Terkesima Teknik Marketing di Dunia Nyata


Terkesima teknik atau cara marketing alias berdagang di dunia nyata yang membuat saya sempat bergumam, “pantesan saya ga berhasil-hasil berjualan di dunia nyata. Selalu ketinggalan beberapa langkah. Saya banyak merasa ga enak dan sungkannya.”

Ahh, sudah lah.

Akhirnya hanya bisa menghibur diri dengan kalimat sakti yang bisa menenangkan gundah, “walau berdagang merupakan 9 dari 10 pintu rezeki yang ada, tapi, tidak semua orang sukses melakukannya.”

Kejadian saya terkesima ini sebenarnya terjadi sudah di awal Februari. Hanya saja rasa malas yang mampir, sempat menguasai diri.

Teknik/Cara Marketing yang Membuat Terkesima itu seperti apa?

Cara ini merupakan hasil saya merunut kejadian yang saya alami kebelakang. Kemudian mengambil point yang menurut saya penting untuk dituliskan, agar saya ingat atau mungkin ada yang mau mencobanya šŸ˜† .

Siapkan Tema dengan Model Sosialisasi, dengan mengangkat Isu Terbaru Yang Beredar di Masyarakat

Misalnya, kanker serviks yang menyerang artis Julia Perez. Tentunya jangan lupa mempersiapkan surat pengajuan sosialisasi yang berkesan setengah resmi. Ada kops surat yang tertera alamat lengkap resmi *sosialisasi mana ada yang repot-repot bakal ngecek*. Tapi ditekankan kalau yang akan dilakukan ini bersifat independent.

Survey Perumahan Baru Yang Mulai Berpenghuni

Kalau bisa lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggal. Hingga dapat dipastikan belum ada yang mendengar sosialisai dengan tema yang diangkat. Kalau pun sudah ada tema yang sama, tinggal dicari tahu tingkat kesuksesannya.

Lakukan Pendekatan ke Pengurus Lingkungan Setempat.

Syukur-syukur bertemu pengurus yang kurang jeli dan tak banyak tanya. Sekali menyodorkan penawaran untuk ngasih sosialisasi bakal langsung diterima tanpa berbelit. Hingga dengan mudah masuk untuk persentasi di acara arisan ibu-ibu, perkumpulan bapak-bapak ataupun kader Posyandu.

Berpenampilan Sesuai Tema Sosialisasi Yang Diangkat

Kalau tentang kesehatan, lakukan pencitraan seakan anda juga orang kesehatan, setidaknya dari pakaian untuk penilaian awal.

Tetap Rahasiakan Tujuan Sebenarnya Hingga Benar-Benar Menarik Rasa Ingin Tahu Yang Hadir

Kalau ada peserta yang bertanya dari institusi atau organisasi apa, tetap bilang dari organisasi yang sifatnya independent. *Bohong kan repot*

terkesima-cara-marketing-di-dunia-nyata

Kejujuran bukanlah pagar besi ataupun hanya sekedar ucapan.

Contoh Kasus Marketing Berselubung Sosialisasi

Arisan ibu-ibu dilingkungan RW tempat saya tinggal berlangsung di awal bulan. Kebetulan saya kebagian jatah menyiapkan undangan.

Ibu pengurus memberitahu agar di dalam undangan nanti dicantumkan akan ada kegiatan “Sosialisasi Kanker Serviks dan Pencegahannya,” sembari memperlihatkan selembar surat yang diterimanya dari seorang ibu yang beberapa waktu lalu mendatanginya.

Surat itu berisi sedikit gambaran tentang giatnya pemerintah mensosialisasikan kanker serviks pada perempuan.

Saya sempat merasa agak janggal saat melihat surat itu. Di kepala surat ada tertera alamat perumahan, tapi dibagian penutup tidak ada nama dan tanda tangan pembuat surat atau organisasinya. Alamat yang tertera sebuah komplek perumahan yang saya tahu terletak di daerah Bekasi. Tapi, ibu pengurus bilang kalau orang yang sudah menemuinya itu mengaku alamat kantornya ada di daerah Jakarta. Nah lo.

Baca juga : Hati-hati dengan Iklan Indo Offers – Jangan Sampai Data Penting Anda Bocor.

Hmm, dari pada saya semakin dianggap ibu yang terlalu banyak ingin tahu alasan dibalik sebuah kegiatan. Saya memilih tidak bertanya lagi, tinggal membuatkan surat undangannya.

Sebelum hari arisan, ibu pengurus sempat WA, meminta pendapat apa pengurus perlu memberi uang transport pada orang yang nanti mau ngasih penyuluhan sebagai ucapan terima kasih.

Saya pun bersuara, itu terserah kesepakatan ibu pengurus di awal. Tapi, setahu saya, jika orang itu datang untuk menawarkan diri untuk melakukan sosialisasi, biasanya ada udang dibalik bakwan. Ada keuntungan yang akan dia dapatkan. Sebaliknya, jika pihak pengurus yang mengundang seseorang untuk mengisi acara, itu baru harus disiapkan kompensasinya.

Ternyata Menjual Produk

Karena ada acara yang dirasa ada ilmunya, arisan kali itu lumayan banyak yang datang dibanding sebelumnya.

Pengisi sosialisasi datang di sepertiga acara arisan dimulai.

Ternyata, ibu yang menemui ibu pengurus sebelumnya membawa seorang bapak yang terlihat berwibawa dengan menggunakan jas putih. Mirip jas seorang dokter.

Bapak ini membawa alat persentasi lengkap. Laptop dan mini proyektor.

Karena penyuluhan ini menurut saya sifatnya mewakili profesi atau organisasi tertentu. Saat si ibu memperkenalkan si Bapak yang diajaknya, saya sempat bertanya beliau-beliau dari organisasi apa. Jawaban si ibu, salah satu organisasi yang sifatnya independet. Kemudian buru-buru mau persentasi.

Baiklah.

Persantesi tentang kanker servik pun berjalan antusias.
Urainnya runut, mulai dari sebagai pembunuh nomer satu lengkap dengan data dan potongan siaran TV Nasional. Penyebab yang tidak diketahui. Bisa menyerang semua usia wanita. Hal-hal yang di duga sebagai pemicu, termasuk penggunaan pembalut yang membuat ibu-ibu yang mendengar jadi merinding. Juga dijelaskan orang-orang terkenal alias artis yang sudah terserang si kanker serviks.

Semua yang hadir semakin fokus mendengarkan penjelasan. Termasuk ibu-ibu yang mempunyai latar belakang pendidikan di bidang kesehatan.

Semua materi usai disampaikan.

Ibu-ibu yang hadir pada meringis membayangkan bahaya dan resiko kanker serviks. Termasuk saya.

Si bapak memancing dengan pertanyaan, apa ibu-ibu yang hadir tidak ingin tahu cara perawatan diri untuk mencegah terkena kanker serviks selain vaksin yang harganya lumayan ituh.

Tentu saja ibu-ibu serempak menjawab ingin tahu.

Si bapak pun tersenyum dan bilang kalau dia bukan jualan, tapi menawarkan jalan keluar bagi wanita yang peduli pada kesehatan bukan hanya kecantikannya. Si bapak pun menyebutkan produk yang bisa digunakan. Produknya itu selain bisa membersihkan juga bisa merapatkan miss V. Terbuat dari bahan alami.

Kalau ibu-ibu berminat, ia membawanya sekarang. Kalau pesannya belakangan akan terkena biaya tambahan.

Singkat cerita, ibu-ibu yang masih terpengaruh dengan cerita kanker servik pun pada membeli. Apalagi bisa dicicil.

Dagangan si ibu yang menemui ibu pengurus sebelumnya, yang merupakan downline si bapak pun laku keras.

Saya yang terkesima dengan akhir sosialisasi yang berujung transaksi jual beli produk, mendadak menjadi lapar dan kemudian memilih menyantap menu yang tersedia di arisan saat itu.

Dalam hati, sempat ada rasa kecewa. Gile, saya tidak mempersiapkan diri untuk ujung acara yang seperti ini. Ada perasaan merasa dikibuli. Mungkin ini efek dari bulan Februari Basah & hubungannya dengan curhatan emak-emak.

Tapi, sepertinya hanya saya yang merasakan hal tersebut. Atau ada juga ibu-ibu lain, tapi pada dalam hati aja šŸ˜† .

Agar tak begitu kecewa, saya sempat membathin.

Apa bedanya yang dilakukan si ibu dan si bapak yang berjualan produk itu dengan seorang blogger *termasuk saya tentunya* saat membuat sebuah postingan yang sifatnya soft selling?

Pikiran saya langsung melakukan pembelaan.

Kalau tulisan pesanan yang dibuat para blogger itu, bisa diketahui dari gambar yang menyertai tulisan ataupun ‘kategori’ tulisan itu ditempatkan, review, sponsored post ataupun advertorial.

Seorang pembaca teliti akan sudah tahu dari awal dia mulai membaca kalau tulisan itu bersponsor. Tidak ada yang merasa dibohongi karena telah menghabiskan beberapa menit waktunya untuk menyusuri kalimat demi kalimat.

Entahlah.

Marketing yang dilakukan si bapak dan ibu di acara arisan tersebut saya nilai sangat berhasil. Faktor penentunya karena mereka menyimpan rapat-rapat tujuan sebenarnya.

Padahal, salah satu dari ibu-ibu anggota arisan ada juga menjual produk yang sama. Tapi pemasarannya hanya menawarkan dari mulut ke mulut. Dan belum ada ibu-ibu yang berminat membelinya.

Oiya, sebelumnya juga ada yang melakukan penyuluhan dengan membawa-bawa kanker serviks, tapi masuknya tetap lewat pengurus lingkungan dengan melibatkan kader Posyandu setempat. Temanya pemeriksaan dini kanker serviks yang bisa langsung diketahui hasilnya. Yang berminat harus membayar lima puluh ribu saat pendataan.

Sebelum dilempar ke warga yang lain, beberapa perwakilan warga diundang untuk mendengarkan sosialisasinya. Saya datang agak terlambat. Penjelasan sudah dimulai. Saya pun berbisik ke teman sebelah duduk, mencari tahu dari organisasi apa yang ngasih sosialisasi, secara ibu-ibu ada yang manggil dia bu dokter. Jawaban yang saya dapat dari teman sebelah duduk hanyalah gelengan.

Saat ngobrol santai, saya pun mencari tahu. Secara yang akan dilakukan ini bukan kegiatan main-main, tapi menyangkut kesehatan organ intim wanita. Dan jika terdeteksi ada yang sakit, bakal berkelanjutan lama.

Ibu penyuluh memberi jawaban agak memutar, dia menegaskan bahwa tim kesehatan yang dipakainya nanti itu sudah biasa bekerja sama dengan Kedokteran UI, tapi bersifat independent *jidat aye mulai berkerut-kerut*.
Akhirnya si ibu penyuluh bilang kalau dia juga kader Posyandu di salah satu perumahan yang terkenal ke elitannya. Benar tidaknya, saya tidak tahu pasti, karena tidak melihat KTP nya.

Saya pun tak berminat mencari tahu lebih lanjut. Karena menurut saya, si ibu sedari awal membiarkan ketidak tahuan beberapa yang hadir tanpa penjelasan. Udah jelas-jelas ada yang memanggilnya dokter, apa susahnya dia memberitahu kalau sebenarnya dia bukan dokter.

Setelah pada tahu bahwa yang ngasih penyuluhan adalah kader Posyandu juga, terlihat wajah-wajah sedikit kecewa dan kehilangan semangat dari kader dan ibu-ibu yang hadir. Akhirnya acara yang direncanakan itu batal. Sempat juga terlaksana, tapi lewat pengurus lingkungan sebelah.

Belakangan diketahui kalau pemeriksaan dini kanker serviks model yang ditawarkan, kalau dilakukan oleh instasi resmi malah gratis.

Hati kecil mengingatkan, “Bukankah kejujuran itu hal yang utama dalam berdagang ataupun kehidupan?”

Ini hanya catatan saya yang terlalu ingin tahu, butuh penjelasan dan agak kurang bisa mengembek aja kalau sudah terlibat :mrgreen: .

Iklan