[Pepatah Minang] Lamak di Awak Katuju di Urang dalam Bersosial


Kalimat lamak di awak katuju di urang bukan tentang enaknya rasa beragam makanan urang awak, Minang. Melainkan tentang pepatah Minang sebagai tuntunan membawakan diri dalam kehidupan sebagai makhluk sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Arti dan Makna Lamak di Awak Katuju di Urang

Dalam bahasa Indonesia pepatah Minang tersebut berarti, enak di kita, orang lain pun suka. Maknanya, kita dalam bersikap dan bertindak harus menakar segala sesuatu pada rasa diri dengan memposisikannya sebagai orang lain.

Dalam bahasa kekinian, melihat dari sudut pandang orang lain sebelum berbuat atau bertindak. Ada manfaat ga sama orang lain tindakan tersebut, minimal tidak ‘merugikan’.

Lamak di awak katuju di urang, sero samo sero

Merugikan di sini bukan tentang materi, tapi juga perasaan.

Seandainya orang lain yang melakukan apa yang akan kita perbuat, apakah kita akan senang, tersinggung, kesal, atau marah. Kalau sekiranya senang, silahkan dilakukan. Jika sebaliknya, bikin murka hati, yo jangan diteruskan niat tersebut. Orang lain juga akan merasakan hal yang sama.

Dengan kata lain, kita harus saling bertenggang rasa satu sama lain. Kebebasan diri yang kita miliki akan selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Jangan sampai orang lain terdzalimi oleh sikap kita, tapi kita tidak menyadarinya karena melupakan nasihat hidup dari tetua yang berupa pepatah ataupun peribahasa yang bukan hanya sekedar kiasan kata. Manusia memang tempatnya lupa dan khilaf, tapi jangan keseringan. Itu namanya kelakuan atau kebiasaan.

Artinya, hidup bukan suka-suka gue, karena hidup gue. Tapi kalau menyangkut ranah publik, itu juga ada gue-gue lain yang harus ditoleransi.

Contoh Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sekarang ini banyak tindakan yang nampaknya sepele, tapi sebenarnya banyak mengabaikan makna dari pepatah ini.

Contoh sederhananya, bagi yang suka menyetel musik kencang-kencang. Tapi melakukannya pada waktu-waktu istirahat, jam tidur siang, atau hari sudah malam. Memang yang disetel alat musik sendiri, di rumah sendiri, tapi suaranya terdengar hingga keluar rumah.

Yang nyetel musik sih suka aja, tapi kira-kira yang lagi butuh istirahat bakal senang ga? Pasti ngedumel kan?

Lain halnya kalau di waktu-waktu khusus, misalnya saat ada acara, tentunya sudah melalui proses ‘meminta’ izin sebelumnya. Atau sebuah kegiatan, sebuah rutinitas dalam kebiasaan umum, misalnya orang jualan lewat depan rumah, menawarkan dagangan dengan bantuan alat pengeras suara. Itu bagian dari usahanya mencari nafkah. Beda kasus.

Kalau ada yang ngedumel karena itu, orang yang mendengar mungkin sedang ‘galau’ #eh.

Contoh lainnya, misalnya senang punya halaman rindang dengan pohon yang daunnya lebat. Nah, kalau yang sesuai dengan pepatah di atas, jangan sampai daun-daun kering yang rontok dari pohon di halaman kita, jatuh ke halaman tetangga.

Kalau kita merasa capek menyapu halaman karena daun-daun tua yang luruh, tetangga juga sama. Makanya, pohon yang dimiliki harus dirapikan secara berkala.

Dahan dan rantingnya jangan sampai melewati kabel-kebel listrik, apalagi sampai melimpahkan sampah daun ke halaman tetangga. Jangan! Kalau ngirim buah matangnya, justru sangat dianjurkan.

Begitupun kalau mempunyai hewan peliharaan. Jangan sampai hewan peliharaannya buang kotoran ke rumah orang. Sebab, yang namanya hewan peliharaan, ya dipelihara, ga dibiarkan berkeliaran. Kalau peliharaannya memang perlu waktu ‘main’, hewannya harus didampingi tuannya..

Makanya ada aturan tidak tertulis, kalau sebuah hunian dalam kepadatan tertentu, dilarang pelihara hewan seperti ayam, kecuali dikandangin dan ayamnya ga keluyuran nyeker ke tempat lain. Kalau pun dikandangin, juga ada batasannya jumlahnya, ga banyak seperti peternakan, sebab kotorannya akan menjadi polusi udara pada lingkungan tempat tinggal.

Banyak contoh lainnya yang harus kita ingat bersama kembali saat bersikap. Kalau sedang ngobrol, jangan sambil main ponsel, apalagi sama orang tua, guru. Jika ngantri di mesin ATM, ingat antrian di belakang yang menunggu.

Kalau ga mau dibaikan, jangan mengabaikan. Kalau ga mau di ghosting, bertanggungjawablah. Jika ga mau dicari, berkabarlah.

Silahkan dicari sendiri contoh lainnya bagi anak muda sekarang yang mungkin sudah jarang mendengar petatah petitih dari orang-orang tua.

Kesimpulan

Manusia makhluk sosial, sampai kapan pun akan selalu saling berinteraksi. Agar sama-sama enak dalam melangkah, ingat selalu pepatah urang Minang, lamak di awak katuju di urang.

2 comments

Terima Kasih Untuk Jejakmu, Temans :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.