kebanggan tidak akan kami biarkan hanya menjadi kenangan. Bumiku Indonesia berilah kami kesempatan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah kami perbuat, langkah awalnya mungkin dengan menghijaukan kembali bumi dengan pohon-pohon, membudidayakan hewan langka dengan habitatnya. Semoga kesempatan itu masih ada dan terlaksana. Pray for Indonesia, bangkitlah.

Indonesia Pusaka

by: Ismail Marzuki

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

00000OOO00000

Bumiku Indonesia, batuknya Gunung Sinabung di Sumatera Utara pada September 2013 lalu belumlah usai, banjir di beberapa daerah barulah mengering. Tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.50WIB kami sudah dikejutkan kembali oleh berita muntahan abu dari Gunung Kelud. Dan kabarnya lagi Gunung Papandayan di Garut juga sedang menggeliat dari tidurnya.

Iklan