Bandung Kota Kenangan


Banyak teman-teman blog yang berasal dari Bandung ataupun yang sekarang berkuliah di kota Parahiyangan Parahyangan ini. Saya jadi teringat cerita saat masih muda dulu *sekarang juga masih berasa*, saat berpetualang yang boleh disebut kenekatan ala 2 cewek sok mau menghabiskan weekend di sepanjang Dago saat itu. Tanpa rencana yang matang, yang penting jalan. Kalau sekarang, anak muda memang harus sering jalan ya.

Hari itu Sabtu, saya sama sohib jaman kuliah ngobrol ngalor ngidul, “enaknya kita ke mana ya hari ini”. Mutar-muter Jakarta naik turun angkot, bus kota, mulai dari Jakarta Selatan sampai Jakarta Utara, udah bosan. Dari menyusuri jalan cacing hingga jalan tikus yang kita ketahui saat itu, udah ga seru lagi.

Akhirnya, tercetuslah ide untuk ke Bandung.

Tapi, kita maunya lewat jalur puncak, biar sekalian cuci mata dengan melihat pemandangan seru di sepanjang perjalanan yang bikin hati adem.

Berdasarkan info yang kita dapat, kalau mau ke Bandung lewat puncak, mulainya harus dari terminal Kampung Rambutan. Kita posisi ada di Bekasi. Demi bisa melewati jalur puncak, kitapun  bela-belain naik bus muter-muter ke Kampung Rambutan. Dapatlah bus yang diinginkan.

Saat itu, tepat waktu itu, sepertinya jenis kebiasaan langka bagi armada angkutan umum. Udah berangkatnya telat, nyampai dijalan, celingak celinguk lah lewat jendela, “lho-lho, ini kok rutenya aneh begini”. Ternyata, bus yang kita tumpangi tetap aja lewat Purwakarta, bukan lewat Puncak 😦 .

Jadilah, 2 pelancong lokal yang rada-rada ga mikir itu, ngomal ngomel dengan berbisik-bisik. Kalau ceritanya gini, ngapain bela-belain ke Kampung  Rambutan? Kita berdua baru tersadar, “ini kan Sabtu. Udah siang begini, mana boleh lagi bus naik lewat puncak? Apes.

Biasanya, kalau kita main ke Bandung, pasti anggotanya lebih dari 4 orang. Semua sudah terjadwal dengan baik. Kalau nginap, dibawah jam 9 malam, kita pastinya udah ngobrol ngalor ngidul di penginapan.

Tidak semua ide untuk melakukan sesuatu, tanpa rencana yang jelas, akan menghasilkan  output seperti yang diharapkan.

Akhirnya sampai juga di Bandung, tentunya sudah sore, walau begitu tetap sambil nyanyiin Hallo-Hallo Bandung di dalam hati,  kita langsung menuju arah Dago dan sempat shalat magrib di Masjid Salman. Menurut gambaran kita, ini daerah paling nyaman kalau dipakai buat wara wiri sampai malem oleh pelancong lokal kayak kita,  2 cewek manis, yang satunya jilbaban, yang satunya masih terlihat setengah badung. Jadi bakal amanlah, ga ada yang berminat ngusilin.

Kita berdua mau mengintip kehidupan malam Bandung itu sampai jam berapa. Rencana awal, kita tidak berniat untuk nyari penginapan, sehabisnya malem aja. Ntar, kita bisa terdampar nunggu pagi di Masjid, atau di Rumah Sakit terdekat, bergabung di aula penunggu pasien nginep sambil  nonton TV.

Ide  nekad dan gila kayak dua cewek yang tak bisa bela diri diatas jangan ditiru lho ya, tapi bisa dijadikan pilihan kreatif, kalau suatu saat temans mau jalan-jalan dengan budged yang udah menipis dan ada teman cowoknya. Bolehlah 😉 .

Dasar bukan pecinta petualang sejati, begitu lewat dari jam 9 malam, kita merasa asing sendiri di tengah kesibukan malam yang baru dimulai itu. Yang wara wiri saat itu adalah mereka yang “memiliki malem”.

Kita berdu mulai gerah sendiri, secara menggunakan kostum yang beda banget. Kita ga mau ditatap aneh dalam rasa curiga, “dua makhluk ini, yang satu jilbaban tapi keluyuran malem-malem. Mau nyari berita apa?” Mana yang papasan di jalan bajunya minim semua atau yang rambut hingga hampir semua badannya pakai aksesoris metal. Mereka sih pada cuek, kita mencoba tetap cuek juga.

Kita ga mengusik, jadi mereka juga ga bakal ngusik.

Tapi, akhirnya kita jadi mikir dan berdiskusi. Saat itu, adanya baru telpon umum, ga megang gadget. Berangkat ga pamitan sama sahabat yang lain. Bagaiman kalau ada apa-apa dengan kita berdua, dan tinggal nama aja. Mana kita lagi keluyuran ga jelas.

Akhirnya dua anak rumahan itu bergidik juga. Apa ga nangis darah orang-orang yang cinta sama kita? Ya elah, siapa coba? *lebay*.

Setelah berpikir ulang, kegiatan kita yang tujuan awalnya mau ngamatin denyut kegiatan malam Bandung, jadi bubar jalan. Kegiatan kita pun jadi berganti keluar masuk hotel, nyari penginapan yang pastinya sudah pada penuh, udah  jam 10-an malem. Mana bawaan cuma tas ransel gendong kecil doang. Kali kita berdua dikira gembel aneh, nyasar mau nyari penginapan, haiiyaa.

Belum nyampai putus asa, akhirnya kita dapat kamar juga di Patrajasa Hotel, udah jam 11-an malem lewat. Itu juga dengan di tatap aneh sama resepsionisnya. Check in udah mau tengah malam, dua cewek kucel, datang jalan kaki, tamu hotel yang lain datang minimal pakai taxi. Dalam hati pada bergumam, “tenaang mba, kita numpang sampai jam 5 pagi aja kok 😆 “

Malam itu, kita istirahat sambil nyengir kuda.

Esoknya, setelah sholat Subuh, kita check out. Melanjutkan jalan-jalan  ke alun-alun dan ngubek-ngubek Bandung nyari produk murah meriah, tapi kreatif. Dapat sandal yang sampai sekarang masih disimpan *ga pernah dipake. Karena beli berdasarkan keunikannya aja* Itu sandal, kalau pas dilihat, pasti ingat pengalaman jalan-jalan nekad, yang ga punya tujuan, yang akhirnya keder sendiri menghadapi pergantian siang dan malem. Ah, Bandung Kota Kenangan bagi saya dan teman-teman.

Setiap orang pasti punya ceritanya sendiri akan sebuah kota. Bagaimana dengan mu temans ?

Iklan