Totto chan (Gadis Cilik di Jendela)


Totto Chan (Gadis Cilik di Jendel) merupakan salah satu buku karangan Tetsuko Kuroyanagi. Buku ini saya dapatkan dari salah seorang teman, sebagai kado ucapan selamat atas bertambahnya pengalaman saya sebagai wanita yaitu dengan dikaruniai seorang putra. Alhamdulillah.

Teman saya itu masih kuliah, dia kebetulan magang ditempat saya kerja sebagai salah satu syarat dari kelulusannya nanti. Walau masih sebagai anak kuliah, ia juga suka memberi les tambahan bagi anak-anak SD dan SMP. Sepertinya dia ikut prihatin dengan dunia pendidikan saat ini.

Untuk menunjukkan kepeduliannya pada pendidikan anak-anak, salah duanya dengan memberikan buku yang berisi tema tentang memberikan pendidikan pada anak-anak bagi ibu yang baru melahirkan seperti saya.

Dengan membaca buku tersebut, teman saya sedikit berharap bahwa saya, termasuk salah satu ibu yang bisa memahami dunia anaknya sendiri.

Walau kita orang dewasa pernah menjadi anak-anak, kadang, setelah menjadi orang dewasa, kita seakan lupa dengan keceriaan, kegembiraan dan kesenangan masa kanak-kanak itu. Kita bersikap seolah-olah anak-anak adalah orang dewasa dalam bentuk mini. Kita lupa bahwa anak-anak belum pernah sekalipun mereka menjadi orang dewasa.

Orang dewasa tidak perlu banyak-banyak membicarakan larangan ini itu, cukup contohkan hal baik yang ingin ditanamkan pada anak, maka si anak yang peniru ulung akan mengikutinya dengan senang hati.

Saya mendapatkan buku ini sudah cetakan keenam (Feb, 2004) dan sudah terjemahan Bahasa Indonesia. Judul aslinya “Totto-chan: The Little at the WindowBuku ini menceritakan ulang pengalaman penulisnya (Tetsuko Kuroyanagi) dengan nama panggilan waktu kecil Totto-chan, dalam melewati masa-masa indahnya mengenal dunia luar selain rumah. Mengenal sekolah pertama kali, bersosialisasi dan keajaiban-keajaiban lain yang ia lakukan saat beradaptasi dengan dunia barunya itu. Sayangnya, menurut sebagian kacamata orang dewasa, dalam hal ini para guru, responnya terhadap lingkungan baru, termasuk dalam kategori kenakalan.

Walaupun buku panduan membesarkan dan memberikan pendidikan pada anak usia dini pada saat ini sangat banyak bertebaran, buku ini salah satu yang sayang dilewatkan untuk dibaca. Terutama bagi orang tua muda dan para guru serta pendidik.

Kita pernah jadi anak-anak dengan masa berbeda, tetapi anak-anak,Β  mereka belum pernah menjadi orang dewasa.

Totto-chan

Dalam buku ini diulas bahwa Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar akan semua hal yang menurutnya menarik. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung.

Karena para guru sudah tak tahan lagi dengan sikap Totto-chan yang berbeda dengan anak didik yang lain, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Mamanya, tidak pernah menyalahkan atau memarahi Totto-chan atas penilain guru sekolahnya itu. Karena Mama tahu bagaimana Totto-chan kesayangannya itu. Mama percaya anaknya mempunyai potensi istimewa dan harus berada ditempat yang bisa menggali keistimewaan itu.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen.

Disekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Anak-anak melakukannya seperti urutan permainan yang paling disukainya hingga selesai semua kelas pelajaran pada hari itu. Esoknya, mereka sudah tak sabar untuk menunggu pagi agar bisa berangkat ke sekolah, bertemu guru dan teman-teman, juga tempat mengasyikkan bernama sekolah.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.

Teman-teman, walau saya sudah membaca buku ini dari anak saya baru lahir. Tapi, saat dia menduduki taman kanak-kanak, dia juga mendapat cap dari guru termasuk anak nakal karena dianggap tidak bisa diam. Saat ibu guru berbicara ‘nakal’ di depan saya, saya sempat mengernyitkan alis dan memberikan komentar, “mungkin yang ibu maksud, anaknya kurang bisa duduk diam sambil melipat tangan kalau hanya mendengarkan ibu bercerita?” Ibu guru yang belum punya anak itu mengiyakan. Itu bukannya memang sikap umum dari anak-anak, bu? Bukan kenakalan. Si ibu juga sependapat.

Puncaknya, anak saya yang baru naik ke TK B di hukum di ruang kosong bersama satu temannya. Ibu guru yang menghukum kebetulan guru play group yang dulu merupakan guru favoritnya. Anak saya shok, hingga terbawa mimpi. Besoknya ga mau berangkat sekolah.

Karena baru tahun ajaran baru, masih ada sekolah bagus, tapi jaraknya lumayan jauh dari rumah yang membuka kelas percobaan beberapa hari. Saya membawa anak saya ke kelas percobaan tersebut. Di sekolah tersebut menerapkan belajar yang pindah-pindah kelas untuk setiap mata pelajarannya. Anak saya sangat antusias mengikutinya. Dia jadi murid yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru, karena memang di TKA di sekolah lama dia sudah diajarkan sebelumnya. Guru di TK percobaan itu sampai nanya dia TKA dimana sebelumnya. Anak saya dengan gembira menyebutkan nama sekolahnya *dapat promosi gratis pihak sekolah πŸ™‚ *

Kemudian saya datang ke sekolah yang lama, memberitahukan apa yang terjadi saat mengikuti kelas percobaan di sekolah lain yang jauh lebih favorit. Kepala sekolah TK yang lama dan guru bersangkutan minta maaf dan minta supaya jangan pindah, karena itu bisa berakibat pada nama baik sekolah. Tapi, anak saya masih belum mau berjabat tangan dengan guru yang menghukumnya.

Akhirnya, pihak sekolah memutuskan, ibu guru tersebut akan berkunjung ke rumah, khusus untuk menemui si anak dan menyampaikan permintaan maaf dengan suasana saat bermain. Anak saya akhirnya bisa tersenyum bersama lagi dengan ibu guru favoritnya itu πŸ˜€ *ngambeknya perlu perlakuan khusus*

Orang dewasa tidak bisa memberikan penilaian sama rata pada setiap anak. Memang ada kurikulum sebagai panduan, tapi hati nurani adalah penilain yang terbaik πŸ™‚ .

Iklan