Yang Penting Action


Saya mau share “Tidak Membumi”  tulisannya Isa Alamsyah di Komunitas Bisa yang sempat saya ikuti. Kenapa ingin mendokumenkannya di blog? Karena tulisan ini juga sangat menyentil saya.

Walaupun sudah sering membaca dan mendengar tentang anekdot tersebut. Tetapi pas dikirim dan membacanya sekali lagi, saya tetap aja langsung tersenyum. Saya jadi ingat akan kejadian yang dialami sendiri.

Diantara kejadian yang hampir mirip dengan anekdot yang akan dicatatkan itu adalah:

Anak Jauh Lebih Berani Bertindak

Waktu itu, ysalma lagi mau nyoba game online baru. Lagi serius-serius membaca panduan untuk memainkannya, junior yang ikut nimbrung dengan apa yang dikerjakan emaknya, ternyata juga  tertarik sama game yang tampilannya menarik mata itu.

“Mam, ku coba yaa”.

“ntar dulu, ini lagi dibaca cara mainnya”.

Si anak yang penasaran dan membacanya belum lancar itu sudah langsung aja klak-klik, nyobain mainin gamenya, dan berhasil ternyata. Hiks,,,. Saya masih sibuk membaca panduannya, anak saya sudah menikmati permainan game. Itulah anak-anak, mereka  selalu penuh dengan spontanitas. Belum sibuk dengan alasan dan takut ini itu. Yang penting Action.

Sedangkan emaknya, yang udah terbiasa dengan aturan yang dibuatnya sendiri atau aturan orang lain yang harus diikuti. Ditambah sudah menjadi kebiaasaan dari bangku sekolah hingga dunia kerja, sebelum memulai sesuatu, harus pelajari dulu work intsruction atau manual book nya ataupun teorinya, sebelum mulai melakukan sesuatu. Itupun juga masih diikuti dengan pikiran “gimana ya, ntar kalau ga berhasil”.
Ini tidak salah juga sih, namanya antisipasi semuanya diawal.

Terlalu takut salah atau gagal untuk melakukan/action, menghambat kita untuk bisa “memulai “sesuatu, bagaimana bisa kita tahu kalau kita itu bisa, secara kita tidak pernah “memulai”nya.

Orang Dewasa Banyak Alasan

Sama ketika pengalaman memulai pakai kerudung dulu. Padahal, orang tua sudah menganjurkan sedari saya tamat SD untuk memakainya. Sahabat-sahabat saya, semuanya juga berkerudung.

Saya selalu berkilah dengan alasan “aku akan jilbabin dulu hatiku, baru fisikku. Aku takut tidak bisa bersikap sesuai dengan pakaian yang ku pakai”.

Lamaaaa sekali saya dengan pemahaman seperti ini.

Padahal, ada hal yang kita harus memaksakan diri untuk memulainya. Apalagi untuk sebuah kewajiban. Hidayah itu bukan datang dengan sendirinya, tapi harus diusahakan. Setelah dipakai, banyak manfaat yang dirasakan. Diantaranya, perasaan jadi tambah adem ayem, secara malu sendiri dengan pakaian luarnya kalau masih emosian ga jelas. Kulit otomatis jadi sehat sehat karena terlindungi pakaian dengan baik dan iAllah sikapnya juga akan ikut menyesuaikan. Setidaknya mulut tidak bisa nyeplak sembarangan.

Banyak hal lain yang diaami soal sulitnya memulai hal baru.

Ahh, sudah panjang lebar cerita pengalaman saya sendiri tentang yang penting action. Anekdot yang bikin tersentil dan membuat saya bercerita banya itu yang ini nih :

Seorang guru besar yang mengusai banyak bidang pengetahuan sedang mengadakan diskusi ilmiah dengan para mahasiswa pasca sarjana unggulan dari berbagai jurusan yang berasal dari berbagai universitas ternama.

Setelah begitu lama berdiskusi tentang ilmu pengetahuan, sang guru besar melontarkan sebuah pertanyaan.

“Anda adalah seorang ilmuwan, ketika berjalan, Anda melihat kotoran sapi di depan, apa yang Anda pikirkan?”

“Wah kalau saya akan berpikir bahwa, kotoran sapi mengandung bio gas yang bisa membantu pembuatan pupuk kompos alami,” kata seorang mahasiswa pertanian.

“Kotoran sapi itu bisa jadi alternatif bahan bakar. Gas methane yang dihasilkan dari 40 kilogram kotoran sapi dapat digunakan untuk memanaskan kompor selama 6 jam,” jawab mahasiswa jurusan energi.

“Saya malah berpikir kotoran sapi bisa menjadi alternatif sumber energi listrik. Sebuah penelitian memperhitungkan bahwa kotoran yang dihasilkan oleh 10.000 sapi dapat digunakan untuk memberikan daya bagi 1.000 unit server computer”, ujar mahasiswa lain.

Singkat cerita, semua mahasiswa berlomba memberikan opini dan alasan, dan berharap bisa membuat impresi (kesan mendalam) buat sang guru besar.

Kemudian sang guru besar berdiri dan tersenyum.

“Tahukah Anda yang saya pikirkan ketika melihat kotoran sapi ada di depan saya?”

Semua mahasiswa diam menunggu sang guru besar melanjutkan kalimatnya.

“Saya akan berpikir untuk menghindari kotoran tersebut agar tidak menginjaknya. Percayalah, ketika itu benar benar terjadi, Anda juga akan berpikir sama seperti saya!”

Semua teori ilmiah dan alasan intelektual terbantahkan oleh jawaban sederhana dan memang faktual dilapangan.

Humor dan hikmah dari anekdot.

Salah satu masalah besar di negeri ini adalah terlalu banyak teori. Di negeri ini banyak orang pintar, sayangnya hanya sebatas teori.
Teori memang penting, tapi terlalu banyak teori malah berbahaya.
Terlalu banyak teori membuat kita mengawang-awang lupa dengan pijakan.
Kebanyakan teori membuat kita takut bertindak, karena terlalu banyak pertimbangan.

Jika tak memulai sesuatua, kapan kita akan tahu bahwa rencana itu bisa berhasil atau gagal. Kita juga tidak pernah tahu kendalanya dimana. Karena sebagus dan serapi apapun teori yang sudah dipersiapkan, ketika diaplikasikan akan terdapat beberapa penyimpangan dan perbaikan yang terus menerus. Bahkan bisa jadi ditengah jalan berbelok ke arah lain, tapi dengan tujuan akhir yang sama. Bisa saja hasilnya lebih baik dari rencana awal atau justru sebaliknya.

Orang bijak sering mengingatkan bahwa dengan sebuah kegagalan kau akan memahami dan belajar cara menemukan jalan keluar baru. Jika sering memulai sesuatu, saat gagal, kau setidaknya akan cepat bangkit lagi karena selalu percaya bahwa dibalik itu ada keberhasilan yang menunggu.
Yuk, Yang penting action!

Iklan