Masih Adakah Kerinduan Itu Di Hati


Di penghujung tahun 2016 ini, di bulan Desember, aku dan yang mengaku sebagai pengikutmu harusnya menjadikan sebagai momentum untuk bertanya, masih adakah kerinduan itu di hati.

Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun ini bertepatan dengan 12-12-2016, merupakan tanggal yang dianggap sebagai pengingat kelahiranmu wahai manusia Agung. Bukan sebuah perayaan pesta pora, tapi lebih kepada perenungan.

Sudahkah wasiatmu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sudahkah dua peninggalanmu dijadikan panduan hidup.

merindukan-fajar-ketika-jingga-diufuk-barat

Itu namanya rindu pada sesuatu yang tak dimiliki, tak mensyukuri apa yang sudah dipunya.

Masih banyak perbedaan pendapat tentang memperingati kelahiranmu ini.

Padahal aku yang minim ilmu dan hidup di akhir zaman juga mendengar bahwa kau berpuasa sunat di hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahiranmu.

Kau tahu keadaanku ku dan orang-orang di sekililingku saat ini?

Kami sibuk menepuk dada dengan mengaku menjadi pengikut yang paling benar, tanpa pernah mau duduk bersama untuk menyatukan persepsi.
Kami berpisah jalan hanya karena berbeda menafsirkan sesuatu.
Kami saling berpunggungan hanya untuk masalah yang bukan prinsip.
Kami saling tunjuk dan teriak dengan mengaku yang paling toleransi pada orang lain.

Bahkan,,,

Kami saling curiga pada mereka yang tak sependapat.
Yang ingin menyuarakan ketersinggungan dengan merapatkan barisan untuk sujud bersama, kami anggap ingin menguasai, cari panggung, ditunggangi ini itu. Sedihnya yang menuduh seperti itu, yang mengaku tahu tentang doktrin kitab suci juga. Pada sesama begitu penuh benci dan curiga, tapi pada mereka yang keseleo lidah memasuki yang bukan ranahnya begitu bersimpati.

Jika tidak bisa mencarikan jalan keluar, menunjukkan kebenaran, kenapa tidak diam saja? Sepertinya itu hal tersulit yang bisa kami lakukan.

Kami juga sangat mudah menyebarkan berita-berita yang judulnya menarik, di media sosial yang kami miliki dalam satu klik, karena merasa itu mewakili apa yang kami pikirkan. Kami tambahi beberapa kalimat pembuka yang isinya menyalahkan ini itu.

Kami tak pernah bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kami perbuat untuk perbaikan.

Kami yang mengaku kaum muda dan intelek, dengan bangga menepuk dada bahwa kami adalah kaum yang sangat mengerti toleransi. Sehingga kami mengikuti semua perayaan yang ada dengan mengatas namakan hidup saling berdampingan.

Kami linglung bahwa toleransi itu tidak saling mencampuri urusan keyakinan. Aku dengan keyakinanku dan aturannya, mereka dengan aturan dalam keyakinannya.

Kami juga dengan lantang berkata bahwa tak masalah siapapun yang jadi pemimpin, yang penting dia tidak korupsi dan bekerja giat.

Kami lupa bahwa kerbau yang membajak sawah pun tak pernah membelot, selagi ada arahan dan pendampingan yang dilakukan oleh pemiliknya untuk menyelesaikan pekerjaan.

Kami begitu mudah menghujat pemimpin yang tidak cukup dengan satu wanita pendamping sah.

Sebaliknya, kami begitu memaklumi jika yang berbeda budaya berganti-ganti pasangan hidup tanpa pernah sekalipun terikat pernikahan.

Kami sudah merasa cukup suci setelah panduan hidup bernama kitab suci itu dibaca dengan khidmat dan kemudian ditaroh di tempat yang bagus. Ia tidak boleh tercampur dengan bacaan lain apalagi diterapkan dalam hidup.

Kami yang perempuan juga menutup aurat, tapi kalau boleh jujur, dinilai dari tingkah laku yang ditampilkan, sebagian besar bukan karena itu sebuah kewajiban, tapi hanya sekedar mengikuti trend, menutupi lemak yang mulai mengelembung dimana-mana atau rambut yang sudah mulai menitipis dan memutih.

Ahh, jika harus melihat satu persatu apa yang kami perbuat hari ini, rasanya tidak cukup waktu untuk menuliskannya.

Malu?
Sepertinya rasa itu sudah lama tidak menghinggapi kami.

Wajar, saat menjelang kepergianmu kau begitu mengkhawatirkan kami.

Kami hanya mengaku-ngaku saja memiliki kerinduan padamu, dengan bershalawat. Padahal alasan sebenarnya agar nanti juga mendapat safaatmu. Tetap aja kami pamrih melakukan semuanya. Kapan kami benar-benar mau mempelajari ajaran Samawi yang sudah disempurnakan ini?

Mungkin nanti, setelah ada dihari pembalasan, baru kami benar-benar merindukanmu. Entahlah.

Iklan